
Bi Surti sebenarnya tahu apa yang sedang di alami oleh majikannya itu. Ia tahu saat ini Farah butuh teman untuk bercerita tentang masalah yang kini ia hadapi seorang diri.
"Nyonya kalau Nyonya ada masalah silahkan cerita saja ke Bi Surti, siapa tahu Bibi bisa bantu" Kata Bi Surti pura-pura tidak tahu tentang masalah rumah tangga majikannya itu.
"Bi aku benar-benar bingung, aku terjerat pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta. Aku harus bagaimana Bi?" Tanya Farah pada Bi Surti kini ia tak dapat membendung air matanya.
"Nyonya anggaplah ini nasehat dari Bibi selaku orang tua yang sudah berpengalaman dalam berumah tangga. Tugas seorang istri bukan hanya sekedar memasak, mengurus segala urusan suami, tetapi juga siap melayani kebutuhan suami lahir dan batin". Kata Bi Surti dengan bijak.
"Seorang istri yang tidak pernah menganggap suaminya itu tidaklah benar. Apalagi tidak mau memenuhi kebutuhan biologis suaminya itu sangatlah berdosa. Bibi pernah mendengar ceramah dari salah seorang Ustadz katanya begini: Seorang istri yang tidak mau digauli oleh suaminya, jangankan surga bau surga pun tidak tercium olehnya. Hanya saja Bibi tidak tahu dalilnya. Tapi begitulah ceramah yang Pernah Bibi dengarkan nak. Bibi Tau Nyonya Farah tidak mencintai Tuan Dimas. Tapi Nyonya Farah seharusnya sadar bahwa kewajiban Nyonya Farah sebagai seorang istri harus sepenuhnya dilakukan. Membuat suami merasa senang, nyaman, apalagi membuat pasangan kita merasa bahagia itu adalah pahala bagi seorang istri" Jelas Bi Surti panjang lebar.
"Tapi Bi sampai saat ini aku belum bisa menerima Mas Dimas" Kata Farah sambil tertunduk.
"Nyonya Farah coba bukalah pintu hati Nyonya. Bibi yakin perlahan tapi pasti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Nyonya hanya butuh waktu untuk memantapkan hati saja. Bibi yakin pasti di hati kecil Nyonya ada rasa bersalah pada Tuan Dimas tapi Nyonya terlalu egois untuk mengakuinya" Kata Bi Surti yang berusaha untuk memberikan pemahaman kepada Farah.
"Iya Bi Surti, Bibi benar terkadang aku merasa kesepian di saat Mas Dimas mulai dingin dan cuek padaku. Tapi aku malu untuk jujur dengan perasaanku. Karena aku sendiri masih merasa risih saat Mas Dimas hendak mendekatiku" Jawab Farah yang mulai terbuka akan perasaannya yang sebenarnya.
Kini Farah merasa sedikit lega saat bercerita pada Bi Surti perihal rumah tangganya yang tidak harmonis. Ia yakin Bi Surti bisa di percaya sehingga ia berani untuk terbuka mengenai hal yang sangat bersifat privasi.
"Sekarang Nyonya Farah hanya cukup berdoa semoga Allah membukakan pintu hati Nyonya Farah untuk Tuan Dimas. Karena keharmonisan rumah tangga itu adalah bagaimana menjalin hubungan suami-istri yang sempurna. Dan Bibi yakin bahwa Pak Rendi tau bahwa Tuan Dimas adalah lelaki yang baik yang bisa mendampingi Nyonya Farah setelah Pak Rendi pergi untuk selamanya" Kata Bi Surti dengan sangat bijak.
Sejenak Farah terdiam, ia berusaha mencerna kata-kata Bi Surti. Farah mulai sadar bahwa Rendi tidak akan mungkin mau memilih Dimas kalau ia tidak yakin bahwa Dimas mampu untuk membahagiakan Farah.
"Mungkin Bi, mungkin saja Mas Rendi berpikir kalau Mas Dimas pantas untuk menjadi pendampingku. Nantilah Bi aku hanya ingin menata hatiku dulu. Kalau aku yakin sudah menemukan jawabannya, pasti aku akan secepatnya mengambil keputusan" Jawab Farah.
__ADS_1
"Bibi harap juga begitu, tapi jangan lama-lama karena keburu Tuan Dimas belum berubah pikiran. Ingat Nyonya, Tuan Dimas itu punya segala kelebihan yang membuat wanita di luar sana klepek-klepek padanya" Ucap Bi Surti dengan tersenyum pada majikannya itu.
Farah mendengar hal itu hanya tersenyum kecut menanggapi kata-kata Bi Surti yang memang ada benarnya.
Begitulah Farah ia memang sedikit keras kepala, itulah sifat aslinya. Ia tidak akan mudah percaya dengan seseorang apalagi ini menyangkut hati. Tidak mudah baginya untuk kembali membuka hati pada lelaki yang sudah buruk di matanya setelah kejadian di masa lalu.
Farah memang sangat egois mengenai hal ini. Cintanya yang terlalu besar pada Almarhum Rendi membuat ia tidak mampu berpaling lagi. Perjuangan Dimas tidak berarti apa-apa baginya. Karena sampai saat ini Rendi lah yang akan selalu ia anggap sebagai hadiah terindah dari Tuhan untuknya. Walaupun kini Rendi sudah tidak ada lagi.
Sementara di tempat Angga!
Kehangatan pasangan pengantin baru masih sangat terasa diantara Angga dan Desi. Keduanya masih belum rela untuk berjauhan.
Pagi itu Angga nampak sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Pagi sayang" Sapa Angga pada istrinya.
"Pagi Mas" Jawab Desi dengan suara paraunya.
Tak terasa seminggu sudah usia pernikahan mereka.
"Mas, apa Mas akan berangkat ke kantor hari ini?" Tanya Desi dengan suara manjanya.
"Iya sayang, aku kan sudah seminggu liburnya. Sebenarnya aku belum mau meninggalkanmu sendirian disini. Rasanya aku tidak sanggup berpisah denganmu, rinduku ini seperti tidak ada habisnya. Hanya saja kerjaan di kantor pasti banyak yang numpuk. Aku juga merasa tidak enak kalau semua kerjaan ku harus di hendel oleh Adi asistenku. Ya walaupun aku tahu Adi adalah asisten terbaikku tapi biar bagaimanapun aku tetap tidak boleh mengandalkan dia terus" Kata Angga yang sedikit memberikan penjelasan pada Desi.
__ADS_1
"Mas aku juga nggak apa-apa kok, kerjaan kamu juga lebih penting. Aku tidak ingin ada masalah dengan kerjaan di kantor. Aku tidak mau orang tuamu kecewa denganmu Mas" Jawab Desi dengan bijak pada suaminya itu.
Sejenak Angga berpikir bahwa sebaiknya ia mengambil seorang Asisten Rumah Tangga yang akan membantu pekerjaan rumah dan menemani Desi dirumah.
"Sayang, bagaimana kalau kita ambil ART biar ada yang membantumu dirumah dan menemanimu saat aku ke kantor?" Saran Angga.
"Mas bukannya aku menolak saran darimu hanya saja aku merasa lebih nyaman berdua denganmu. Lagian aku juga bisa kok mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Walaupun aku terlahir sebagai seorang anak tunggal, tapi aku tidak semanja anak-anak yang lain" Kata Desi membanggakan dirinya sendiri.
"Memang istriku ini bidadari yang Allah titipkan untukku" Angga kembali mengecup kening Desi.
"kalau begitu aku bangun dan menyiapkan sarapan untuk suamiku yang tercinta ini" Kata Desi sambil tersenyum.
Ketika Desi hendak berdiri, Angga malah menarik tangannya sehingga tubuh Desi terjatuh dalam pelukan Angga.
"Apaan sih Mas" Kata Desi agak kesal.
"Sayang, tapi akunya mau sarapan ini dulu" Kata Angga sambil menunjuk payudara Desi.
' Mas.
Desi sedikit berteriak.
"Apa nggak bosan-bosannya yah, aku capek Mas. Tubuh aku juga butuh energi" Kata Desi memelas.
__ADS_1
"Baiklah sayang kali ini aku mengalah darimu, tapi nanti malam kita lanjutin lagi yah" Jawab Angga.
Desi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.