
"selamat siang pak direktur"
"Saka? ngapain kesini? bukankah ini masih jam pelajaran? bolos ya?"
"Saka itu kan anak baik dan tidak sombong, mana mungkin bolos sekolah"
"lalu?"
"aku tu hanya absen doang"
"absen dengan keterangan alfa maksutnya? itu sih sama aja bolos dudul"
"hehe..." Saka hanya dapat tersenyum meringis memperlihatkan deretan gigi rapinya
"aku aduin ke nyonya Kejora tau rasa kamu"
"jangan dong"
"hh.. ya udah sini duduk! ada urusan apa kau kemari? tumben banget!"
"gimana malam pertamanya mas bro? sukses?" bisik Saka tepat di telinga Bobby
"Eh! dasar bocah semprul! ngapain juga tanya tanya hal begituan"
"eleh.. bilang aja sukses. iya kan?"
Bobby hanya diam sembari menyeruput sebatang rokok ditangannya
" "bener kan apa kataku? seorang lelaki itu bisa meniduri wanitanya tanpa rasa cinta" lanjut Saka sembari mendudukkan dirinya di sofa
"hhmm... ya iya sih, kau benar! aku bisa melakukannya meski awalnya sangat sulit"
"gitu aja kok sulit, tinggal buka, masukin, dorong cepat, lalu cetak golnya deh"
"sembarangan kalo ngomong!" Bobby menonyor pundak Saka "tapi aku jadi penasaran deh! sepertinya kau sangat berpengalaman sekali. Jangan jangan pacar mahasiswimu itu udah ngeracunin otakmu ya? oh atau jangan jangan kalian sudah..."
"ngawur! mana berani aku malakukan hal terlarang seperti itu"
"lalu dari mana kau tau tentang hal itu?"
"aku ini lelaki cerdas, tanpa di beritahu oleh siapapun, aku bisa mengambil semua kesimpulan"
"termasuk hal vulgar?"
"kenapa tidak"
"hh.. aku jadi sangat percaya padamu"
"percaya apa?"
"percaya kalau kau anak yang cerdas"
"alasannya?"
"kau begitu percaya diri mengatakan kalau dirimu itu sangat cerdas, dan setelah aku percaya padamu, kenapa kau malah menanyakan alasannya?"
"tentu saja aku ingin tau alasannya. Aku penasaran, kenapa kau mudah sekali percaya padaku"
__ADS_1
"ya, kau memang sangat cerdas, aku percaya padamu, dan karena saking cerdasnya dirimu, kau bahkan mampu mengeluarkan jurus jitu untuk memacari wanita perfect yang usianya bahkan dua tahun lebih tua darimu"
"haa.. haa.. haa.. itu adalah kelebihan dari seorang Saka yang tidak dimiliki oleh lelaki lain, termasuk playboy sepertimu. haa..."
"sial*n!"
Ya, Saka memang dekat dengan Bobby sejak dulu. Laki laki tampan yang masih duduk di bangku XII SMA itu sudah menganggap mantan pengawal ibunya seperti seorang kakak.
Kedekatan mereka bahkan membuat keduanya tak bisa memiliki rahasia apapun diantara satu sama lain.
Bobby bahkan menjadi satu satunya orang yang menjadi pembela saat orang tuanya tak merestui ketika Saka ingin menjalin hubungan asmara bersama dengan seorang wanita yang lebih tua darinya.
...***...
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun. Kini tepat satu tahun pernikahan Bobby dan Melati.
Dan sore ini, Melati sengaja memasak makanan spesial untuk merayakan anniversary pernikahan mereka. Dan Melati juga sudah memutuskan untuk tidak lagi mengkonsumsi pil kb.
Ya, Selama satu tahun ini, Melati memang selalu mengkonsumsi pil kb, bahkan sejak malam pernikahan mereka berlangsung.
Bukan karena Melati tak ingin memiliki anak dari Bobby, tapi ia merasa belum siap jika ia harus memiliki anak dari laki laki yang ia belum kenal betul bagaimana pribadinya. Meskipun laki laki itu adalah suaminya.
Ya, Melati takut jika ia sudah memiliki anak, dan Bobby ternyata masih seorang pemain wanita. Ia takut sakit hati kembali jika nanti Bobby sewaktu waktu akan meninggalkan dirinya dan anaknya demi wanita lain. Ia masih belum sanggup merasakan sakit kembali atas penghianatan seperti apa yang dilakukan oleh mantan suaminya dulu.
Karena selama satu tahun ini ternyata Melati tak melihat lagi sifat playboy dari Bobby. Dan yang dirasakan hanyalah penjagaan dan perhatian yang begitu besar dari suaminya itu.
Maka Melati memutuskan untuk menyudahi pemakaian pil kb. Detik ini juga, ia sudah memantapkan hati dan menyiapkan diri, ia benar benar sudah siap untuk memiliki anak dari Bobby.
Setelah selesai memasak, Melati segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun indah yang ia beli siang tadi.
Satu jam berlalu, dua jam, bahkan sudah tiga jam ia lewati hanya dengan mondar mandir kesana kemari di seputar ruang tamu.
Melati benar benar merasa hawatir, karena tidak biasanya suaminya lembur tanpa memberi kabar terlebih dulu padanya.
Sebelum Melati pergi, Ia terlebih dahulu menghubungi Veronica untuk meminta tolong agar menjaga Miko sedikit lebih lama lagi karena mungkin ia akan terlambat menjemput putranya tersebut.
"ada apa nyonya? kenapa anda ke Kantor malam malam seperti ini?" tanya security kantor
"ah iya pak, apa malam ini kak Bobby lembur?"
"Bobby siapa nyonya?"
"maksut saya kak Morgan"
"oh.. pak Morgan, beliau sudah pulang sejak siang tadi nyonya"
"pulang? benarkah? tapi mengapa kak Morgan belum sampai rumah"
"soal itu saya tidak tau nyonnya, tapi di dalam kantor sudah tidak ada seorangpun. Sepertinya memang tidak ada lembur hari ini"
"bapak yakin kalau kak Morgan sudah pulang?"
"yakin nyonya"
"tapi kenapa mobilnya masih ada di situ?" tunjuk Melati pada sebuah mobil putih yang terparkir yang ia yakini adalah mobil milik suaminya.
"ah iya, tadi siang pak Morgan itu perginya seperti buru buru. Beliau pergi satu mobil dengan wanita yang menjemputnya"
__ADS_1
"wanita? apa bapak tau siapa wanita itu? "
"maaf, saya tidak tau nyonya. Saya hanya melihat sekilas wanita itu. Orangnya cantik, tinggi, putih, rambutnya pirang sebahu"
deg
Kemana kak Bobby?
Apa kak Bobby punya seorang kekasih?
Apa sekarang kak Bobby sedang bersama kekasihnya?
Apa kak Bobby mulai bosan denganku?
Apa kak Bobby juga akan menghianatiku seperti yang mas Reyhan lakukan dulu?
Aku takut.. aku belum siap..
Melati terdiam. Hatinya benar benar sedang di landa kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa dalamnya.
"nyonya.. anda baik baik saja?"
"iya, saya tidak apa apa. Kalau begitu saya permisi ya pak"
"iya, hati hati nyonya"
Melati tak tau harus mencari suaminya kemana. Karena selama satu tahun ini Melati tak pernah tau siapa saja teman Bobby. Ia tak tau kemana saja suaminya sering nongkrong. Dan ia juga tak pernah tau hal hal apa saja yang sering di lakukan suaminya saat sedang tak bersamanya.
Ia begitu mempercayakan hidupnya pada seorang laki laki yang sudah menghalalkannya.
Saat ia berjalan gontai, tiba tiba saja ponselnya berdering. Segera ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas kecilnya.
nomor baru? siapa?
"halo"
"nyony Melati?"
"iya, ini siapa?"
"nyonya, saya pembantu di mension nenek. Saya di minta tuan Morgan untuk menghubungi anda"
"ada apa?"
"nyonya di minta datang ke rumah sakit sekarang juga. Nenek pingsan tadi"
"apa? nenek pingsan? di rumah sakit mana bik?"
"Pelita Anugerah nyonya"
"baiklah, saya kesana sekarang!"
Ia segera mencari taksi dan pergi menuju rumah sakit secepatnya. Biarlah untuk sementara ini ia melupakan sejenak tentang sosok wanita yang pergi bersama suaminya. Yang terpenting baginya sekarang adalah mengetahui keadaan sang nenek terlebih dulu.
.
.
__ADS_1
.