
Setelah kepergian ibu Sarah dan Reyhan, Melati tak langsung pergi. Ia kembali mendudukkan dirinya di kursi yang sama seperti saat ia pertama kali di taman ini.
Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Meskipun ia berusaha tegar dan kuat menerima takdir, tapi nyatanya, satu kali pertemuan saja mampu mengorek kembali rasa sakit yang dulu pernah tercipta.
"aku rasa air matamu itu terlalu berharga untuk laki laki bangsat seperti dia"
Melati yang menutup wajahnya seketika mendongak kala ia mendengar suara yang tak asing baginya
"kak Bobby?"
Bobby hanya tersenyum. Ia ikut mendudukkan dirinya di samping Melati. Keduanya saling berhadapan. Bahkan Melati tak mampu berkutik saat Bobby mengusap air mata di pipinya dengan lembut.
Usapan yang sangat lembut itu mampu menciptakan sensasi hangat tersendiri bagi wanita yang sudah lama tak mendapatkan belaian dari seorang laki laki.
"sudahlah, jangan menangisi hal yang tak pantas untuk ditangisi"
"tapi luka itu kembali terbuka kak"
"apa kau masih mencintainya?"
Melati terdiam.
Entah mengapa melihat hal itu malah membuat hati Bobby merasa risau. Seolah ada perasaan tak suka dan tak rela yang timbul dalam hatinya. Namun Bobby segera menepis hal aneh tersebut.
"hhh.. kalau kau mencintainya, mengapa kau tak memilih kembali saja kepadanya? bukankah dia juga sangat mengharapkanmu? bahkan aku juga melihat betapa besarnya pancaran cinta untukmu yang ada dalam dirinya"
"tidak kak! itu tidak mungkin terjadi. Mas Reyhan adalah masa laluku. Terlepas dari itu, kesalahannya begitu fatal dan tak bisa untuk aku maafkan"
"apa kau menyimpan dendam?"
"tidak! aku menghindar karena aku ingin melindungi hatiku dari rasa sakit yang dulu sudah pernah aku rasakan"
"aku tau kau pasti tetap pada prinsipmu"
"prinsipku? memangnya kak Bobby tau tentang apa dari prinsipku?"
"aku tau semua hal tentangmu"
"oh ya? apa saja?"
"semuanya" . "ah! Sudahlah lupakan saja, yang penting sekarang kita harus secepatnya pergi dari sini"
"kenapa kita harus pergi kak? aku nyaman kok disini"
"hey nona Melati yang anggun nan wangi semerbak sepanjang hari, apa kau tak mendengar bahwa semua cacing dalam perutmu itu sudah berdendang sejak tadi?"
blush
Melati reflek memegang perutnya. Benar saja, sejak tadi cacing cacing di perutnya sudah bergeliat. Karena sejak bangun tidur, perutnya belum terisi apapun.
Karena diam, Bobby segera menggandeng tangan Melati menuju resto seberang jalan yang tak jauh dari kawasan rumah sakit tersebut.
"tunggu kak"
__ADS_1
"ada apa?"
"kenapa kakak bisa keluar dengan memakai baju pasien?"
"itu bukanlah hal yang sulit. Ayo"
Bobby kembali mengajak Melati melanjutkan langkahnya, namun lagi lagi Melati berhrnti mendadak "eh, tunggu kak"
"apa lagi?"
"mm.. bukankah tadi kakak sedang ada tamu?"
"siapa?"
"wanita wanita itu?"
"mereka sudah pergi"
"pergi?"
"ya, aku yang mengusir semuanya"
"kenapa?"
"sudahlah jangan banyak bertanya. cepat kita ke reato itu dan segera mengisi perutmu. Aku tidak mau kau sampai pingsan disini. Terlalu berat untuk aku menggendongmu dengan keadaanku yang seperti ini"
"apa kak Bobby sedang mengataiku besar dan gendut?"
"bisa jadi"
Sementara Bobby hanya menghela nafas berat dan tersenyum sembari mengikuti langkah wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Ya, akhirnya ia termakan ucapannya sendiri. Sebentar lagi harus menjalani pernikahan yang sebenarnya tak ada dalam kamus rencana kehidupannya
Melati, maafkan aku
Setelah sampai di resto, keduanya segera melahap hidangan yang sudaah di pesan. Di meja itu, Bobby benar benar memperlakukan Melati dengan lembut. Sikapnya berubah drastis.
Jika biasanya Bobby terlihat canggung, entah mengapa kali ini ia terlihat sangat lembut dan perhatian. Ia bahkan tak segan segan saat mengusap sisa saus yang tertinggal di sudut bibir Melati
Hal itu tentu membuat Melati merasa aneh karena ia merasa seperti sedang makan berdua dengan seorang kekasih
"Melati"
deg
"Mas Reyhan?"
Melati seketika membeku. Matanya tak henti menatap laki laki yang sedang berdiri di sampingnya. Dan tanpa ia duga, laki laki itu langsung berjongkok di dan menggenggam tangannya sangat erat
"Melati, maafkan aku.. Aku tau aku sangat bersalah padamu. Tapi asal kamu tau, aku sangat menyayangimu. Bahkan hingga di detik ini, aku masih sangat mencintaimu. Aku mohon kembalilah padaku. Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu, aku akan menomersatukanmu"
"maaf mas, aku__" Melati yang baru saja melepaskan tangannya dari genggaman Reyhan seketika terbelalak kala Reyhan malah menahan tangannya dan menggenggam semakin erat serta mencium tangannya berulang kali
__ADS_1
"mas, lepaskan tanganku, jangan seperti ini"
"tidak Sayang, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau berjanji padaku untuk memaafkanku"
"aku sudah memaafkanmu mas"
deg
Reyhan langsung mendongak " benarkah?"
"iya"
"terimakasih sayang.. terimakasih kau mau menerimaku lagi"
"tunggu mas, aku tidak mengatakan hal itu"
"apa? bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau sudah memaafkanku?"
"iya benar. Aku memang sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali bersamamu? aku minta maaf, aku benar benar benar tidak bisa mas"
"tapi kenapa? bukankah aku sudah berjanji untuk selalu membuatmu bahagia"
"apakah sebuah tali yang sudah terputus bisa kembali lagi seperti semula? tidak mas! tali yang terputus tak akan dapat menyambung sempurna seperti sedia kala. Sambungan itu akan tetap terlihat dan meninggalkan bekas meski sudah di satukan dengan berbagai macam cara. Begitu juga dengan hati manusia mas. Sama seperti aku, hatiku tak akan bisa kembali seperti dulu lagi mas. maaf"
Saat genggaman tangan Reyhan mulai melemah, Melati menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tangannya dan berlari menjauh
"Melati tunggu" Reyhan segera mengejar Melati. Namun baru beberapa langkah, pundak Reyhan di cekal oleh Laki laki yang sejak tadi menjadi saksi perdebatan antara mantan suami dan mantan istri.
"jangan ganggu Melati"
bugh
Reyhan reflek memukul Bobby hingga tesungkur
"siapa kamu? jangan ikut campur urusan kami"
"aku jelas berhak ikut campur atas masalah yang sedang dihadapi Melati. Karena dia adalah CALON ISTRIKU" jelas Bobby dengan penuh penekanan di akhir ucapannya
"apa? calon istri? tidak mungkin! aku tidak percaya dengan mulutmu itu"
"terserah! yang pasti, aku adalah masa depannya. Dan kamu adalah masa lalunya. paham?"
Bobby dengan tegap meninggalkan Reyhan yang mematung di tempat.
Beberapa detik berlalu, Reyhan tersadar saat ponselnya berdering.
"___"
"kapan?"
"baiklah, masih ada waktu tiga hari lagi, aku akan mempersiapkan berkas berkasnya"
Bagaimana ini? aku harus merekap ulang semua data keuangan kantor sebelum bos besar datang
__ADS_1
.
.