
Dua jam berlalu, dan Melati masih betah membelalakkan matanya demi menunggu sang suami. Namun pada akhirnya ia menyerah juga.
Bukan karena mengantuk, tapi karena ia merasa jenuh dengan kesendiriannya menunggu tanpa sebuah kepastian.
Tanpa pikir panjang, Melati pun memutuskan untuk keluar kamar dan menemui sang suami. Namun baru saja ia turun dari ranjang, ternyata Reyhan juga tengah memasuki kamar mereka.
Keduanya saling bersitatap. Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka. Hingga Reyhan memutuskan masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Tak berselang lama, Reyhan keluar dengan kaos oblong putih dan celana pendek selutut. Ia terlihat begitu fresh dan wangi.
Namun bukannya ikut duduk ataupun berbaring di ranjang bersama Melati, Reyhan malah langsung melangkah keluar kamar mereka.
"tunggu mas" teriak Melati mencoba menghentikan langkah suaminya
Dan benar saja, Reyhan langsung berhenti meski tanpa menoleh dan tanpa bersuara.
"mas, kemarilah, aku ingin berbicara sesuatu padamu"
"bicaralah, aku tak punya banyak waktu" sahutnya dingin
"apa? tak punya banyak waktu? memangnya mas mau kemana? apa waktu semalaman ini tak cukup untuk mas mengabaikan dan mengacuhkanku?" sahut Melati nampak emosi
"lalu aku harus bagaimana? apa aku harus selalu ada di samping istri yang suka menuduh dan memfitnah mertuanya?"
"ya Allah mas, teganya kau menyalahkanku atas semua kenyataan yang aku lihat? kau bahkan selalu menyalahkanku atas semua yang terjadi pada ibu"
"lalu siapa lagi yang harus di salahkan selain kamu?"
"kau selalu menganggapku berbohong tanpa mau menyelidiki bagaimana kebenarannya"
"Melati.. Melati.. kebenaran apalagi yang harus kita buktikan dari ibu? bukankah jelas jelas kau juga melihat sendiri bahwa ibu memang tidak bisa berjalan?"
"mas! lalu aku harus bagaimana?"
"minta maaflah pada ibu"
__ADS_1
"tapi kan__"
"minta maaf atau hubungan kita akan tetap seperti ini"
"baiklah! aku akan minta maaf pada ibu"
Melati menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Akhirnya ia harus mengalah demi memperbaiki hubungannya dengan sang suami meski dirinya harus meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Reyhan hanya tersenyum tipis menatap wajah cantik istrinya sebelum ia pergi melangkah keluar kamar.
Dan benar saja, setelah Melati meminta maaf pada sang ibu, Reyhan mulai bersikap baik pada Melati. Walaupun masih belum banyak bicara seperti biasa, namun Reyhan tak lagi acuh pada istrinya.
Dan sudah dua hari ini Reyhan selalu pulang tepat waktu. Ia sudah tidak lagi pulang larut malam. Bahkan Reyhan juga sudah mau makan bersama Melati dalam satu meja makan.
"mas, mau tambah lagi?" tanya Melati saat melihat nasi di piring Reyhan sudah ludes termakan
"tidak, aku sudah kenyang"
"apa ibu mau tambah?" Melati berpindah tanya pada sang ibu mertua
Karena tak ada yang mau tambah, Melatipun membereskan meja makan. Namun baru saja ia selesai membereskan meja makan tersebut, tiba tiba saja terdengar teriakan dari suara cempreng yang sangat ia kenal.
"papa.. nenek.." teriak Reyna sembari menenteng dua kotak kardus yang sudah pasti isinya makanan
Melati hanya terbengong di ambang dapur. Bukan karena suara cempreng dari Reyna, melainkan suara lembut dari seorang wanita yang tengah datang bersama anak tirinya tersebut.
"bu, ini untuk ibu" ucap seorang wanita dengan suara lembutnya
"wah.. ini kelihatan enak sekali.. apa kau yang membuatnya?" tanya ibu Sarah
"iya bu, aku sengaja buat kue ini untuk ibu. Bukankah ibu sangat menyukai bolu gulung coklat?"
"ya, benar. Ternyata kau sangat mengingat kesukaan ibu"
"tentu saja, mana mungkin aku melupakan ibu. Aku sangat menyayangi ibu seperti ibu kandungku sendiri"
__ADS_1
"Prilly" Ibu Sarah langsung mendekap erat tubuh Prilly
"nenek.. kenapa nenek hanya memuji tante Prilly? aku juga ikut membuat kue itu loh" potong Reyna dengan sedikit cemberut
"oh ya? apa benar kau bisa membantu?" tanya Reyhan penasaran"
"papa.. tentu saja aku bisa"
"papa kira kau hanya bisa makan dan menghabiskan uang saja"
"ih.. papa ini jahat banget deh! coba aja tanya sama tante Prilly. Iya kan tante?"
"iya Rey, bener kok. Reyna bahkan datang kerumahku sejak pagi pagi sekali"
"oh ya? wah... ternyata anak papa ini sudah pinter ya"
"tentu saja papa" Sahut Reyna sembari memeluk sang papa dengan manjanya.
Sementara Melati, ia hanya menyaksinkan interaksi antara suami, anak tiri, dan mertuanya yang terlihat begitu dekat dengan seorang wanita yang bernama Prilly tersebut.
Hati Melati bahkan terasa sesak saat melihat Suami dan Ibu mertuanya menyantap bolu gulung coklat dengan begitu lahapnya.
Bagaimana tidak sakit hati? Bukankah suami dan ibu mertuanya itu baru saja makan dan memgatakan sudah kenyang? bahkan hanya untuk mencicipi buah yang sudah ia kupas saja sudah tidak mampu.
Lalu mengapa mereka malah memakan bolu itu? makanan yang jelas jelas bisa membuat perut mereka menjadi lebih kenyang?
Mungkin karena Melati terlalu senang bisa memperbaiki hubungannya dengan sang suami, Melati bahkan lupa niatnya untuk menanyakan tentang wanita yang bernama Prilly tersebut.
Mas.. ibu.. sebenarnya siapa wanita itu?
Mengapa kalian begitu menjaga perasaannya?
.
.
__ADS_1