
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit Pelita Anugerah karena lokasinya memang tak jauh dari mension nenek.
Melati berjalan dengan tergesa menuju ruang UGD. Namun belum sempat ia menuju ke ruangan tersebut, langkahnya tiba tiba saja di hentikan oleh sebuah pemandangan yang cukup menyakitkan baginya.
Ya, pemandangan yang membuat lubuk hatinya menjadi perih dan tergores luka. Bagaimana tidak, di depan matanya ia melihat sang suami tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita.
Bukan hanya berdampingan, namun sang suami juga memeluk punggung wanita itu dan wanota itu juga tengah damai menyenderkan krpalanya ke pundak Bobby.
Ah, sumpah demi apapun, ini sangat menyakitkan. Begitulah gambaran perasaan Melati saat ini, bagai sebuah kaca yang sudah retak dan sebentar lagi akan pecah berantakan.
Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Berulang kali ia menghapusnya, berulang kali juga air mata itu terus mengalir tak henti henti. Bahkan aliran air mata itu semakin deras tak terbendung lagi.
Deg
"Melati" lirih Bobby saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Melati
Karena tak ingin mengganggu keharmonisan yang tengah tercipta diantara mereka, Melati lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Ia berlari secepat mungkin agar Bobby tak dapat mengejarnya. Nafasnya kini terengah ketika sampai di ujung jalan. Ia menoleh ke belakang, ternyata tak ada siapapun yang mengikutinya kecuali orang orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka.
Melati menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bisa bernafas dengan lega saat Bobby ternyata tak mengejarnya. Yah.. meskipun sebenarnya Melati sangat berharap kalau suaminya itu akan berlari mengejarnya, memeluknya, serta mendekap erat tubuhnya lalu sekuat hati berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Melati? kenapa kakak kesini? bukankah kakak baru saja mengabariku kalau kakak ada acara sampai larut malam ini?"
Melati hanya diam di depan pintu rumah Veronica dengan mata yang masih memerah
"kak.. kakak kenapa?"
Melati masih diam saja tanpa respon apapun. Justru air matanya kini malah mengalir satu persatu dari kedua bola mata indahnya
"Kak Melati, apa yang terjadi?" "ayo kak, lebih baik kita masuk dulu"
Keduanya langsung masuk dan menutup pintu rumah kembali. Dan sebelum pintu itu tertutup rapat, Veronica sempat melihat sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan rumahnya. Namun saat Vero hendak mendekat, mobil itu segera pergi dari tempatnya, Hingga Vero pun memilih menutup pintu dan menyusul Melati masuk le dalam
"kak.. apa yang terjadi? kenapa kakak menangis?" tanya Vero penasaran
"Vero, dimana Miko?"
"oh! emm.. dia ada di kamar kak, dia__"
"bolehkah aku bermalam disini?"
"ah, iya tentu"
"terimakasih" "aku akan menceritakannya besok"
"iya kak" jawab Vero
Melati bergegas masuk ke kamar tamu, kamar dimana buah hatinya berada saat ini.
__ADS_1
Di dalam kamar tersebut, Melati hanya dapat memeluk dan menciumi wajah polos putranya sepuas hati. Lama, daBagi Melati, hanyalah laki laki kecil yang ia dekap saat inilah yang mampu menyemangati dan menguatkan dirinya disaat keterpurukan mulai menghampiri.
"sayang.. maafkan mama ya nak.. harusnya mama tidak menikah lagi. Harusnya kita bisa hidup bahagia meskipun hanya berdua. Harusnya mama tidak membawamu ke dalam nasib yang sama seperti dulu"
"apa maksudmu?"
deg
...***...
Bobby yang sedang serius menatap layar laptopnya tiba tiba saja di kagetkan dengan kedatangan seorang perempuan cantik berambut pirang yang menyelonong masuk ke dalam ruangannya.
"cara memberi kejutan untuk istri" ucap wanita itu sembari ikut menatap layar yang ada di depan Bobby
"Jenny? kurang ajar sekali kamu!"
"gak sengaja baca kak"
"kenapa qm kesini? bukankah libur kuliahmu masih satu minggu lagi"
"aku sengaja memherjakan semua tugas dengan cepat, jadi aku bisa pulang sebelum waktunya kak. Maklumlah, anak pintar gitu loh!"
"sombongnya! bilang saja tidak betah disana"
"hehee.. iya kak, America terlalu panas untuk kulitku yang putih ini"
"mm... kak bolehkah pindah kuliah?"
"gak!"
"pliiisss... bantuin aku bilang ke nenek ya? mm.. sebagai imbal baliknya, nanti aku bantuin kakak untuk kasih kejutan buat istri kakak deh! gimana?"
"hh.. pintar sekali kamu"
"ayolah.. bukankah ini sama sama menguntungkan untuk kita? ya kan?"
"baiklah kalau kau memaksa"
"terserahlah, yang penting aku bisa pindah secepatnya. sekarang kita harus pergi"
"kemana?"
"bukankah kau ingin memberi kejutan anniversary untuk istrimu?"
"lalu?"
"ya lalu kita pergi cari hadiah untuk istrimu"
"okeh"
__ADS_1
Akhirnya Bobby pun ikut pergi satu mobil bersama wanita cantik itu.
Ya, dia bernama Jenny. Wanita cantik itu adalah adik sepupu dari Bobby. Lebih tepatnya, nenek mereka berdua merupakan saudara sekandung.
Jenny adalah cucu satu satunya. Sebelum nenek Jenny meninggal, beliau sudah menitipkan Jenny kepada nenek Bobby. Beliau meminta nenek Bobby untuk merawat Jenny yang super bandel itu seperti cucu kandungnya sendiri karena Jenny sudah tak memiliki siapa siapa lagi selain dirinya.
Dan benar saja, nenek Bobby begitu menyayangi Jenny seperti cucu kandungnya. Bahkan Bobby pun juga sangat menyayangi Jenny seperti adiknya. Dan karena saking sayangnya, membuat semua yang diinginkan oleh Jenny selalu mereka penuhi.
"kau yakin ini hadiah yang paling baik?" tanya Bobby
"tentu saja! aku yakin, istrimu pasti sangat senang dan berkesan dengan hadiah ini"
"baiklah"
Setelah berkeliling mall, akhirnya Bobby memilih kalung berlian sebagai hadiah anniversary mereka. Tentunya atas pilihan Jenny.
"kalian dari mana?" tanya sang nenek yang melihat kedua cucunya masuk mension sembari bersenda bergurau
"nenek.. kami habis beli hadiah anniversary buat istri kak Bobby" sahut Jenny
"oh.. "
"nek, sepertinya nenek sedang tidak baik baik saja? apa yang nenek keluhkan?" tanya Bobby yang melihat wajah pucat sang nenek
"tidak, nenek baik baik saja" jawab nenek sembari memegang dadanya. Namun tak berapa lama kemudian, sang nenek jatuh pingsan di sofa tempat mereka berbincang
Dengan segera, Bobby dan Jenny membawa nenek ke rumah sakit terdekat.
"Bik, tolong hubungi istriku dan beritahu keadaan nenek. Suruh istriku datang ke rumah sakit juga ya" pinta Bobby pada asisten rumah tangga
"baik tuan"
Sebenarnya Bobby ingin sekali memberi kabar pada Melati, namun apalah daya, ponselnya kehabisan baterai sejak sore tadi.
ah biarlah aku telat pulang di hari anniversary kita, aku akan jelaskan nanti saja, yang terpenting saat ini adalah nenek. Melati pasti mengerti keadaanku. Begitu pikir Bobby
Namun sepertinya keadaan sedang tak berpihak kepadanya, Nenek yang diharapkan baik baik saja ternyata malah mengalami koma.
Hal itu tentu membuat Bobby dan Jenny terpukul. Jika Bobby masih bisa menyembunyikan kesedihannya, berbeda dengan Jenny, ia seorang wanita, ia pasti akan meluapkan sedihnya dengan menangis.
Melihat adiknya yang menangis sesenggukan, Bobby tak kuasa untuk berdiam diri. Ia segera merangkul dan memeluk erat tubuh Jenny, berharap bisa memberikan sedikit ketenangan untuk adiknya tersebut.
Melati? *Kenapa dia malah pergi? Harusnya kan dia kesini nyamperin aku?
Oh tidak! jangan jangan Melati salah paham gara gara melihat aku memeluk jenny*?
.
.
__ADS_1