Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Kesombongan Prilly


__ADS_3

"kamu kenapa? tanganmu sangat dingin" tanya sang nenek yang masih bersandar santai di jok penumpang


"aku gugup nek"


"gugup karena apa?"


"ini adalah pertama kalinya aku tampil di depan umum. Apalagi aku datang bersama pemilik perusahaan, pasti semua orang akan menatapku nanti"


"itu sudah pasti terjadi. Tapi kamu jangan takut, aku akan selalu ada disampingmu"


"Terimakasih nek"


Sang nenek hanya tersenyum dan terus mengusap lembut tangan dingin wanita yang sebentar lagi akan menjadi cucu menantunya. Ia begitu senang karena akhirnya Melati mau menerima tawarannya untuk menikah dengan Bobby.


Ya, dua hari yang lalu Melati bertemu dengan nenek Bobby. Dan tanpa ragu, Melati lantas menerima tawaran sang nenek dengan yakin.


Dan hari ini, Nenek sebagai bos besar dan pemilik perusahaan mengadakan rapat untuk mengumumkan dua hal penting.


Yang pertama, nenek akan mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tugasnya dan akan digantikan dengan cucu satu satunya yaitu Bobby.


Dan nenek juga sengaja mengajak Melati datang ke perusahaan karena ia ingin mengumumkan hal penting kedua, yaitu rencara pernikahan Bobby dan Melati yang akan diadakan dua minggu lagi serta pesta resepsi besar besaran nanti. Dan tentunya, seluruh staff bahkan para OB pun tak luput dari undangan tersebut.


"Melati sayang, kau yakin tak mau ikut masuk ke ruang rapat sekarang?"


"tidak nek, Melati masuknya nanti saja bareng kak Bobby kau sudah sampai disini. mm.. lagi pula kan nenek mau rapat tentang perusahaan terlebih dulu, Melati gak ngerti apa apa juga kan? takut ganggu nanti"


"ya sudah, kalau begitu nenek masuk ya. Kau bisa berkeliling keliling kantor dulu sambil nunggu Morgan"


"iya nek"


"oh ya, apa kau butuh pengawal?"


"tidak perlu nek, aku bisa sendiri. terimakasih"

__ADS_1


Setelah sang nenek memasuki ruang rapat, Melati segera berkeliling kantor. Besar dan mewah, itulah yang tergambar menurut pandangan Melati.


Saat di beberapa ruangan nampak sepi, di halaman depan justru terdengar sangat ramai. Dan saat Melati menghampiri pusat keramaian itu, ia begitu kaget saat melihat siapa yang menjadi pusat keramaian tersebut


Tante Prilly? ngapain wanita itu ada disini? apa jangan jangan? mas Reyhan... batin Melati


"tunggu!"


"Melati?" batin Prilly


Prilly sebenarnya juga bingung mengapa Melati bisa ada di kantor sebesar ini. Namun ia lebih memilih besikap sok gak peduli dan gak mau tau tentang wanita yang pernah menjadi ostri suaminya itu


"ada apa ini? tante, kenapa kau menyuruhnya berlutut dan mencium kakimu?" tanya Melati


"dia sudah membuat sepatuku kotor. Jadi dia harus minta maaf atas perbuatannya"


"bukankah dia sudah meminta maaf sejak tadi? mengapa tante masih menyuruhnya berlutut dan mencium kaki tante?"


"bukan jadi pahlawan, ini soal rasa kemanusiaan tante! memangnya tante ini siapa? berani beraninya menyuruh orang seenaknya"


"oh ya, kau belum tau juga ya siapa aku? dengarkan baik baik ya? aku adalah istri manager disini. Jadi kau jangan berani macam macam padaku"


"hanya manager?" sebuah suara bass terdengar dari arah lain. Semua mata menoleh kearahnya. Tampan dan berkarisma meski hanya mengenakan kaos oblong berlengan panjang dan celana panjang yang sedikit kotor dibagian lututnya


"apa maksutmu hanya manager? kau tau kan manager itu jabatan tinggi?"


Laki laki pemilik suara bass tersebut hanya tersenyum


"oh.. atau jangan jangan kau juga tak tau ya apa itu jabatan manager? hahaha.. wah wah.. kalian berdua memang cocok. sama sama kampungan"


Bukannya diam, Prilly malah terus terusan nyerocos ini itu tanpa henti. Semua yang ada disana tak ada yang berani menyahut ataupun memberhentikan Prilly yang sejak tadi menghina Melati dan laki laki yang ternyata adalah Bobby.


Karena mereka yang disana kebanyakan OB dan staff biasa dan terlebih lagi, merwka semua tak tahu bahwa laki laki yang berdiri di hadapan mereka adalah Morgan sang pemilik penerus perusahaan.

__ADS_1


"kami memang tak tau apa itu jabatan manager. Jadi apakah kau bisa memberitahu kami apa itu manager?" ucap Bobby yang akhirnya mulai angkat bicara


"ah baiklah.. aku akan menunjukkan pada kalian apa dan siapa manager disini" sahut Prilly dengan bangga


"kak Bobby.. apa yang terjadi? kakak kenapa? " lirih Melati


"diamlah. aku akan ceritakan nanti. sekarang lebih baik kita ikuti saja dia"


"baiklah"


Bobby menggenggam tangan Melati dengan erat. Keduanya mengikuti langkah Prilly yang mulai memasuki lift


"hey kalian! sana masuk!" ucap Prilly sembari memencet tombol lift ke lantai sepuluh


Diam, tak ada pembicaraan selama di dalam lift terdebut. Prilly masih asik dengan lagaknya yang sok berkuasa. Sementara Bobby dan Melati, ia terlihat saling melirik.


Lewat sorot matanya, Bobby tau jika Melati sedang menghawatirkan wanita itu. Tapi ia tak peduli. Ia harus memberikan pelajaran yang pantas pada tante sombong ini


Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di luar ruang rapat. Namun bukannya langsung masuk, Prilly malah diam dan tak berani membuka pintu yang masih tertutup rapat itu.


"tante, kenapa tante diam disini? bukankah tante ingin menunjukkan pada kami apa itu jabatan manager?" seru Bobby


"iya, kita tunggu saja disini. Sepertinya di dalam masih ada rapat. Tidak enak kan kalau mengganggu


"kenapa tidak enak? bukankah suamimu itu berkuasa disini? jadi kenapa kau harus takut?"


"siapa yang takut? aku hanya__ aaa" Prilly tak meneruskan ucapannya kala tangan Bobby tanpa permisi menyeretnya masuk ke dalam.


Seketika__


.


.

__ADS_1


__ADS_2