Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Sebuah Alasan


__ADS_3

Reyhan tak mampu berkutik. Ucapan sang istri tentunya mampu membuat dirinya tertampar atas masalah yang baru saja ia ciptakan.


"sayang, maafkan aku"


"apa kau merasa bersalah?" sahut Melati tanpa menoleh pada Reyhan


"sayang, aku benar benar minta maaf, aku salah, aku hilaf. Aku tak bermaksut menyakitimu"


"tapi aku sudah terlanjur sakit mas"


"maaf sayang, tapi kau harus mendengarkan dulu penjelasanku. Ini semua tidaklah seperti apa yang kau pikirkan"


"jika semua tidak seperti yang aku pikiran, lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya?"


"aku di jebak. Prilly mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku hingga aku tak bisa mengontrol diriku sendiri"


"termasuk nafsumu?"


Reyhan terdiam


"hh.. mas, mas, kalau kau tak memiliki rasa apapun pada wanita itu, kau pasti tak akan mudah tergoda hanya dengan melihat kecantikannya saja"


"tapi aku berani bersumpah kalau aku memang tak memiliki rasa apapun pada dia"


"kalau kau tak memiliki rasa, mengapa kau tak bisa menahan hasrat bercintamu? kau bahkan menggunakan kesempatan berdua dengannya untuk menuntaskan hasratmu mas"


"tidak sayang, kau salah besar! aku tak pernah sedikitpun menginginkan kesempatan itu. Bukankah sudah ku katakan kalau waktu itu aku sedang berada di bawah pengaruh obat laknat itu. Lagipula jika aku sadar, kenapa aku harus menyentuhnya? sedangkan aku saja memiliki istri sempurna seperti kamu. Bukankah aku bisa bercinta denganmu kapanpun dan dimanapun sesukaku? iya kan sayang? cobalah kau pikirkan ini?"


"jangan berandai andai jika kenyataan berkata lain. Apa mas tau mengapa mas bisa sampai menyentuh wanita itu?"


"aku__"


"karena kau sedang haus akan hal itu. Kau sedang berhasrat tinggi karena kau jarang menyentuhku. Kau jarang bercinta denganku. Apa kau tau mas? Aku sebagai seorang istri juga ingin merasakan nagaimana rasanya di sayang setiap hari. Aku juga ingin di buai dan di belai setiap malam. Aku bahkan ingin diratukan saat berada diatas ranjang kita mas. Tapi apa? Apa yang kau lakukan? Kau terlalu mengabaikanku sebagai seorang istri. Kau selalu mengabaikan keinginanku. Kau itu terlalu tidak peka sebagai seorang laki laki dan seorang suami. Kau juga selalu menomerduakan aku karena kau terlalu mendengarkan keinginan ibu"


"bukankah saat ini kaulah yang selalu aku utamakan?"


"ya, itu karna kau merasa bersalah padaku. Kau mengiyakan semua keinginanku karena kau menganggap bahwa dengan melakukan semua hal itu, kau beranggapan kalau kau bisa menebus semua rasa bersalahmu itu padaku. iya kan?"


Reyhan lagi lagi terdiam, hingga Melatipun dapat meneruskan kembali uneg uneg dan kekesalan dalam hatinya yang selama ini terpendam dan tak di ketahui oleh suaminya itu.


"Mas, apa kau tak pikir? andai saja waktu itu kau lebih mendengarkan keinginanku dan tak mengantarkan wanita itu pulang, semua ini pasti tak akan terjadi. Tak akan ada yang menyakiti dan tersakiti diantara kita berdua"


"maafkan aku sayang"


"apa kata maafmu bisa mengembalikan keadaan seperti semula?"

__ADS_1


Reyhan kembali bungkam. sepertinya semua ucapannya mampu di balikkan oleh istrinya. Bahkan semua alasan dan penjelasannya malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"kalau tak ada lagi yang mau di bicarakan, silahkan mas keluar dari kamar ini, karena aku ingin melanjutkan beres beres"


"tidak sayang, tidak! jangan pergi dariku. Ku mohon jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu" seru Reyhan sembari memeluk erat kaki Melati


Ya, Reyhan benar benar menurunkan segala ego dan gengsinya sebagai seorang lelaki. Ia bahkan tak peduli jika ia dianggap sebagai pengemis cinta.


Yang terpenting baginya saat ini adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan hubungannya dengan Melati agar tetap utuh meski badai dan gelombang besar sedang menerjangnya detik ini.


"lepas mas! jangan seperti ini! apa kau tak malu berlutut padaku?"


"kenapa aku harus malu? aku akan lakukan apapun untukmu sayang. Jangankan hanya berlutut, mencium kakimu pun aku akan lakukan jika kau yang memintanya"


"tak perlu kau lakukan itu. Bukanlah kau tau bagaimana prinsipku dalam menjalin sebuah hubungan?"


"aku tau. Aku sangat tau. Tapi aku mohon padamu, maafkanlah aku. Aku mencitaimu sayang. Sangat sangat mencintaimu"


"apa kau punya alasan yang bisa membuatku bertahan?"


"aku akan lakukan apapun yang kamu mau"


"apa kau yakin dengan ucapanmu?"


"sangat yakin"


"tapi, dia sedang bersama ibu saat ini"


"memangnya kenapa kalau dia sedang bersama ibu? kau tidak berani mengusirnya mas?"


"aku berani. Tapi diluar kan sedang hujan deras. Lagian juga banyak sekali petir. Bagaimana kalau diusir beaok pagi saja"


"baiklah, kalau kau ingin mengusirnya beaok pagi, tapi aku yang akan pergi malam ini"


Melati segera menutup kopernya, ia bahkan sudah meraih jaket tebalnya dan hendak ia pakai. Namun belum sempat ia memakainya, Reyhan sudah lebih dulu menghentikan kegiatan Melati.


"oke, oke, aku akan mengusirnya sekarang"


Reyhan melangkah keluar sembari menarik tangan Melati. Namun secepat kilat Melati segera menampik tangan suaminya itu. Ia lebiih memilih berjalan di belakang dari pada harus berdampingan dengan laki laki yang lagi lagi menggoreskan luka dihatinya.


Reyhan yang mengetahui sikap Melatipun akhirnya pasrah. Ia tak memaksakan keinginannya untuk menggenggam tangan sang istri. Tujuannya saat ini hanya ingin segera melaksanakan persyaratan istrinya itu agar istrinya tetap berada disampingnya dan memaafkannya.


"Kau! cepat pergi dari sini sekarang juga!" seru Reyhan sembari menggeret tangan Prilly yang sedang duduk di ranjang kamar tamu


"Reyhan! apa maksutmu? kenapa kau menyuruhku pergi?"

__ADS_1


"ya, aku mengusirmu dari rumahku malam ini juga"


"tidak mau Rey, aku gak mau pulang! aku mau disini bersamamu"


"tapi aku tidak sudi bersama wanita sepertimu!cepat keluar!" sentak Reyhan dengan nada yang terdengar keras dan menakutkan


"Reyhan! apa yang kamu lakukan?" Teriak sang ibu yang baru saja datang karena mendengar kegaduhan di kamar tamu


"ibu diamlah! ini urusan rumah tanggaku! aku ingin wanita ini pergi sekarang juga"


"apa? kau mengusir Prilly malam ini? Rey! apa kau tak melihat kalau di luar itu sedang ada badai hujan dan petir?"


"aku tak peduli bu"


"Rey! dimana hati nurani kamu? Prilly itu sedang hamil anakmu! kenapa kau tega mengusirnya?"


"ah ibu tau, ini pasti karena dia" (menatap Melati yang berdiri diambang pintu) "iya kan?"


"jangan salahkan istriku bu! aku tetap memilih istriku dari pada wanita ini"


Sementara Melati yang ditatap tajam oleh sang mertua hanya bisa diam dan tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya.


Tak ingin ambil pusing, Reyhan pun segera menyeret paksa Prilly keluar dari rumahnya. Ia benar benar menguatkan hatinya untuk bersikap tegas meski hati nuraninya berkata lain.


"Rey, kau itu sangat kejam!" ucap Prilly yang kini berada di luar pintu. Wanita itu bahkan menatap tajam pada Melati yang terlihat melambaikan tangan padanya.


awas kau!


Akhirnya Prilly pun pergi dari rumah itu. Sang ibu juga tak dapat menolongnya karena kunci pintu rumah itu di genggam oleh Reyhan.


"sayang, aku sudah memenuhi keinginanmu, kau harus menepati ucapanmu, apa kau memaafkanku?"


"ayo kita istirahat"


Reyhan tersenyum bahagia saat melihat Melati berbaring di ranjang mereka. Ia pun segera mengikuti Melati dan berbaring sembari mendekap tubuh kecil istrinya tesebut.


"tidurlah" ucap Melati sembari menurunkan tangan sang suami yang melingkar di perutnya. Entah mengapa ia masih merasa jijik berdekatan dengan suaminya.


Meski sedikit kecewa, Reyhan bisa bernafas lega kala istrinya tak lagi mempermasalahkan kesalahannya tadi. Ia pun segera tertidur sembari memeluk bantal guling yang Melati letakkan diantara mereka.


Mas Reyhan..


Melati mengusap air mata yang begitu saja menetes di pipi mulusnya kemudian ia memejamkan matanya kembali.


.

__ADS_1


.


__ADS_2