Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Hari ini, Esok, Dan Seterusnya


__ADS_3

"sayang.. maafkan mama ya nak.. harusnya mama tidak menikah lagi. Harusnya kita bisa hidup bahagia meskipun hanya berdua. Harusnya mama tidak membawamu ke dalam nasib yang sama seperti dulu" lirih Melati sembari terus mengusap rambut Miko


"apa maksudmu?"


deg


Melati seketika menatap ke arah pintu yang tiba tiba terbuka


"kak bobby?"


"apa maksut perkataanmu tadi?"


"aku__"


"apa kau menyesal menikah denganku?"


"bukan seperti itu kak, aku hanya__"


"hanya apa? hanya sedang menyesali pernikahan kita?"


"a.. aku__" Melati semakin gugup dan tak dapat berkata apapun lagi. Ia bahkan tak bisa berkutik sedikitpun saat Bobby semakin mendekat kearahnya


"kenapa? kau marah aku memeluk seorang wanita?"


Melati diam dan menunduk


"bukankah kau sudah tau bagaimana aku? Bukankah kau juga sangat tahu kalau aku sering bergonta ganti pasangan?"


"kau tahu kan?"


"bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau tak akan mempermasalahkan hal itu karena diantara kita berdua tidak ada cinta? jadi tidak akan mungkin ada yang tersakiti? iya kan?"


"hh.. lalu kenapa kau mempermasalahkan hal ini? kenapa kau marah saat aku memeluk wanita lain? Kau itu benar benar tak bisa di percaya Melati" lanjut Bobby


"stop!" teriak Melati " yah! kau memang benar, aku memang tidak bisa di percaya. Aku munafik! aku dusta! Aku bahkan tidak bisa mempercayai diriku sendiri" Melati menghela nafas panjang


"Bukankah hal itu sangat wajar? Dimanapun seorang istri pasti akan marah saat melihat suaminya memeluk mesra wanita lain di depan matanya"


"aku tau hal itu, tapi kenapa kau malah memilih pergi? kenapa kau tak memilih menghampiriku dan apakah kau tidak ingin mengetahui penjelasan suamimu?"


"maaf jika aku memilih untuk tak melihat adegan mesra kalian. Sebenarnya aku ingin sekali bersikap biasa, tapi nyatanya hatiku tidak sekuat yang aku kira. Aku sakit kak, aku terluka"


"apa itu artinya kau cemburu?" lirih Bobby sembari menangkup kedua pipi Melati dan menatapnya dalam


Melati tak menjawab, ia hanya menunduk dan tak berani menatap mata suaminya


"Melati, tatap mataku"


Dengan perlahan Bobby mulai mengangkat dagu Melati, hingga saat ini keempat manik mata dua insan berstatus suami istri tersebut kini saling menatap dalam.


"katakan dengann jujur. Jawab, apakah kau cemburu?"


"cemburu?"


"ya, apa kau cemburu saat melihatku memeluk wanita lain?"


"mungkin"


"itu bukan sebuah jawaban yang tepat, dari pertanyaan yang aku ajukan barusan hanya ada dua jawaban yang aku inginkan. Antara ya atau tidak"


Melati masih diam, hingga__


cup


Tanpa diduga, Bobby segera mengecup bibir mungil Melati. Hanya sekilas, namun hal itu mampu membuat Melati membeku


"aku.., aku cemburu kak, aku cemburu melihatmu memeluk wanita itu"


"cemburu? itu artinya kau mulai mencintaiku?"


"aku tidak tau"

__ADS_1


"aku yakin kau sudah mulai mencintaiku Melati. Aku sangat yakin"


"mungkin iya" jawabnya lesu


"jika kau sudah mulai mencintaiku, mengapa wajahmu terlihat murung sekali?"


"untuk apa kak? untuk apa rasa yang timbul disaat yang tidak tepat seperti ini?"


"maksud kamu apa?"


"Percuma saja aku mencintaimu kak, karena rasa ini hanya sebelah pihak. Sampai kapanpun semua ini akan tetap percuma jika dalam satu atap tak ada dua hati yang saling melengkapi dan menyempurnakan" seru Melati sembari memalingkan wajahnya dan melepaskan diri dari genggaman tangan Bobby


Tanpa diduga, Bobby pun langsung menggenggam tangan Melati dan menariknya hingga tubuh kecil itu sempurna masuk ke dalam dekapannya


"kak, lepaskan aku" berontak Melati


Bobby tak menghiraukan Melati yang terus berontak untuk melepaskan dirinya. Berontakan itu tak berarti apapun, ia malah semakin memeluk erat tubuh istrinya tanpa jeda.


"kak.. lepaskan aku, kau bisa membunuhku jika terus seperti ini"


"oh maaf" Bobby pun langsung melepaskan pelukannya. Namun buka sepenuhnya melepaskan, melainkan berganti menjadi sebuah tangkupan di wajah cantik Melati.


Ya, tanpa diminta, Bobby langsung menyerbu bibir Melati. Lembut. Sangat lembut. Hingga Melatipun tak kuasa untuk menolak. Ia hanya diam dan memejamkan matanya.


"aku mencintaimu"


deg


Melati tercengang serentak bersamaan dengan berakhirnya sebuah kecupan lembut itu. Kecupan indah yang berakhir dengan satu kalimat singkat mampu menggetarkan seluruh tubuh Melati.


"apa? apa yang kakak katakan barusan?" lirih Melati


"apa kau tak mendengarnya?"


"aku tidak mendengar jelas apa yang kak Bobby katakan"


"apa kau ingin aku mengulanginya?"


"tentu saja"


"ya sudah, kalau begitu aku marah"


"jangan dong! baiklah, dengar baik baik ya, karena ini yang terakhir. Jika kau tak mendengar baik baik, maka takkan ada siaran ulang lagi. mengerti?"


"heemm.."


Dag Dig Dug


Begitulah kiranya bunyi detak jantung Melati saat ini. Saat tangan kekar suaminya terus menangkup pipinya.


Ups, bukan itu yang membuat Melati deg degan. Tapi sebuah kata yang sebentar lagi akan ia dengar dari bibir Bobby.


Sebenarnya bukan tidak mendengar, Melati mendengar sangat jelas bahwa Bobby baru saja mengatakan cinta kepadanya. Meski jauh dari lubuk hati yang paling dalam sangat menginginkan itu, namun ia tak berani berharap lebih dari yapa yang ia dengar. Ia bahkan tak mempercayai telinganya sendiri, apalagi dengan harapannya?


"Melati, Istriku, Cintaku, Sayangku, Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi pendamping hidupku untuk hari ini, esok, dan seterusnya?"


"benarkah apa yang aku dengar?"


"ya"


"kak.. apakah aku sedang bermimpi? jika iya, tolong jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini"


"tidak. Kau sedang tidak bermimpi sayang"


"cubit aku kak"


aawww


teriak Mrlati saat Bobby benar benar mencubit pipinya.


"kenapa teriak?"

__ADS_1


"kenapa kakak mencubitku?"


"Memangnya kenapa? bukankah kau yang meminta untuk dicubit?"


"ah iya, tapi gak sekeras itu juga kali.. sakit tau"


"hee.. maaf. Kalau begitu, apa kau sudah sadar?"


"tentu saja"


"lalu?"


"lalu..." "mm... lalu.."


"buruan"


"lalu... mm.. aku.. aku.. aku juga memcintaimu kak. Aku mencintaimu suamiku"


"really?"


"yaa.."


"oh istriku sayang.. terimakasih atas perasaan yang kau berikan. Aku sangat senang. Akhirnya rasaku terbalas juaga"


"aku yang harusnya berterimakasih padamu kak. Kau yang sempurna mengangkatku dari kubangan hina"


"sudahlah, sekarang kita adalah suami istri. Kita harus saling melengkapi. bukankah begitu?"


"ya"


"ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang"


"tunggu kak!"


"ada apa?"


"lalu bagaimana dengan nasib wanita itu? apa kakak akan mencampakkannya begitu saja?"


"jangan berfikir macam macam. Dia itu keponakanku. Dia sedang bersedih karena keadaan nenek"


"ah iya kak. Bagaimana keadaan nenek?"


"nenek sedang kritis"


"astaghfirullah.. kalau begitu lebih baik kita kesana saja sekarang. Aku ingin lihat keadaan nenek kak"


"kita pulang dulu saja ya sayang"


"pulang? ngapain pulang kak?"


"olahraga dulu. sebentar saja. ya.. ya.. ?"


"apa!?? kakak sudah gila ya? dalam keadaan seperti ini masih saja memikirkan kepentingan diri sendiri" gerutu Melati.


"baiklah, kita tidak pulang. tapi.." Bobby keluar sembari mengangkat tubuh Miko yang sedang terlelap.


Tak berapa lama kemudian, ia masuk dan mengunci pintu kamar itu. Dengan cepat, ia membuka seluruh baju yang ia kenakan lalu menindih tubuh Melati di atas ranjang


"stop! apa yang kakak lakukan? dimana Miko?"


"dia sudah berada di tempat yang aman"


...***...


Sementara di kamar lain, ada sepasang suami istri yang terus menggerutu. Lebih tepatnya hanya suami, karena sang istri malah tidur hangat sembari memeluk tubuh kecil Miko.


"dasar laknat. Dia enak enakan, aku yang hrus nahan!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2