
Reyhan benar benar hancur dan putus asa. Niat hati ingin memperjuangkan Melati, tapi apalah daya? yang sedang di perjuangkan justru memutus tali ikatan yang menghubungkan antara mereka.
Ya, atas bantuan dari Kejora dan suaminya, Melati dapat dengan mudah mengurus perceraian dengan suaminya tanpa harus bersusah payah untuk mendatangkan Reyhan di acara sidang tersebut.
Disaat Reyhan tengah menangis dan mengamuk, sementara di luar pintu, sang kurir pengantar paket itu justru terlihat mengembangkan senyum lebar sembari menatap kebodohan laki laki yang baru saja kehilangan berliannya.
Ya, dia adalah Rama, lali laki yang di tugaskan oleh Kejora untuk menjaga dan mengawasi Melati dari kejauhan.
Selama ini, Rama tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah yang ditempati Melati dan Reyhan. Rama benar benar menjalankan tugas dari Kejora dengan sangat baik.
Sebenarnya Rama bisa saja membongkar dan memberikan bukti bukti penghianatan Reyhan kepada Melati sejak lalu, namun ia tak melakukannya karena ia ingin memberikan waktu pada sepasang suami istri itu untuk menyelesaikan masalah mereka dengan seiring waktu yang berjalan.
Dan benar saja, setelah semuanya terbongkar dan Melati merasa tak sanggup lagi untuk bertahan, barulah Rama membawanya pergi dari kota ini sesuai perintah nyonya Kejora.
"kau dari mana saja? kenapa sejak semalam susah sekali di hubungi?" tanya Kejora
"maaf nyonya, saya baru pulang dari mengantarkan surat perceraian nona Melati"
"apa? jadi kau mengantarkan surat itu sendiri? bukankah aku menyuruhmu untuk memberikannya pada kurir?"
"iya nyonya, tapi saya ingin melihat langsung bagaimana laki laki bodoh itu menyesal dan menangisi kebodohannya"
"benarkah? lalu apa keuntunganya utukmu?"
"emm.. itu nyonya, anu.."
"ah ya.. atau jangan jangan kau mulai menyukai Melati ya? hayo ngaku?"
"apa? suka? tidak nyonya, saya hanya kasihan saja pada nasib nona Melati, tidak lebih"
"baguslah.. ingat ya Ram, kau ini sudah memiliki tunangan. Jadi jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Kau mengerti?"
"iya nyonya"
"ya sudah, sana lanjutkan pekerjaanmu"
"baik nyonya"
Rama segera masuk ke dalam, namun baru saja selangkah ia maju, tiba tiba saja ia menghentikan langkahnya kembali dan berbalik menghadap sang nyonya.
"ada apa lagi?"
"maaf nyonya, bolehkah saya bertanya?"
__ADS_1
"tanya apa?"
"apa nyonya melihat dimana Miko?" tanya Rama saat tidak melihat Miko sejak tadi. Karena biasanya bocah kecil itu akan menunggunya di taman bermain samping mansion megah Kejora. Tentu saja bocah kecil itu selalu di temani sang mama.
"kau itu sedang mencari Miko atau Melati?"
"tentu saja saya sedang menanyakan dimana Miko? kenapa nyonya malah bertanya seperti itu?"
"oh.. ya bisa saja kan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui"
"maksut nyonya?"
"lupakan saja, Miko ada di kamarnya. Dia sedang bermain dengan suster"
"terimakasih nyonya. Saya permisi dulu"
Dengan segera, Rama mendatangi kamar Miko. Entah memgapa ia ingin sekali bertemu dengan anak itu. Mungkin ia terlanjur menyayangi Miko seperti putranya sendiri. Karena sejak pertama Melati dan Miko tinggal di mansion Kejora, sejak itu pula Miko menjadi dekat dengannya. Bahkan mereka hampir bermain bersama setiap hari.
Sudah hampir lima belas menit Rama berada di kamar Miko. Namun ia tak melihat Melati sejak tadi. Awalnya Rama memang ingin terlihat cuek dan tak peduli pada wanita yang baru saja berstatus janda itu. Namun jauh dari lubuk hatinya, ia merasa penasaran akan keberadaan Melati saat ini. Karena biasanya, setiap ada miko, pasti ada Melati disana.
"Miko"
"ya om"
"mama sedang pelgi om"
"pergi? pergi kemana?"
"Miko juga tidak tau. Tapi tante Kejola bilang mama gak lama kok perlginya. Makanya, Miko di beliin mainan banyak banget sama tante Kejola"
"kamu tau kemana nona Melati pergi?" tanya Rama pada suster penjaga Miko
"saya tidak tau tuan"
"jangan berbohong, bagaimana mungkin kau tidak tau? bukankah kau bertugas disini sejak pagi?"
"iya tuan, tapi tugas saya hanya menjaga Miko. Dan saat saya sampai disini, non Mrlati sudah tidakada. Selebihnya saya tidak tau apa apa"
"ya sudahlah.."
Rama keluar dari kamar Miko. Ia menyenderkan punggungnya pada dinding. Entah mengapa pikirannya mendadak tidak tenang. Ia seperti ketakutan akan terjadi sesuatu pada Melati. Karena ia sangat tau bahwa wanita itu sedang dalam mode hancur.
"Ram.. kau kenapa?"
__ADS_1
"eh, nyonya"
"kau itu kenapa? kok malah melamun disini?"
"tidak apa apa nyonya. Saya akan kebelakang dulu. Permisi" Rama segera berlalu pergi. jujur, Rama malah merasa malu atas sikap nyonya besarnya barusan yang menuduhnya menyukai Melati.
"apa kau ingin tau dimana Melati?"
Deg
Seketika Rama terdiam di tempat. Ingin sekali ia berteriak mengatakan IYA, tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
"Aku sengaja menyuruh Melati untuk menenangkan dirinya sejenak. Aku melihat dia seperti tertekan batin karena perpisahannya dengan laki laki bodoh itu"
"menenangkan diri? maksut nyonya? memangnya nona Melati pergi kemana sekarang?"
"aku menyuruh Boby untuk membawa Melati jalan jalan dan refreshing entah kemana saja yang terpenting Melati bisa menghilangkan pikiran penat dan stres"
"Boby? kenapa nyonya menyuruh Boby?"
"memangnya kenapa dengan Boby?"
"dia itu kan si penjahat wanita"
"huss.. jangan ngawur kamu! dia itu hanya seorang yang diberi kelebihan dalam merayu wanita"
"ya kan sama saja nyonya.. Bagaimana kalau Nona Melati dirayu Boby?"
"ya gak papa dong kalau Melatinya mau. Lagi pula, sebenarnya Boby itu anaknya baik kok.. hanya saja dia itu kurang beruntung dalam nasib percintaannya"
"saya tidak setuju"
"apa?"
"mm.. maksut saya, saya hanya kasian pada nona Melati nyonya. Saya tidak mau kalau nona Melati sampai jatuh dua kali kelubang yang sama menyakitkannya"
"tidak akan pernah! tenang saja. Boby tidak mungkin berani melakukannya" sahut Kejora sembari berlalu meninggalkan Rama begitu saja.
Kemana Boby membawa pergi non Melati? ah, ini tidak bisa dibiarkan! aku harus mencarinya sekarang juga sebelum terlambat!
Saat Rama memutuskan untuk pergi. Sememtara itu, Kejora hanya tersenyum tipis menatap kepergian salah satu pengawalnya itu.
.
__ADS_1
.