Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Sekali Seumur Hidup


__ADS_3

Malam telah tiba. Suasana yang mulanya sangat ramai dan berisik, kini mulai tenang dan sepi hingga membuat kedua mempelai memutuskan masuk ke dalam kamarnya.


"sini aku bantu"


Deg


Jantung melati tiba tiba berhenti berdetak saat ia merasa ada sebuah tangan kekar mulai menyentuh punggungnya.


Ya, itu adalah tangan Bobby, laki laki yang beberapa jam lalu telah menghalalkannya.


Ups! Jangan berfikir yang aneh dulu, karena Bobby hanya membantu Melati melepaskan resleting gaun pengantin yang ia kenakan saat resepsi tadi.


"terimakasih kak"


"lebih baik kau mandi dulu, setelah itu gantian aku"


"i..iya"


Melati segera melesat ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dengan cepat. Namun saat ia sudah selesai dan hendak keluar, tiba tiba saja ia mengurungkan niatnya untuk keluar karena lupa tak membawa handuk atau kain apapun kecuali gaun pengantin yang ia pakai tadi.


"duh.. bagaimana ini? bagaimana caraku untuk keluar? tidak mungkin kan aku keluar dengan keadaan telanjang seperti ini?"


Melati terus mondar mandir kesana kemari hingga tubuh yang semula basah kini berubah menjadi kering


"kak Bobby" teriak Melati dari dalam


"kak, tolong ambilkan handuk"


"kak, kak Bobby" ulang Melati


Entah dimana laki laki itu, perasaan dia masih ada dikamar, tapi mengapa ia tak menyahut panggilan istrinya. Begitu pikir melati


"kemana kak Bobby? kenapa tak menyahut? apa dia sedang keluar ya?"


"kalau begitu aku keluar saja deh, sepertinya aman"


Melati pun keluar dengan menempelkan gaun pengantin di depan tubuhnya hingga bagian sensitifnya dapat tertutup meski bagian belakangnya masih utuh terlihat. Ya, setidaknya itu lebih baik dari pada harus keluar tanpa kain apapun.


Melati berjalan mengendap. Kepalanya celongukan kesana kemari, namun ia tak menemui suaminya.


huuuhffftt


Melati bernafas lega saat ia sampai di depan lemari.


"bajumu ada di sebelah sana"


"aaa" teriak Melati saat mendengar sebuah suara yang tiba tiba saja muncul di belakangnya

__ADS_1


"kk..kkak Bbobby"


"cepatlah ganti pakaianmu, sebelum kau masuk angin"


"sejak kapan kakak berdiri di belakangku?"


"sejak kau keluar dari kamar mandi"


"jadi kak Bobby lihat aku dong?"


"tentu saja"


blush


rona pipi Melati seketika memerah. Dengan segera ia mengeratkan gaun pengantin yang ia pegang ke bagian tubuh sensitifnya lalu berlari menuju ruang ganti.


Sementara Bobby, ia lantas masuk ke kamar mandi dengan santai. Rupanya dia sejak tadi berada di balkon. Bukan hanya mencari angin segar, tapi lebih cenderung ke pemilihan keputusan.


Sebenarnya Bobby tengah berada diambang keraguan. Memberikan malam pertama tanpa rasa, atau menunda malam pertama sembari menimbulkan rasa.


Karena jujur saja, sampai detik ini pun, Bobby belum memiliki rasa pada wanita yang ia nikahi, terlebih rasa cinta, belum sedikitpun rasa itu timbul dalam hatinya. Namun setidaknya ia sudah memiliki rasa nyaman. Dan Bobby yakin, rasa nyaman itu lambat laun akan berubah menjadi rasa suka dan rasa cinta.


Tapi Bobby bukanlah lelaki brengsek, ia memiliki prinsip sekali seumur hidup. Jika ia memutuskan untuk menikah, maka ia akan menjadikan pasangan itu selamanya.


Setelah keduanya sama sama selesai berganti pakaian, merekapun sama sama berbaring di atas ranjang yang sama namun dengan posisi yang saling memunggungi


"bukankah posisi seperti ini lebih baik?"


Melati hanya mengangguk dan tersenyum


"aku tau kau sangat gugup. Begitupun sebaliknya. Aku pun merasakan hal yang sama sepertimu. Karena jujur, ini adalah pertama kali aku tidur seranjang dengan seorang wanita"


"benarkah?"


"apa kau tak percaya?"


"aku__"


"aku tau kau pasti tak akan percaya"


"bukan seperti itu kak, aku hanya__"


"Stop! jangan teruskan! aku sudah tau apa yang akan kau katakan. Maka dari itu, untuk membuktikan bahwa apa yang kau pikirkan tidak benar, sebaiknya kita lakukan ritual secepatnya"


"ritual apa kak?"


"ritual malam pertama" bisik Bobby yang membuat Melati bersemu malu

__ADS_1


Dan saat Melati menunduk, dengan perlahan Bobby mulai mengangkat dagu istrinya itu. Dengan pelan dan pasti, ia mulai mendekatkan wajahnya, menyentuh bibir tipis dan mengecupnya sedikit lama.


Merasa tak ada penolakan, Bobby melancarkan aksinya. Ia mulai meluma* dan menghisap seluruh rongga mulut Melati.


Melati yang awalnya malu dan ragu, kini mulai terpancing untuk mengikuti permainan yang di ciptakan suaminya.


Karena mau bagaimanapun, ia adalah seorang wanita dewasa yang bisa saja haus akan belaian seorang lelaki. Dan saat ia bisa merasakan sentuhan kembali dari seorang lelaki, hasratnya pun seketika bergejolak untuk mendapatkan yang lebih.


Entah siapa yang memulai lebih dulu, kini keduanya sudah sama sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Dan bahkan saat ini, tubuh Melati sudah sempurna berada dalam kungkungan Bobby.


"bolehkah aku melakukannya?"


"hmm" Melati mengangguk tipis sembari tersenyum malu


Hanya dalam hitungan detik, Bobby mampu menjebol gawang milik Melati. Perlahan, ia mulai menggerakkan pinggulnya seiring dengan hentakan permain berkudanya.


Dan malam ini, di kamar inilah saksi bisu penyatuan dua insan yang baru saja berstatus suami istri menuntaskan kewajibannya hingga mereka saling menggelinjang mencapai ******* dan terkulai lemas.


"Melati.. kau kenapa?" tanya Bobby saat melihat ekspresi wajah Melati yang nampak murung


"kak, aku minta maaf"


"minta maaf? untuk apa kau meminta maaf? memangnya kesalahan apa yang sudah kau lakukan?"


"aku bukanlah wanita yang sempurna untuk kakak. Aku sudah pernah terpakai"


"bukankah aku sudah tau akan hal itu? kenapa kau harus mempermasalahkan? sedangkan aku saja tak peduli akan hal itu"


"tapi kan harusnya kakak bisa dapatkan yang pertama"


"aku tak ingin menjadi yang pertama jika itu bukanlah dirimu"


"tapi aku merasa bersalah kak"


"sudahlah, itu bukanlah kesalahan. Kau adalah seorang janda. Dan aku sudah tau resiko menikahi seorang janda. Termasuk tidak mendapatkan keperawanan seorang istri. Jadi jangan pernah menganggap ini sebuah kesalahan, anggaplah semua yang terjadi pada kita adalah takdir yang sudah tertulis. Jadi kita hanya perlu menjalani dan menikmati alurnya. Kau mengerti?"


Melati mengangguk dan tersenyum. Hal itu membuat Bobby bisa menghela nafas lega. Ia mengusap lembit kepala Melati dan mendekapnya dalam balutan selimut hangat.


Huuhhfftt...


Ternyata benar yang dikatakan Saka. Seorang lelaki bisa meniduri wanitanya meski tanpa rasa cinta.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2