
"eeuuhh" Sebuah suara lenguhan terdengar dari bibir Bobby.
Sepertinya laki laki tampan itu sudah terbangun. Melatipun segera mendekat "kak Bobby sudah bangun?"
"kok non Melati masih ada disini?"
"iya kak, aku sengaja ingin menunggu dan merawat kak Bobby sampai sembuh"
"nona tidak perlu repot repot melakukan ini. Saya gak papa kok"
"gak papa gimana? kakak sampai bersandar di rumah sakit kayak gini kan gara gara aku. Gara gara aku ga bisa jagain anakku. Jadi biarlah aku menebus kesalahanku dengan merawat kakak seperti ini. Apa kakak keberatan?"
"Kalau saya sih seneng seneng aja dirawat sama wanita cantik seperti non Melati"
blush
Rona pipi Melati seketika memerah bak kepiting rebus kala mendengar pujian dari Bobby. Namun sebisa mungkin Melati mencoba menyembunyikan rasa canggungnya saat ini.
Entah mengapa Melati merasa ada sesuatu yang beda pada dirinya kala bersama Bobby saat ini. Padahal beberapa jam yang lalu, ia terlihat biasa saja tanpa ada rasa canggung, sungkan ataupun malu saat berdua dengannya.
Apa mungkin karena permintaan nenek Bobby tadi? pikir Melati
"tapi non, bagaimana dengan Miko? dia dimana?"
"Miko dirumah. Kata kak Kejora, Miko aman terkendali"
"syukurlah" Sahut Bobby sembari tersenyum tipis kearah Melati
Deg
Melati memegang dadanya yang kini mulai terasa aneh. Hanya melihat Bobby tersenyum, Debaran jantung Melati seakan terpompa semakin cepat. Ini benar benar aneh menurut Melati.
sepertinya aku juga harus cek up ke dokter untuk memeriksakan kesehatan jantungku.
"oh ya, kak Bobby kan belum makan. Gimana kalau aku suapi"
"boleh. Memangnya kamu bawa makanan apaan?"
"ini bubur ayam pemberian nenek"
"apa? nenek? maksut kamu?"
"iya, nenek kamu"
__ADS_1
"uhuk uhuk uhuk"
Bubur yang baru saja masuk sesuap itu harus tersembur keluar saat mendengar bahwa sang nenek mendatangi Melati. Dan itu artinya, sang nenek benar benar ingin mewujudkan syarat yang diajukannya beberapa hari yang lalu.
"kak, pelan pelan dong, ini minum dulu"
Bobby segera meneguk habis satu gelas penuh air putih yang di berikan Melati padanya.
"non Melati, apa yang nenek bicarakan padamu? apa dia mengancammu? apa dia memarahimu? apa dia mengganggumu?"
"tidak kok, nenek sangat baik padaku. Tapi.."
"tapi apa?"
"tapi kakaklah yang tidak baik padaku"
"tidak baik padamu? maksutnya?"
"kenapa kakak tidak bilang kalau kakak ini adalah orang kaya? kenapa kakak malah memilih menjadi seorang pengawal? bahkan kakak dengan sukarela menjadi pengawal wanita yang tak punya apa apa seperti aku?"
"maafkan saya nona, tapi saya punya alasan tersendiri untuk melakukan semua ini"
"ssstt" Bobby langsung terdiam saat jemari lentik Melati tepat menempel di ujung bibirnya.
"tapi__"
"jangan dibahas lagi, karena aku akan memberikan jawabannya besok lusa"
"jawaban apa?"
Melati tak menjawab. Ia memilih tersenyum manis sembari menyuapkan kembali bubur kepada Bobby.
Sementara Bobby, ia hanya mampu tersenyum kaku. Ia bahkan memilih berpura pura tak tahu apa yang nenek dan melati bicarakan. Bobby merasa malu lantaran sang nenek ternyata bertindak secepat itu. Benar benar jauh dari apa yang ia pikirkan.
Ya, beberapa hari yang lalu, Bobby dan sang nenek sudah bertemu. Tentu saja atas sepengetahuan Kejora.
Sang nenek meminta maaf dan meminta Bobby sang cucu satu satunya untuk kembali ke rumah dan memimpin perusahaan yang sudah kembali berjaya.
Siapa sangka, Bobby menyetujui permintaan sang nenek. Namun dengan satu syarat, yaitu Bobby meminta sang nenek untuk menikahkannya dengan Melati.
Sebenarnya bukan begitu saja Bobby memberikan persyaratan, namun ia sengaja mengajukan satu persyaratan tersebut pada sang nenek karena Bobby yakin itu akan menjadi hal yang mustahil.
Karena apa? Karena Bobby sangat tahu pasti kalau Melati tak akan mau menikah lagi. Wanita cantik berstatus janda itu sepertinya trauma akan pernikahan.
__ADS_1
Disaat Melati tengah asik menyuapi Bobby, tiba tiba saja pintu ruang rawat itu terbuka lebar. Melati melotot tajam menatap kearahnya. Bukan karena pintu itu, namun lebih tepatnya, pandangan mata Melati tengah menatap tajam pada segerombolan wanita wanita cantik yang serentak menyerbu ranjang Bobby.
"sayang, kau kenapa?"
"sayang, kenapa kau tak memberi kabar padaku?"
"sayang, apa kau sudah sembuh?"
"sayang, aku sangat merindukanmu"
sayang, sayang, sayang.. dan masih banyak lagi celotehan celotehan yang terlontar dari bobir beberapa wanita cantik itu.
Ya, mereka semua adalah para kekasih Bobby. Meski sudah diputuskan, namun mereka tak mau menganggap bahwa hubungannya telah kandas.
Mereka benar benar frustasi saat tak melihat Bobby dalam beberapa hari ini. Hingga saat mereka tau bahwa Bobby mengalami kecelakaan, mereka langsung berinisiatif mendatangi laki laki tampan itu.
Ah.. benar benar pesona seorang Bobby tak mampu tersaingi. Meski beberapa diantara meŕka tau bahwa Bobby seorang palyboy, mereka tak mempermasalahkan itu.
Sementara di sudut ruang itu, Melati nampak terbelalak dan terbengong. Hingga ia memilih mundur dari kerumunan dan pergi keluar.
"hhh.. dasar wanita wanita genit, sudah tau juga ada aku yang sedang menyuapi Kak Bobby, mengapa juga masih memaksa mengambilnya" gerutu Melati yang sedang merasa sebal karena mangkuk yang ia pegang tadi tengah diambil paksa oleh salah satu wanita yang ada disana.
Entah mengapa Melati merasa ia tak mada yang aneh dalam dirinya. Namun sebisa mungkin ia tak menghiraukan hal itu.
Saat Ia yengah duduk melamun seorang diri di bangku taman rumah sakit, tiba tiba saja ada yang memanggilnya.
"Melati.."
Melati seketika mendongakkan pandangannya saat ia merasa tak asing akan suara panggilan itu. Ya, suara itu begitu familiar di telinganya.
Deg
"kamu?__"
.
.
.
Maafkan keterlambatan up yang begitu lama ya, othor habis melahirkan soalnya. Masih sangat repot sekali di dunia real.
Tapi sebisa mungkin othor akan menyelesIkan novel ini secepatnya. Meski tak memiliki episode panjang, namun othor akan berusaha untuk memuakan hati para readers akan ending novel ini.
__ADS_1
Happy reading..