
Melati yang baru saja mengerjapkan mata langsung terbangun dari tidurnya kala sinar matahari mulai masuk menembus jendela kaca yang telah terbuka dan menyilaukan pandangannya.
"jam berapa ini? kenapa sudah terang sekali"
Melati nampak celingukan dan terkejut saat melihat jam weker yang ternyata sudah menunjukkan pukul 07.35
Entah karena kelelahan atau karena sakit hati semalam, Melati malah tertidur pulas dan bahkan ia sampai bangun kesiangan. Ia bahkan tak dapat menyiapkan sarapan dan perlengkapan kerja suaminya pagi ini.
Karena putranya masih terlelap, Melatipun segera keluar kamar dan berniat melihat sang ibu mertua.
Namun saat ia sampai di ruang tengah, ternyata ibu mertuanya itu sudah bersih rapi dan sedang duduk santai sambil bermain ponsel pemberian Reyhan semalam.
"ibu.." lirih Melati
Sementara yang dipanggil hanya menatap sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada ponsel kembali.
"ibu, apa ibu sudah mandi?"
"tentu saja sudah, ibu bisa jamuran kalau harus nunggu kamu sampai bangun. Dasar pemalas!"
"memangnya siapa yang membantu ibu mandi?"
"kamu pikir siapa yang bisa membantu ibu disini selain anak ibu?"
"oh.. lalu mas Reyhan? sekarang dimana ya bu?"
"ternyata kau itu benar benar istri tak berguna, bukankah kau bisa melihat jam berapa ini? kenapa kau malah bertanya dimana suamimu? harusnya kau itu tau kan kalau sudah jam segini itu ya pasti suamimu sedang sibuk bekerja dan mencari uang"
"maaf bu, tubuhku sangat lelah, jadi aku tak dapat terbangun seperti biasanya"
"helleh, alesan!" sahut ibu Sarah yang kembali fokus memainkan ponselnya.
Sementara Melati hanya mampu menghela nafas kasar dan membuangnya cepat. Menghilangkan penat yang sejak tadi menyesakkan dada karena jawaban sang mertua.
Ia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya dan bersiap siap untuk belanja keperluan rumah tangga.
__ADS_1
Melati memilih berbelanja di dalam mall besar yang terletak sedikit jauh dari rumahnya. Rntah mengapa kali ini ia ingin sekali masuk ke mall ini. Padahal biasanya ia hanya akan berbelanja di pasar umum.
Melati berjalan santai dengan membawa Miko yang ia taruh di dalam troli yang ia dorong. Memilih satu persatu beberapa barang yang ia butuhkan untuk keperluan dapur dan lain lain.
Karena lelah berkeliling, Melati dan Miko pun mampir ke sebuah resto yang terletak di lantai dasar mall tersebut. Sejak pagi mereka belum sarapan, jadi Melati rasa tak ada salahnya jika ia makan disana.
Sekalian ia merasakan makan di resto mall. Karena sejak menjadi istri Reyhan, ia tidak pernah sekalipun diajak refreshing atau hanya sekedar dinner berduapun ia tak pernah merasakannya.
Saat Melati tengah asik menikmati hidangan yang ada di depannya, tak sengaja matanya menangkap sosok lelaki yang sangat ia kenal sedang duduk berdua bersama seorang wanita.
Mas Reyhan? sedang apa mas Reyhan di sini? Dan siapa wanita itu? Kenapa mereka hanya berdua?
Melihat sang suami tengah asik tertawa bersama seorang wanita, tentu saja membuat hati Melati serasa terbakar.
Melati segera berdiri dan menghampirinya. Namun saat beberapa langkah ia berjalan, tiba tiba saja segerombolan orang berbaju rapi ikut duduk dan bergabung bersama mereka berdua.
Hal itu pun membuat Melati mengutungkan niatnya untuk mendekat. Dan hati Melati menjadi sedikit tenang saat ia mendengar bahwa mereka semua tengah membahas masalah pekerjaan.
Ya, Melati yakin bahwa suaminya itu tengah meeting di luar kantor. Hingga akhirnya Ia pun memilih pulang kerumah tanpa menyapa sang suami dengan alasan takut mengganggu.
Beberapa minggu kemudian.
Namun beberapa hari ini ada yang begitu berubah dari sikap sang ibu kepadanya. Ya, sudah hampir satu minggu ini ibu Sarah tak lagi mau makan masakannya.
Entah karena alasan apa, Melati pun tak pernah tau. Pernah sekali ia menanyakan langsung pada sang mertua, namun jawabannya tak serta merta membuat hatinya lega.
Ibu Sarah hanya menjawab makanan buatannya tidak enak. Bukankah itu hal yang aneh? Karena sejak awal tak pernah ada masalah tentang makanan buatannya. Dan bahkan sampai saat ini pun Melati tetap membuat menu masakan dan cara masak yang sama seperti biasanya.
"papa"
Suara kecil Miko mampu menyadarkan lamunan Melati. Ia menatap ke arah pintu yang dimana ada seorang ayah dan anak saling berpelukan.
Melati hanya dapat memandang haru pada Miko. Ia sangat yakin bahwa putranya itu sangat merindukan main dan bercanda bersama dengan Reyhan.
Karena sejak ada sang ibu dirumah mereka, seluruh perhatian Reyhan hanya tertuju pada ibunya.
__ADS_1
"mas, kau sudah pulang"
"ya, ini tolong kamu taruh di piring dan berikan pada ibu ya. ibu pasti belum makan kan?"
"belum"
"ya sudah cepat, ibu keburu lapar nanti"
"iya mas"
Tanpa banyak kata, Melatipun melaksanakan perintah suaminya dengan sesegera mungkin.
Setelah selesai, Melati kembali bergabung bersama dengan anak dan suaminya. Ia begitu senang melihat Reyhan meluangkan sedikit waktunya untuk menemani Miko bermain.
"apa kau sudah memastikan ibu memakan makanannya?"
"sudah mas"
"baguslah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya" ucap Reyhan sembari berdiri dan melangkah masuk
"mas tunggu!"
"ada apa?"
"bisa kita bicara?"
"bicara apa? katakanlah"
"mm.. jangan sekarang deh, nanti malam saja kalau Miko sudah tidur"
"oh, oke.. baiklah aku ke kamar dulu kalau begitu"
Tanpa banyak kata, Reyhan pun masuk ke kamar mereka. Meninggalkan Melati yang masih bingung akan sikap cuek Reyhan akhir akhir ini.
.
__ADS_1
.
.