
Malam harinya, Melati pulang bersama Miko. Sebenarnya Melati bersikeras ingin tinggal di rumah mendiang mama Kejora, setidaknya hanya untuk satu malam saja.
Namun Kejora tak mengijinkannya. Bukan karena tidak boleh di tempati, namun Kejora tetap pada pendiriannya untuk membantu Melati agar tak lari dari masalahnya.
Dengan dianta oleh Kejora dan suaminya, Melati akhirnya sampai di rumah dengan aman dan selamat meski agak kemalaman.
"beristirahatlah"
"kakak tidak mampir dulu?"
"tidak, ini sudah terlalu malam untuk bertamu. Kami akan langsung pulang"
"terimakasih kak"
"hmm.. ingat pesanku ya. Jangan memulai pembicaraan yang menyangkut perihal foto itu. Bersikaplah biasa saja dan jika memang semua yang terlihat dalam foto itu adalah sebuah kenyataan, maka biarkan dia merasa bersalah atas sikap dan perlakuan baikmu yang telah dia hianati. Aku yakin, dia tak akan sanggup membohongimu terus menerus jika kau tetap bersikap manis kepadanya"
"apa kakak yakin?"
"tentu saja. Aku berteman dengan Reyhan sejak lama. Bahkan sejak kami masih sangat kecil.ya meskipun tidak terlalu dekat, tapi aku sangat mengenal suamimu itu"
"baiklah.. aku akan ikuti semua saran dari kakak"
"ya sudah.. selamat malam dan selamat beristirahat. Kami pamit"
"iya kak, terimakasih sekali lagi. Hati hati di jalan"
Setelah mobil Kejora meninggalkan pekarangan rumahnya. Melati segera masuk ke dalam sambil menggendong tubuh kecil Miko yang sudàh terlelap.
"dari mana saja kamu? jam segini baru pulang"
__ADS_1
Sebuah suara nyaring tiba tiba terdengar dari sofa ruang tamu mampu menghentikan langkah Melati seketika itu juga
"ibu" lirih Melati
"keluyuran kemana saja kamu? tengah malam baru pulang! apa kau tidak tau kalau suamimu itu sudah pulang sejak tadi dan kami bahkan menunggumu untuk makan malam bersama? Dasar istri tak becus! kalau kau mau keluyuran malam, jangan bawa anak! oh.. atau kau sedang melatih anakmu itu untuk menjadi seorang yang suka kelayapan tengah malam?"
Melati yang hendak melangkah masuk pun tiba tiba mengurungkan niatnya. Ia kembali terdiam di tempat semua ia berdiri. Dan jangan lupakan tatapan tajamnya yang mengarah pada sosok ibu dari suaminya itu.
Sebenarnya Melati tak ingin menggubris omelan sang mertua, Namun saat mendengar semua tuduhan yang terlontar dari mulut mertuanya itu membuat hati Melati seketika terbakar.
Belum redup api amarah yang sempat berkobar sejak penerimaan foto foto fulgar suaminya bersama seorang wanita, kini sang ibu mertua malah menambahkan lagi api amarah dalam hati Melati dengan menuduhnya keluyuran tak jelas entah kemana.
"bu.. kalau mas Reyhan sudah pulang sejak tadi, kenapa ibu tidak menyuruh mas Reyhan untuk mencariku saja? Anak ibu itu pasti sangat tau kemana dan dimana tempat aku keluyuran malam ini"
"apa maksut kamu?" sang ibu mengerutkan alisnya pertanda tak paham akan ucapan sang menantu
"aku rasa aku tak perlu menjelaskannya" sahut Melati sembari melangkahkan kakinya
Melati tak menggubris. Ia melanjutkan langkah kakinya semakin ke dalam. Dan saat ia hendak menaiki anak tangga, tiba tiba sebuah suara menggelegar memanggil namanya
"MELATI"
deg
Melati membalikkan badannya. Matanya seketika memerah dan hampir berkaca kaca saat menatap seorang laki laki bertubuh kekar yang ada di depannya itu.
"mas Reyhan"
"Melati! apa yang kamu lakukan pada ibu? krnapa kau membuat ibu menangis? apa ini yang dinamankan sikap baik menantu pada mertuanya? Melati! asal kau tau ya, aku dan ibu sengaja menunggumu hanya untuk makan malam bersamamu. Tapi kenapa kau malah bersikap kasar pada ibuku? Bahkan aku saja sebagai anak kandungnya tidak pernah melotot dan membentak ibu seperti apa yang baru saja kamu lakukan" sentak Reyhan sembari memeluk tubuh sang ibu yang bergetar karena menangis
__ADS_1
"jadi mas melihat semua yang aku lakukan pada ibu?"
"ya, aku melihatnya"
"kalau mas melihatnya sejak awal, mas pasti tau kan siapa yang memulai lebih dulu? aku atau ibu?"
Deg
Reyhan terdiam. Ia seolah termakan ucapannya sendiri. Bagaimana ia bisa menjawab kalau sebenarnya ia juga tau bahwa yang memulai pertengkaran itu adalah ibunya?
Tidak mungkin kan Reyhan menjawab secara gamblang di drpan Melati bahwa ibunya yang berkata kasar terlebih dulu?
Sementara Melati hanya tersenyum miris saat melihat suaminya malah diam mematung tanpa sebuah kata.
Melati sangat yakin bahwa suaminya itu tak bisa menjawab yang sejujurnya karena ia tak mungkin untuk menyalahkan sang ibu tercinta di depan istrinya
Ya, karena sebenarnya Melatipun tau sejak awal bahwa Reyhan ada di balik dinding dan sedang menguping serta melihat secara diam diam interaksi antara dirinya dan sang ibu.
Tanpa sepatah katapun, Melati melangkahkan kaki memasuki lantai kedua rumah mereka. Dan saat ia baru saja menaiki dua buah anak tangga, Melati kembali menoleh ke belakang dan menatap tajam pada suami dan ibu mertuanya secara bergantian.
"oh ya, kalau memang kalian sudah merasa sangat lapar, kenapa juga kalian harus repot repot menunggu untuk makan malam bersamaku? bukankah kalian sudah terbiasa makan tanpa menungguku terlebih dulu? seperti waktu yang sudah sudah. iya kan mas?"
Setelah mengatakan sebuah kalimat panjang itu, Melati segera masuk ke kamarnya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, Meninggalkan suami dan ibu mertua yang pastinya saat ini sedang terdiam karena begitu tersentil perasaannya oleh kata kata yang terlontar dari bibir Melati barusan.
"Melati...." batin Reyhan menatap sang istri yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mereka
.
.
__ADS_1
.