
Detik demi detik berlalu. Tanpa terasa hari sudah semakin siang. Dan selama itu pula Melati selalu berada disamping Reyhan. Ia bahkan tak henti hentinya bergelayut manja di lengan suaminya.
Dan semua yang dilakukan Melati tentu saja membuat Prilly merasa dongkol karena ia tak memiliki sedikitpun celah untuk berdekatan dengan Reyhan.
Padahal biasanya selama menunggu ibu Sarah terapi, Prilly akan bercerita panjang lebar dan bersenda gurau dengan Reyhan di ruang tunggu.
Tapi ini? Reyhan terkurung. Ia sudah seperti seorang aktor yang setiap langkahnya selalu dijaga oleh pengawal ataupun bodyguard.
Prilly benar benar tersulut emosi terpendam. Jangankan untuk mendekat, sekedar untuk ngobrol dengan Reyhan saja Melati tak memberikan kesempatan sama sekali. Sungguh menyebalkan bukan?
"Prilly sayang, kau kenapa?" tanya ibu Sarah yang baru saja turun dari mobil.
"tidak apa apa bu, aku hanya lelah"
"benarkah? biasanya mau sampai malam pun kau tak merasakan lelah sama sekali saat menemani ibu? tapi kenapa sekarang kau lelah? padahal kan ini masih siang? mm.. apa kau sedang sakit?"
ya, aku sedang sakit bu, aku sakit hati pada menantumu sialanmu itu. batin Prilly
"Prilly.. kenapa kau diam? apa kau sedang sakit?" tanya Ibu Sarah saat melihat Prilly malah terbengong
"eh! tidak bu, aku tidak sakit kok. Aku hanya ingin segera pulang dan beristirahat dirumah saja"
"ya sudah, kalau kau ingin pulang. Tunggu sebentar ya!"
Ibu Sarah lantas masuk dan sedikit berlari menyusul Reyhan dan Melati yang baru saja memasuki pintu rumahnya
"Reyhan tunggu!"
"ada apa bu?"
"kau mau kemana?"
"tentu saja masuk ke dalam bu, memangnya ada apa?"
__ADS_1
"hh.. kau ini bagaimana sih? kenapa malah masuk? itu Prilly mau pulang Rey. Kamu anterin gih!"
"pulang? lalu apa urusannya dengan mas Reyhan bu? kalau tante Prilly mau pulang ya tinggal pulang saja, ini kan masih siang? kenapa harus diantar? masih jam segini masak gak berani pulang sendiri?" sahut Melati tanpa sadar dengan beraninya memotong percakapan mertuanya itu
"diam kamu! Memangnya kenapa kalau ibu meminta Reyhan untuk mengantar Prilly pulang? Apa kamu itu lupa kalau Prilly memiliki jasa besar dalam kesembuhan ibu? Jadi apa salahnya kalau Reyhan mengantarnya pulang? setidaknya, ini adalah sebagian kecil bagian wujud berterimakasih kita padanya"
"tapi bu__"
"sudahlah! jangan mencari alasan lagi untuk mengurung Reyhan. Biarkan dia mengantar Prilly pulang. paling juga tidak lama kok"
Melati diam. Ia hanya menatap sendu pada suaminya. Sebuah pandangan mata yang dimana tatapan itu seolah berbicara dan mengatakan bahwa ia sedang meminta pada sang suami untuk mengatakan tidak.
"Baiklah, aku akan mengantarkannya"
jeduar!!
Bak tersambar petir di siang hari. Begitulah suasana hati Melati saat ini. Ia tak menyangka bahwa sang suami tak memahami apa yang dia isyaratkan lewat tatapan mata.
"baguslah, cepat ya! Prilly sudah menunggu di luar sejak tadi" ucap sang ibu sembari berlalu meninggalkan sepasang suami istri yang masih dalam pemikiran masing masing
"sayang, kau kenapa?"
Tanpa menjawab sepatah katapun, Melati bergegas membalikkan badan dan berlari pergi. Namun belum sempat ia melangkahkan kaki, ternyata Reyhan sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan Melati dan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"ah"
"apa kau marah?" tanya Reyhan yang masih betah memeluk erat tubuh kecil Melati
"kenapa kau masih bertanya? harusnya kan mas itu tau apa yang aku inginkan"
"aku tau kok"
"bohong! kalau mas tau kenapa mas malah mengiyakan permintaan ibu untuk mengantar tante Prilly?"
__ADS_1
"aku hanya tak ingin ada perdebatan di antara kita dengan ibu"
"dengan mengiyakan permintaan ibu dan menyakiti hati juga perasaanku maksut mas?"
"tidak sayang, dengarkan dulu penjelasanku. Aku mengiyakan permintaan ibu karena aku tak mau kita saling berdebat dengan ibu hanya karena masalah sepele seperti ini"
"apa? sepele mas bilang? Mas.. semua permasalahan besar itu akan terjadi jika permasalahan itu sendiri dianggap terlalu sepele. Dan apa mas tau apa dampak dari sikap mas yang sering menganggap sepele permintaan ibu?"
"apa?"
"Dalam permasalahan ini, dengan mas sering mengiyakan permintaan ibu, itu sama saja mas sedang membuka celah untuk orang ketiga masuk dengan mudahnya ke dalam hubungan kita"
"tidak mungkin! itu tidak akan pernah terjadi! aku sangat mencintaimu, aku tidak akan mungkin tega menduakanmu sayang"
"jangan berbicara seperti itu mas! kamu ini hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Bahkan suasana hatimu pun mudah tergoyah. Dan jangan lupakan sifat welas asihmu itu. Kau terlalu baik pada siapapun mas. Semua itu tidak menutup kemungkinan untuk membuat dia masuk ke dalam hidupmu dan merebutmu dariku"
"sayang.. jangan berfikir yang aneh aneh. Aku hanya mencintaimu. Selalu mencintaimu. Dan akan tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Asal kau tahu, selama aku mengenalnya, Prilly itu bukanlah wanita penggoda seperti yang kamu bayangkan. Jikalaupun dia telah berubah menjadi seperti yang kau bayangkan, Percayalah. Aku tak akan tergoda sedikitpun olehnya"
"benarkah?"
"ya"
"bagaimana kalau semuanya terjadi?"
"hukum aku bila terjadi"
"baiklah, aku percaya padamu"
"terimakasih sayang" ucap Reyhan sembari mengecup pucuk kepala Melati.
Semoga saja semua yang kamu katakan benar mas. Karena jujur saja, aku tak yakin kalau wanita itu tak punya niat terselubung untuk merebutmu dariku.
Dan akhirnya, siang itu, Melatipun membiarkan Reyhan untuk mengantarkan wanita bernama Prilly itu untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
.
.