
Desi yang mendengar celotehan Angga pun memukul lengan Angga dengan kuat.
“Ih, ngga lucu tau. Kita pulang yuk”
Di dalam mobil mereka saling bertatap-tatapan sambil senyum-senyum layaknya orang yang lagi jatuh cinta. Kedua insan itu sedang kasmaran.
Tanpa sadar mereka pun sampai di halaman rumah Desi
“Aku turun di sini saja Tuan”. Kata Desi.
“Eits ngga boleh aku harus antar kamu sampai dalam rumah dan satu lagi jangan panggil aku Tuan., panggil mas saja itu lebih enak di dengar”.
Setelah Desi masuk rumah Angga berpamitan kepada kedua orang tua Desi.
“Desi ayah mau bertanya sebenarnya Angga itu siapa sih, apa dia kekasihmu?” Tanya Ayah Desi.
Belum sempat Desi menjawab ayahnya langsung berkata.
“Cukup hari ini Angga dan kamu keluar berduaan karena ayah tidak suka. Tadi ayah izinkan karena ayah takut nanti Angga kecewa tapi besok-besok tidak ada lagi izin buat kalian berdua”. Jelas Ayah Desi dengan tegas.
“Loh kenapa bisa begitu yah?” Protes Desi.
“Kamu sendiri kan tahu dulu Ayah dan pak Yusuf sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Farhan anaknya nanti setelah nak Farhan lulus kuliah S2 nya baru setelah itu keluarga pak Yusuf datang untuk melamar kamu”. Jelas Ayah Desi.
Bak di sambar petir hati Desi sangat sakit dan bagai di sayat sembilu. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya itu. Setelah menyampaikan kabar itu ayah Desi berlalu meninggalkan Desi yang masih terpaku.
“Tidak ayah ini tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Aku sudah memberikan hatiku untuk lelaki yang paling aku cintai”. Desi bergumam dalam hati rasanya ia ingin berteriak meluapkan perasaannya.
Desi berdiri dan langsung masuk kamar. Di dalam kamar Desi menangis sejadi-jadinya dia tidak habis pikir dengan keinginan orang tua nya itu.
“Ayah mengapa baru sekarang ayah beri tahu tentang masalah ini. Dulu aku pikir semua itu hanya sebuah candaan mengapa ayah menerima perjodohan ini tanpa bertanya bagaimana dengan hatiku”. Lagi-lagi Desi menumpahkan semua itu dengan air mata.
“Lalu bagaimana dengan Angga? aku harus beri tahu ini pada Angga”. Desi berteriak untuk meluapkan emosinya.
Di tempat tidur Angga masih senyum-senyum mengingat kejadian tadi. Tingkah konyol Desi yang menyuruhnya membelikan pembalut .
“Ah itu anak polos banget tapi aku suka. Desi kira-kira sekarang ini kamu lagi ngapain yah?” Angga terus memikirkan Desi dan akhirnya ia pun terhanyut dalam mimpi indahnya. Sementara Desi masih sibuk merenungi nasibnya.
Sementara di tempat lain Dimas tidak sengaja bertemu dengan Rendi.
“Hello pak Rendi apa kabar?” Sapa Dimas
__ADS_1
Mereka tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.
“Baik pak”. Jawab Rendi dengan ramah
“Boleh kita bicara sebentar pak Rendi?” Tanya Dimas.
“Ah iya boleh pak di mana tempatnya?” Tanya Rendi.
“Kita cari tempat yang lain saja, kita bicara di depan sana mungkin di situ ada tempat untuk duduk dan berteduh”. Kata Dimas sambil menunjuk ke depan.
Rendi hanya bisa mengikuti langkah Dimas dari belakang.
“Ayo duduk pak Rendi”. Kata Dimas
“Baiklah pak Rendi tidak usah basa-basi”. Ucap Rendi.
“Maksud aku mengajakmu kemari, aku ingin membicarakan tentang Farah”. Kata Dimas.
“Maksud pak Dimas?” Tanya Rendi penasaran.
“Aku mau kamu tinggalkan Farah , serahkan Farah kepadaku aku sangat mencintainya”. Dimas menatap Rendi menanti jawaban.
“Aku tahu pak Rendi. Tapi biarkan Farah hidup bersamaku, aku sudah melakukan kesalahan besar kepadanya. Aku tahu tak ada cinta di hati Farah buat aku tapi aku yakin cepat atau lambat cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, jika kami berdua menikah”. Kata Dimas penuh yakin.
Sepertinya Dimas sudah di buta kan cinta sehingga ia tak memperdulikan lagi tentang harga dirinya.
“Pak Dimas, asal pak Dimas tahu kami saling mencintai bahkan cintaku kepada Farah itu lebih dari segalanya. Walau pun aku tahu tentang masa lalu nya yang kelam itu. Aku menerimanya dengan tulus, apa adanya”.
“Justru aku mohon sama Bapak berhentilah mengejar Farah. Farah juga sudah memaafkan pak Dimas sejak lama. Kalau pak Dimas benar-benar mencintai Farah ikhlaskan dia untukku. Pak Dimas sudah mendapatkan kesucian dirinya. Biarkan aku yang memiliki kesucian pada hatinya”. Jelas Rendi panjang lebar.
Mendengar kata-kata dari Rendi, Dimas justru lebih ambisi untuk mendapatkan Farah.
“Tidak perlu Rendi apapun caranya Farah harus jadi milikku”. Kata Dimas kekeh.
“Terserah pak Dimas mari kita bersaing secara sehat. Kalau Bapak benar-benar mencintai Farah dapatkan dia dengan cara yang mulia. Dan satu lagi kalau Farah jadi jodoh Bapak aku harap tak ada air mata untuk Farah.Mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan cintanya Farah. Aku permisi pak Dimas aku mau pulang”.
Setelah mengatakan hal itu Rendi melangkah pergi meninggalkan Dimas dalam kegalauan.
Setelah menemui Dimas, Rendi berfikir untuk menemui Farah calon istrinya itu. Ia pun langsung menelfon Farah.
“Halo Assalamu’alaikum, Farah kamu dimana sekarang?”
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam ini lagi di rumah mas, ada apa?”
“Aku jemput kamu yah, aku mau ajak kamu jalan-jalan”
“Oke. Aku siap-siap dulu" Kata Farah sambil menutup telfonnya.
Beberapa saat kemudian Rendi sampai di rumah Farah!
“Sayang sudah siap?” Tanya Rendi.
“Iya sayang, ayo”.
Rendi pun langsung melajukan motor matic nya ke sebuah tempat yaitu tempat di mana Farah menerima cinta Rendi. Mereka berdua sekarang ada di sebuah taman.
Farah begitu menikmati angin yang berhembus dengan lembut. Ia pun mulai membuka pembicaraannya.
“Mas Rendi boleh ngga aku minta izin sama mas aku mau membuka tempat menjahit di samping rumah lama-lama aku merasa bosan di rumah sendiri mumpung aku punya sedikit keahlian dalam menjahit. Yah apa salahnya kalau aku mencoba membuka bisnis itu? Kata Farah dengan penuh semangat.
Melihat semangat Farah mana bisa Rendi menolak keinginan kekasih tercintanya itu.
Boleh sayang yang penting ingat satu hal, kamu ngga boleh capek-capek. Kata Rendi mengingatkan.
"Terima kasih Mas".
"Apa kamu sudah makan Ra?"
"Sudah Mas aku sudah makan. Sebentar lagi waktunya maghrib kita pulang aja yuk". Kata Farah sambil menarik tangan Rendi.
"Bagaimana kalau kita sholat maghrib bersama di rumahmu?" Usul Rendi.
Mata Farah langsung melotot melihatnya.
"Hah mana bisa, kita kan belum sah jadi suami istri". Protes Farah
"Makanya Ra aku sudah tidak sabar menantikan waktu indah itu. kita bisa sholat bareng, ngaji bareng, makan dan tidur bareng". Kata Rendi di sertai dengan tawa khasnya.
"Ih modus ujung-ujungnya, dasar mesum". Ucap Farah tersipu malu.
"Ra, minggu depan aku mau mengajak kamu untuk keliling kota. Mau ngga? Tapi kita hanya naik motor biar lebih mesra gitu". Gombal Rendi.
"Ihh apaan sih Mas semakin kesini Mas semakin genit deh". Wajah Farah langsung memerah menahan malu.
__ADS_1