
Semalam telah berlalu. Dan lagi lagi Melati selalu gagal untuk menanyakan pada Reyhan tentang siapa Prilly sebenarnya.
Ya, karena setelah acara makan malam mereka selesai, Reyhan langsung tertidur lelap di kamar mereka. Sehingga Melati pun tak seberani itu untuk membangunkannya hanya untuk bertanya tentang seseorang yang pastinya akan memicu pertengkaran diantara mereka nantinya.
Karena hari ini adalah hari minggu, Melati sengaja bangun agak siangan. Ia pikir, biarlah ia bersantai di hari libur ini dengan membuat sarapan agak siangan. Karena biasanya, jika di hari minggu, Reyhan dan ibu mertuanya tidak pernah sarapan di jam pagi.
"masak apa ya hari ini?"
"apa aku masakin makanan kesukaan mas Reyhan aja?"
"ah ya, aku akan buat orek tempe dan rendang daging kesukaan mas Reyhan kalau begitu"
Gumam Melati sembari berjalan santai ke arah dapur. Namun baru saja ia memasuki area dapur, tiba tiba saja pandangan matanya harus menyaksikan sebuah kejadian yang menyebalkan.
Ya, Melati begitu jengkel saat mendapati bahwa dapur tempatnya berkutat untuk memanjakan lidah suaminya ternyata sudah diacak acak oleh Prilly.
Melati sempat terkejut kala melihat wanita bernama Prilly itu masih berada di rumahnya. Karena ia pikir, setelah kejadian menyesakkan di meja makan semalam, Prilly akan langsung pulang. Tapi ternyata wanita itu malah menginap di rumahnya.
"hai Melati" sapa prilly yang melihat Melati berpatung di ambang pintu masuk dapur.
Melati hanya tersenyum kaku sambil berjalan mendekat.
"kau baru bangun?" tanya Prilly
"tidak, aku sudah bangun sejak tadi. Hanya saja aku memang sengaja masak agak siangan karena kalau hari minggu seperti ini mas Reyhan dan ibu tidak sarapan pagi"
"oh ya? sarapan pagi itu sangat penting loh.. harusnya kau memaksa merwka untuk sarapan pagi Mel"
"tidak perlu dipaksa, mereka tau mana yang terbaik untuk diri mereka sendiri"
"wah.. wah.. baunya enak sekali.. perutku jadi sangat lapar". Saat mereka tengah berbincang, tiba tiba saja dari arah belakang terdengar suara parau Reyhan yang datang menghampiri Melati dan memeluknya dari belakang
Di posisi seperti ini, Melati merasa semakin diuntungkan. Ia lantas mengelus tangan Reyhan yang melingkar sempurna di perutnya. Bahkan Melati tak segan segan mencium pipi Reyhan yang bersender di pundaknya.
Sementara Prilly, ia hanya menatap kemesraan antara suami dan istri itu dengan tersenyum manis.
"Rey.. apa kau lapar?" tanya Prilly
__ADS_1
"ya, mencium bau masakan ini membuat perutku keroncongan" sahut Reyhan sembari mencomot satu potong daging yang di masak rendang itu.
"gimana rasanya?" tanya Prilly penasaran
"enak banget.. Istriku ini memang sangat pintar, dia sangat tau makanan kesukaanku" jawab Reyhan sembari terus mengunyah.
"aku memang sangat tau makanan kesukaanmu, tapi sayangnya makanan itu bukanlah masakanku" sahut Melati sambil melepaskan pelukan sang suami
"uhuk.. uhuk.."
Reyhan langsung terbatuk. Ia seketika tersendak makanan yang masih ia kunyah barusan.
"minum dulu" Prilly memberikan satu gelas penuh air putih dingin. Dan Reyhan pun menegak habis minuman tersebut tanpa sisa.
Setelah lega, Reyhan celingukan kesana dan kemari mrncari keberadaan istrinya "dimana Melati?"
"dia sudah pergi"
Tanpa sepatah kata yang terucap, Reyhan pun bergegas pergi. Namun saat ia hendak melangkah, sebuah suara yang tengah memanggil dirinya mampu menghentikan langkahnya begitu saja tanpa paksaan.
"Ibu? ada apa bu?" tanya Reyhan
"ini hari minggu bu?"
"memangnya kenapa kalau hari minggu?"
"kalau hari minggu kan kita kan jarang sarapan pagi bu"
"sekali kali di hari minggu ini kita sarapan pagi kan gak papa Rey.. lagi pula juga sudah ada makanan yang tersedia. Bukankah perutmu memang sudah sangat lapar kan?"
Reyhan masih terdiam sambari menatap rendang daging kesukaannya
"ada makanan lesukaanmu loh" bisik sang ibu
"ayolah Rey, cicipi makanan buatanku. Bukankah tadi kau mengatakan makanan ini sangatlah enak?" timpal Prilly dengan wajah memelas
"tapi aku harus menyusul Melati bu, dia pasti sedang marah padaku"
__ADS_1
"apa yang harus di hawatirkan? Melati tidak mungkin marah. Kau kan tidak melakukan kesalahan apapun padanya?"
"tapi tadi aku memuji masakan wanita lain di depannya bu"
"tidak apa apa. Dimana letak kesalahannya? kan memang fakta kalau masakan Prilly memang sangat enak?"
"aku takut Melati patah hati karena ucapanku bu"
"tidak mungkin. Dia itu sudah dewasa. Dia pasti tau dan mengerti kalau suaminya itu sedang lapar dan butuh makanan"
"tapi bu__"
"sudahlah, ayo duduk dan temani ibu sarapan"
"baiklah"
Akhirnya Reyhan pun mengikuti ucapan sang ibu. Ia bahkan dengan lahapnya memakan makanan itu tanpa tanpa sisa dan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Melati yang saat ini terluka.
...***...
Sementara di sudut kamar yang terang dan dihiasi sinar sang surya, Melati tengah mengusap air matanya. Menenangkan jiwa dan hatinya yang pagi ini begitu terluka.
Ya, Melati sangat mengecewakan sikap sang suami yang seakan akan tak memiliki pendirian.
Bagaimana tidak?
Harusnya sebagai seorang suami, Reyhan mampu mempertahankan niatnya untuk menemui Melati meskipun sang ibu melarangnya.
Tapi apa yang terjadi?
Reyhan jistru pasrah dan menuruti keinginan sang ibu tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaannya.
Apalagi tadi saat Melati hendak memutuskan untuk keluar dan memasak makanan lain untuk Reyhan, ia melihat dengan gamblang bahwa suami, ibu mertua, dan bahkan Reyna sang anak tirinya tengah asik bersenda gurau sambil menikmati sarapan buatan Prilly.
Dan seketika itu juga Melati merasa sangat tak dianggap sebagai anggota keluarga.
.
__ADS_1
.