Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Pembuktian


__ADS_3

Hari semakin larut, Miko pun juga sudah terlelap. Melati segera menghampiri Reyhan yang masih sibuk memainkan ponsel.


"mas"


Reyhan yang dipanggil hanya diam. Ia malah tersenyum senyum sendiri menatap benda persegi yang ada di jemarinya


"mas"


Reyhan masih juga tak bergeming sedikitpun


"mas!"


Hingga di panggilan yang ketiga, barulah Reyhan tersadar dan menatap sang istri "ya sayang"


"bisa kita bicara sebentar?"


"tentu saja! kau mau bicara apa?" jawab Reyhan sembari meletakkan ponsel yang sudah satu jam lebih ia pegang itu


"mas, apa mas sudah tau kondisi terbaru tentang ibu?"


"maksud kamu? memangnya ibu kenapa?"


"kemarin aku melihat ibu bisa berjalan dari ranjangnya ke kamar mandi"


"apa? ibu bisa berjalan?"


"iya mas"


"tidak mungkin sayang, bukankah kau lihat sendiri bagaimana ibu hanya bisa mengandalkan kita untuk merawat tubuhnya di setiap hari?"


"iya mas, tapi kemarin aku melihat sendiri kalau ibu memang bisa berjalan" Melati terus berusaha meyakinkan suaminya agar ia percaya.


"apa kau yakin?"


"aku sangat yakin mas"


"kalau kau yakin ibu bisa berjalan, lalu untuk apa ibu masih berpura pura?"


"aku juga tidak tau mas, tapi aku berani bersumpah kalau aku memang melihat ibu bisa berjalan dengan sangat tegak"


"baiklah, kita buktikan besok"


Melati hanya mengangguk pasrah. Ya, ia begitu yakin akan pemikirannya. Karena kemarin saat ia hendak masuk ke kamar mertuanya, Melati melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ibu mertuanya itu berjalan dengan sangat cepat dan tegap.


"mas, kau tidak tidur?" tanya Melati saat ia melihat suaminya malah kembali memegang ponselnya.


"sebentar saja, kau tidurlah dulu"


Karena terlalu mengantuk, Melatipun lebih memilih mengistirahatkan mata dan tubuhnya dari pada harus menemani suaminya begadang dan main ponsel.


...***...


"sayang, ayo bangun"


"euh.." suara lenguhan terdengar dari bibir Melati. Ia terlihat mengerjapkan mata saat rasa kantuk masih melanda. "mas"


"ayo bangun"

__ADS_1


"jam berapa ini?"


"jam lima"


"sudah pagi? mm.. kenapa rasanya aku masih sangat mengantuk ya mas"


"mungkin kau terlalu lelah, jadi tidurmu sangat pulas semalam"


"mungkin"


Melati segera turun dari ranjang. Ia terus memperhatikan sang suami. Namun ada sesuatu yang tak ia sadari sedari tadi soal suaminya tersebut.


"mas"


"ya"


"lingkar mata mas terlihat hitam, apa mas tidak tidur semalam?"


"benarkah?" Reyhan langsung berjalan menuju meja rias. Ia nampak membolak balikkan wajahnya dan meraba sisi wajah terutama di sekitar lingkar matanya.


"tidak terlalu kelihatan kok"


"jadi beneran mas gak tidur semalaman?"


"tidur kok"


"bohong! itu buktinya mata mas terlihat merah dan menghitam"


"aku tidur kok, tapi hanya sebentar"


"semalam ada pekerjaan yang harus aku kerjakan untuk keperluan meeting pagi ini"


"harus dikerjakan malam itu juga?"


"ya, harus! dan itu sangat penting!"


Melati memicingkan matanya, ia menatap lekat Reyhan yang sikapnya terlihat begitu aneh.


"ah sudahlah! ayo kita ke kamar ibu. Bukankah kita akan membuktikan kebenaran ucapanmu semalam?" Ucap Reyhan sembari melangkahkan kaki keluar kamar mereka


Akhirnya mau tak mau Melati pun mengekor di belakang suaminya. Ia tak lagi mempermasalahkan raut wajah aneh suaminya itu. Yang terpenting baginya adalah sebentar lagi ia bisa membuktikan pada Reyhan tentang kebohongan ibunya.


"bu"


"Reyhan? Melati? ada apa kalian pagi pagi ke kamar ibu?"


"tidak apa apa bu, kami hanya ingin membantu ibu membersihkan diri"


"oh, ayo" jawab sang ibu sembari menerima uluran tangan Reyhan yang ada di depannya


Saat ibu Sarah berhasil berdiri, tiba tiba saja Reyhan melepaskan tautan tangannya yang mrmbuat ibu Sarah langsung jatuh dan tersungkur dilantai.


"Reyhan? apa yang kamu lakukan? kamu sengaja mau membanting ibu?"


"ibu" Reyhan langsung berjongkok dan membopong sang ibu duduk di kursi rodanya kembali.


"apa yang kamu lakukan Rey? apa kamu sengaja ingin membunuh ibu? apa kamu tak suka jika ibu berada disini? kalau kamu memang tak suka, kenapa kamu tak bilang sejak awal?"

__ADS_1


"maaf bu, bukan maksut Reyhan ingin membanting ibu. Reyhan hanya ingin membuktikan kebenaran ucapan Melati bu"


"apa maksut kamu? memangnya istri kamu bilang apa?"


"Melati bilang kalau ibu sudah bisa berjalan"


"apa? bagaimana mungkin ibu bisa berjalan? sedangkan untuk berpindah dari ranjang ke kursi roda saja ibu butuh bantuan kalian?"


Reyhan nampak terdiam. Ia seolah menimbang dan membenarkan ucapan sang ibu.


"bu.. tapi kemarin aku melihat ibu bisa turun dari kursi roda dan pergi ke kamar mandi sendiri" sahut Melati menengahi


"Melati.. Melati.. apa salah ibu padamu? kenapa kau tega sekali selalu menuduh ibu? kau bahkan tega mengadu yang bukan bukan pada Reyhan tentang kondisi ibu?"


"bukan seperti itu bu, aku berani bersumpah, kemarin aku memang melihat ibu berjalan" yakin Melati menjelaskan


"jadi kau menuduh ibu berbohong?"


"aku tidak menuduh ibu, aku hanya berberbicara sesuai fakta yang aku lihat kemarin bu"


"fakta apa yang kau lihat? jelas jelas kau itu yang terus berbohong pada Reyhan. Tidakkah kau lihat bagaimana aku terjatuh saat dilepas? oh.., atau jangan jangan kau sengaja mau membuat aku semakin lumpuh dengan memprofokasi Reyhan supaya kasar padaku, iya kan? jawab!"


"ibu! apa yang ibu katakan? aku sama sekali tidak punya niatan keji seperti apa yang ibu katakan barusan. Aku__"


"STOP!" gertak Reyhan yang langsung membuat dua wanita di depannya terdiam


"mas, aku__"


"diam kamu!" mata Reyhan melotot sempurna saat menatap sang istri.


Terlihat jelas betapa api amarah terpampang nyata pada raut wajah Reyhan. Dan Melati pun tak lagi berani menatap balik suaminya. Ia hanya menunduk dan menggenggam jemarinya.


"Melati, kau mengatakan bahwa ibu bisa berjalan. Dan aku sangat percaya padamu. Aku bahkan melepaskan pegangan tangan ibu demi membuktikan kebenaran ucapanmu itu. Tapi apa buktinya? Kau malah membuatku menjadi seorang anak yang kejam. Kau yang membuatku menyakiti ibuku sendiri Melati"


"mas, bukan seperti itu, aku tidak berbohong, aku__"


"Hentikan omong kosongmu itu!"


"mas"


"cepat keluar dari sini sebelum kesabaranku habis"


"mas"


"KELUAR!"


Dengan satu kali bentakan keras, Melati pun langsung melangkahkan kaki keluar dari kamar mertuanya itu.


Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Melati saat ini. Karena yang pasti hatinya sudah hancur berkeping. Perasaan dan hatinya begitu terluka saat suaminya lebih percaya pada sang ibu ketimbang dirinya yang sudah menjadi tulang rusuknya.


Sementara sang ibu, ia hanya tersenyum smirk menatap kepergian menantunya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2