
"sayang" sapa Reyhan pelan
"ada apa mas?"
"soal hari ini, aku minta maaf. Aku__"
"sudahlah mas, gak papa kok, lagi pula kan aku juga sudah menjemput Miko dan pulang dengan selamat"
"iya, tapi kau harus mendengarkan penjelasanku dulu sayang"
"apa yang akan mas jelaskan?"
"tadi sore aku benar benar gak bisa pulang. Mm.. aku ada meeting dadakan"
"oh ya?"
"benar sayang.. besok kan ada meeting penting perusahaan. Jadi aku dan Prilly sengaja merancang strategi yang bagus untuk memenangkan tender besar itu"
"waw.. bagus dong kalau kalian sudah merancang strategi"
"disana ada yang lain juga kok sayang.. bukan hanya aku dan Prilly saja"
"benarkah?"
"percayalah sayang"
"apa teman yang lain juga tertidur karena kelelahan saat merancang strategi seperti kalian berdua?"
Deg
"sayang, apa maksut kamu?" tanya Reyhan dengan dada yang bergemuruh takut
"tidak ada, lupakanlah! aku hanya asal bicara. tubuhku sangat lelah, aku ingin istirahat mas"
"sayang, tapi kan kau belum makan?"
"aku tidak lapar, kalau kau ingin makan, makanlah"
"baiklah, kalau begitu aku ke bawah dulu ya sayang"
"hmm"
Saat Reyhan hendak mendekat ke ranjang dan ingin mencium kening Melati, saat itu pula Melati sengaja menghindar dengan memiringkan tubuhnya ke posisi lain.
Melihat hal itu, Reyhan benar benar ketakutan akan sikap Melati yang terkesan cuek dan tak peduli.
Bagaimana tidak takut? baru tadi siang istrinya itu mengatakan kalau dirinya sangat keberatan dengan kedekatannya dengan wanita yang bernama Prilly.
Tapi sekarang? kenapa berbeda? Kenapa saat ia terang terangan mengatakan bahwa ia menghabiskan waktu sesore bersama Prilly, istrinya itu malah bersikap biasa saja? Bahkan istrinya itu seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh dirinya?
Reyhan benar benar merasakan ada suatu keanehan pada istrinya tersebut. Meskipun Melati mengatakan tak apa dan tak mempermasalahkan ketidakpulangannya sore ini, tapi Reyhan sangat yakin bahwa istrinya tengah memendam sebuah rahasia. Reyhan sangat yakin ada sesuatu yang sedang mengganggu perasaan Melati saat ini.
Tapi apa? Reyhan juga tak tau.
Yang pasti, Ia akan mencari tahu tentang perubahan sikap istrinya tersebut.
...***...
__ADS_1
Beberapa hari berlalu. Satu bulan semenjak kejadian itu, Reyhan selalu bersikap manis kepada Melati. Ia bahkan memperlakukan Melati bak seorang ratu. Selalu mengedepankan kepentingan Melati meski terkadang harus terjadi perdebatan panjang dengan sang ibu
"Rey, ibu tak tau apa yang terjadi padamu akhir akhir ini. Entah mengapa kau selalu mengiyakan perkataan Istrimu itu meski terkadang menurut ibu itu hal yang tak masuk akal"
"apa maksut ibu?"
"apa kau tak lihat apa yang kau lakukan barusan?"
"memangnya aku melakukan apa bu?"
"ya ampun Rey.. ibu rasa kau itu telah di guna guna oleh istrimu sendiri"
"ibu, jangan asal bicara. Melati itu istriku, dan aku patut memuliakan istriku bu"
"dengan meninggalkan pekerjaanmu siang ini demi memijat kaki istrimu yang sedang kram itu?"
"tidak masalah. Aku senang melalukannya"
"Reyhan.. Reyhan.. ibu rasa otakmu itu sudah mulai tidak waras!" gerutu sang ibu sembari meninggalkan Reyhan
Maafkan aku bu, aku memang sudah tidak waras. Aku bodoh. Aku jahat. Aku sudah menghianati istriku.
Sebenarnya bukan karena bodoh atau tidak waras, namun karena saking merasa bersalahnya pada Melati, Reyhan pun memilih menebus penghianatan yang ia lakukan dengan mengiyakan semua ucapan Melati.
Jujur saja, Reyhan memang merasa sangat ketakutan akan kesalahannya. Karena jika saja Melati mengetahui apa yang sudah ia lakukan pada Prilly, Melati tak akan memaafkannya. Sebab ia sangat tahu jelas bahwa Melati sangat membenci penghianatan fisik apalagi sampai penghianatan soal hubungan intim.
...***...
Reyhan membuka perlahan pintu kamar. Dilihatnya Miko sudah terlelap di ranjang kecil di sudut ruangan. Sementara Melati, istri kecilnya itu juga sudah terlelap dengan posisi yang sedikit meringkuk.
Reyhan mendekat. Tatapan matanya mengarah pada daster yang menyelikap ke atas dan menampilkan paha putih mulus milik Melati.
Perlahan, Reyhan mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Tak ada pergerakan sedikitpun dari Melati meski ranjangnya sedikit bergoyang. Sepertinya wanita itu tidur terlalu pulas.
Dengan sangat hati hati dan tangan yang gemetar, Reyhan mulai membuka ujung rok yang di pakai Melati semakin ke atas hingga terlihatlah celana segitiga berwarna hitam transparan.
Saat Reyhan hendak memegang paha Melati, saat itu juga posisi Melati berubah dengan cepat. Wanita bertubuh kecil itu kini tertidur dalam posisi terlentang.
Nafas Reyhan semakin naik turun saat menatap wanitanya tidur dalam posisi terlentang itu. Oh tidak! bukan itu maksutnya, Bukan karena posisi Melati, tapi karena ada sebuah pemandangan indah yang tersaji di depannya.
Bagaimana tidak? karena posisi yang terlentang itu, akhirnya ujung daster yang di pakai Melati benar benar tersikap sempurna. Meski tertutup kain segitiga, namun karena kain itu transparan, bentuk dan rupanyapun terlihat sangat sempurna di mata Reyhan.
glek
Reyhan kembali menelan ludah kasar. Ia merutuki kebodohannya beberapa minggu yang lalu. Ia benar benar menyesal tak bisa mengontrol nafsunya sore itu. Padahal jika di lihat, milik istrinya itu jauh lebih sempurna di bandingkan milik wanita yang telah ia gauli secara brutal tempo lalu.
Dengan pelan namun pasti, Reyhan berhasil menurunkan kain tipis berwarna hitam itu. Perlahan ia sedikit membuka pangkal paha Istrinya. Dan dalam benerapa detik kemudian, Ia berhasil memasukkan kepalanya ke pangkal paha Melati.
"aaa"
Namun saat Reyhan baru saja mulai mengeksplor lidahnya, saat itu pula terdengar suara teriakan kecil dari wanita yang sedang tertidur pulas di ranjangnya
"mas Reyhan? apa yang mas lakukan?" ucap Melati sembari membenarkan posisi duduknya dan menutupkan rok yang menyelikap ke atas tadi
"sayang, apa kau kaget? maaf... maafkan aku, aku hanya sangat merindukanmu"
"bukankah kita sudah bertemu setiap hari?"
__ADS_1
"ya.. tapi kali ini aku merindukanmu dalam hal lain"
"maksutnya?"
"aku rindu bercinta denganmu sayang" bisik Reyhan tepat di telinga Melati
deg
Jantung Melati terasa berdegup kencang. Mendengar kata bercinta, pastilah ia tahu bahwa sang suami sedang ingin menjamahnya. Namun apakah ia bisa menerima? Karena jujur saja, sejak melihat foto foto itu, Melati merasa jijik pada tubuh suaminya.
Meski belum tahu kebenaran tentang foto foto tersebut, namun Melati merasa tak siap diri jika harus melayani kebutuhan batin sang suami.
Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana jika suaminya benar benar menanamkan pedangnya pada gua wanita itu?
Melati tak sanggup. Ia tak akan terima jika sampai hal itu benar terjadi. Karena baginya, kesetiaan itu adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan. Tak ada kata ampun. Tak ada kata menyesal. Tak ada lagi kesempatan bagi sang penghianat hubungan. Itulah prinsip Melati.
"sayang" Reyhan mendekat dan mengecup mesra leher Melati
"maaf mas, aku tidak bisa"
"kenapa?"
"aku__"
tok tok tok
Terdengar ketukan dari balik pintu. Keduanya pun mendekat dan membuka pintu kamar mereka.
"ibu? ada apa bu?" tanya Reyhan
"ada tamu di luar"
"siapa?"
"Prilly"
"aku sedang tidak ingin bertemu dengannya"
"tapi Prilly sangat ingin bertemu denganmu"
"bilang saja aku sudah tidur bu"
"dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan denganmu"
deg
"baiklah, sebentar lagi aku turun"
Setelah sang ibu turun, Reyhan dan Prilly saling pandang.
"sayang, bolehkah aku__"
"terserah" sahut Melati sembari berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Reyhan yang mematung dan membeku di tempat ia berdiri.
.
.
__ADS_1
.