
"ada apa?"
"Reyhan?" Prilly langsung berlari dan memeluk tubuh laki laki yang sangat ia rindukan satu minggu ini.
Ya, karena selama lebih dari satu bulan ini Reyhan selalu menghindari Prilly. Bahkan di satu minggu terakhir, Prilly tak dapat melihat wajah Reyhan karena laki laki yang sudah menggaulinya itu tengah di tugaskan keluar kota. Dan Reyhan sengaja meminta pada pihak perusahaan agar tak ditugaskan dinas keluar kota bersama Prilly.
"Prilly, apa yang kamu lakukan? jaga sikap kamu! bagaimana kalau sampai istriku melihatnya? dia pasti akan salah paham" ucap Reyhan sembari melerai pelukan Prilly
"memangnya kenapa kalau sampai dia melihatnya? bukankah kita juga pernah melakukan hal yang lebih dari ini?"
"jangan sembarangan kalau bicara!" Reyhan membekap mulut Prilly dan berbicara lirih tepat di telinga wanita itu "apa yang terjadi waktu itu hanyalah sebuah kecelakaan. Dan aku tau bahwa kaulah yang menjebakku"
"kau selalu menuduhku yang menjebakmu, apa kau punya bukti?"
"bagaimana aku bisa membuktikannya kalau kau terlalu rapi dalam melakukan penjebakan itu? kau itu sangat licik"
"hahaha.. Reyhan, Reyhan, kau itu berbicara seolah olah aku ini seorang penjahat. Padahal pada kenyataannya, kau itu tak kalah bejatnya denganku. Jangan munafik Rey.. kita melakukannya atas dasar suka. Tak ada paksaan diantara kita. Dan kau pun sangat menikmatinya"
"kita tidak sama! aku tidak sadar pada saat itu"
"ah sudahlah! aku tak ingin berdebat denganmu. Terlepas dari sadar atau tidak, karena perbuatanmu itu kini telah menumbuhkan sebuah kehidupan baru di rahimku"
"apa maksut kamu?"
Prilly tak menjawab. Ia segera membuka tas kecil yang ia tenteng dan mengambil sebuah amplop bertuliskan Medika Hospital lalu menyerahkan pada Reyhan
Bukan karena tak tau. Reyhan pun sangat mudah untuk memahami dan mecerna ucapan Prilly. Namun ia hanya mencoba menolak atas kemungkinan besar yang terjadi.
Dengan tangan gemetar dan berjuta rasa takut, Reyhan memberanikan diri untuk membuka dan membaca satu lembar kertas tersebut.
Deg
positif? itu artinya? Prilly hamil? tidak! tidak mungkin! ini tidak mungkin terjadi!
"bagaimana Rey? kau sudah memahaminya kan?"
"tidak! ini pasti tidak benar! ini pasti salah! bagaimana mungkin kau hamil?"
"Rey! kau itu jangan berpura pura bodoh! kau lupa kalau selama kita bercinta, kau selalu membuangnya di dalam?"
__ADS_1
"tapi aku hanya melakukannya waktu sore itu"
"ya, tapi kau melakukannya tidak hanya sekali. kau melakukannya berulang kali Rey!"
"lalu apa maumu?"
Prilly nampak terdiam. Dan itu mrmbuat Reyhan semakin merasa kebingungan
apa yang harus aku lakukan?" Reyhan menjambak rambutnya frustasi. Matanya bahkan sudah terlihat memerah menahan amarah
"Nikahi dia!" Sebuah suara tiba tiba menyahut dari belakang mereka
"ibu?" Sapa Prilly dan Reyhan bersamaan
"Rey, kau harus menikahi Prilly secepatnya! sebelum perutnya semakin membesar!"
"tidak mungkin bu, aku tidak mungkin menikahi Prilly, aku sudah memiliki istri. Aku tidak mungkin menyakiti istriku bu"
"apa kau tak sadar kalau apa yang sudah kau lakukan ini juga menyakiti istrimu?"
"tapi aku tidak bermaksut bu. Aku hilaf. Aku tidak sadar. Aku melakukannya di bawah pengaruh obat yang di berikan Prilly padaku"
"tapi bu__"
"tidak ada tapi tapian. secepatnya kalian harus menikah"
"terimakasih bu" Prilly memeluk sang calon ibu mertua dengan manja.
Sementara Reyhan, ia memilih pergi dari sana. Meninggalkan dua wanita yang saling berpelukan itu.
Deg
Saat Reyhan berbalik badan, tiba tiba tubuhnya membeku di tempat kala tatapannya tertuju pada sosok wanita yang menjadi istrinya.
Ya, ternyata sejak tadi Melati mendengarkan semua pembicaraan antara Prilly dengan suaminya. Bahkan ia melihat sendiri bagaimana saat wanita itu terus mencoba berhelayut manja di lengan dan bahu suaminya.
Lalu bagaimana dengan Melati?
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan wanita beranak satu itu. Sudah pasti saat ini hatinya tengah hancur berkeping keping.
__ADS_1
Suami yang ia anggap sangat baik dan setia, ternyata tega menghianatinya. Bahkan yang lebih parahnya, suaminya itu sampai meninggalkan benih pada rahim wanita lain.
Melati benar benar tak menyangka semua ini akan terjadi. Padahal ia sangat tahu jelas bahwa suaminya itu bukanlah tipe laki laki yang haus akan ***.
Bagaimana tidak? Dengan istrinya saja Reyhan tak begitu sering meminta jatah hubungan intim. Apalagi dengan wanita lain? Begitu pikir Melati.
Reyhan segera naik dan menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mereka. Sebenarnya ia merasa sangat takut, ia bingung bagaimana caranya menjelaskan pada sang istri. Karena Reyhan sangat tau bagaimana prinsip sebuah hubungan yang di terapkan oleh Melati.
Reyhan tak peduli. Ia melawan rasa takutnya dan ia akan mencoba menjelaskan sekuat tenaga untuk meyakinkan bahwa dirinya hilaf dan tak sengaja melakukan itu.
Ia bahkan akan memohon pada Melati untuk tetap mempertahankan hubungan mereka. Jika perlu, Reyhan akan memohon, tunduk dan mencium kaki Melati agar mau memaafkan dirinya.
Ya, Melati pasti akan memaafkanku. pikir Reyhan.
"sayang" panggil Reyhan saat memasuki pontu kamar yang tak tertutup
Deg
"sayang, apa yang kamu lakukan?"
Melati diam. Ia tak berselera untuk menyahut panggilan suaminya. Ia pun memilih terus melanjutkan kegiatannya mengemasi pakaian ke dalam koper.
"sayang"
Melati tetap diam
"sayang stop!" teriak Reyhan sembari menggenggam erat kedua pergelangan tangan Melati. Semakin erat hingga membuat Melati meringis kesakitan karena pergelangan tangan putih itu kini sedikit berwarna kemerahan.
"maaf" lirih Reyhan melepaskan genggaman tangannya saat menyadari bahwa dirinya telah menyakiti sang istri
"sayang, tenanglah dulu, jangan seperti ini. Kita bicara baik baik ya"
"kenapa kita harus bicara baik baik kalau hubungan kita saja sudah jelas jelas tidak baik mas?"
jeduar..
.
.
__ADS_1
.