
3 minggu berlalu, Selama itu juga Reyhan menjalani hidup tanpa Prilly. Ia hanya berdua dengan sang ibu yang tinggal di rumah dinas.
Bobby memang sengaja tak mencabut fasilitas kantor untuk Reyhan. Bobby menepati janjinya untuk tetap memberikan pekerjaan pada Reyhan, namun ia sengaja menurunkan jabatannya supaya Reyhan sedikit kelabakan masalah keuangan karena penghasilannya tak sebanyak saat ia menjabat sebagai manager.
Sementara Prilly, ia hidup di rumah kontrakan yang lumayan besar dengan tatanan dekorasi yang sederhana. Ia tinggal berdua bersama putra kecilnya. Dirinya tak bekerja karena memenuhi sebuah perintah.
Ya, Bobby dan Prilly telah membuat kesepakatan. Prilly akan terlepas dari segala tuntutan hutang dengan syarat ia harus fokus merawat bayinya tanpa bantuan siapapun. Sedangkan biaya kehidupannya, Reyhan yang menanggung semuanya.
Gaji Reyhan harus dibagi dua untuk dirinya dan Prilly. Untuk merawat ibu dan anaknya yang masih balita. Sementara untuk biaya kuliah Reyna putri pertamanya, Reyhan harus ekstra lembur untuk mendapatkan penghasilan lebih.
Karena merasa sang ayah tidak mampu memenuhi kebutuhannya, Reyna terpaksa harus mencari pekerjaan di sisa luang jam kuliahnya.
Soal status pernikahan? Reyhan dan Prilly tidak bercerai. Mereka hanya berpisah tempat tinggal.
Selama tinggal terpisah, ternyata Reyhan dan Prilly sama sama merasa kehilangan. Mereka sama sama kesepian. Bahkan tanpa di sadari, mereka saling merindukan satu sama lain.
Satu minggu kemudian.
Hari ini adalah tepat hari pernikahan Bobby dan Melati dilaksanakan. Seluruh karyawan dan staff maupun para OB juga turut hadir dalam acara itu. Termasuk Reyhan dan Prilly. Ia sengaja diundang oleh Bobby pada acara sakral tersebut. Bahkan mereka berdua termasuk tamu spesial.
Sah
Sah
Sah
Serentak para tamu undangan ikut menjadi saksi bersatunya dua insan yang sebelumnya tak pernah menjalin hubungan itu.
Seperti pengantin pada umumnya, Melati lantas mencium tangan Bobby sebagai suaminya. Hangat, damai, itulah yang Melati rasakan saat ini.
Meski ia belum memiliki rasa cinta, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjadi istri yang baik untuk Bobby, istri setia, istri penurut, istri yang mencintai suaminya sepenuh jiwa dan raga.
Karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Miko. Melati turut bahagia saat menatap pancaran kebahagiaan yang begitu terlihat jelas diwajah mungil sang putra saat kini telah mendapat sosok ayah yang baik seperti Bobby.
Satu persatu tamu undangan mulai memberikan selamat pada kedua mempelai. Hingga giliran pada Reyhan dan Prilly. Namun keduanya sama sama ragu untuk melangkah.
"hey kalian!" "bukankah kalian ingin memberikan selamat padaku?"
"i..iya tuan"
__ADS_1
"lalu kenapa kalian masih berdiri disana? cepat kesini!"
keduanya mengangguk lalu mendekat.
"kenapa diam? apa yang ingin kalian sampaikan?"
"ah iya, selamat atas pernikahannya tuan. Semoga sakinah mawadah warahmah, dan semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga anda tuan"
"terimakasih doanya, tapi apa kau tak mau berdoa untuk keluargamu?"
"maksut tuan?"
"apa kau tak ingin memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah juga?"
"saya__"
"atau jangan jangan kau masih mengharapkan Melati?"
"tidak tuan"
"ingat ya! dia itu sekarang istriku. kau tidak boleh mengharapkan apapun darinya"
"iya tuan, saya sadar diri, mana berani saya mengharapkannya lagi"
"APA?" teriak Reyhan, Prilly dan Melati bersamaan
"apanya yang APA?" Bobby nampak kebingungan dengan reaksi ketiganya. Namun seperkian detik berikutnya ia menatap pada ketiga wajah tegang itu, hingga ia pun mulai menangkap isi pikiran mereka
"dasar sableng! kalian pikir aku ini sudah gila! mana mungkin aku memberikan istriku hidup bersama mantannya"
"lalu?" lirih Melati
"jangan berfikir hal mustahil seperti itu lagi istriku, aku menyuruhnya melanjutkan hidup bersama itu agar mereka kembali bersatu dengan membawa pelajaran hidup yang berharga. Aku yakin, meskipun hanya dalam waktu yang singkat, mereka pasti bisa memetik buah perjuangan hidup yang mereka jalani. Bukan begitu kan om, tante?" lirik Bobby pada Reyhan dan Prilly
"mm.. iya tuan"
"baiklah, mulai sekarang, kalian bisa tinggal bersama lagi seperti semula"
"benarkah?"
__ADS_1
"ya"
"terimakasih tuan"
Reyhan dan Prilly pun turun dengan bergandengan tangan. Jangan tanyakan lagi betapa bahagianya mereka, karena dari senyum yang terus mengembang di wajah mereka, itu sudah sangat jelas membuktikan bahwa mereka berdua begitu bahagia hingga tak terungkap dengan kata kata.
Dan satu lagi, mereka bisa bahagia dengan membawa pembelajaran hidup yang berharga dengan ujian perpisahan.
Kini giliran Rama yang berdiri di depan kedua mempelai "aku tak menyangka kalau rekan kerjaku selama ini adalah seorang CEO"
"jangan seperti itu, aku tetaplah Bobby yang kau kenal, tak akan berbeda, tak akan berubah meski aku sekarang adalah CEO"
"oh ya? tapi sekarang kau sudah berubah"
"maksutnya?"
"ya, kau berubah status menjadi seorang suami dari wanita sempurna seperti Melati. Kau sangat beruntung"
"ayolah kawan! dia sudah menjadi milikku, bukankah kau sudah memiliki Vero? dia wanita yang sangat baik juga bukan?"
"ya, aku tau. selamat atas pernikahan kalian"
"terimakasih, oh ya, dimana dia?"
"maksutmu Veronica?"
"ya"
"bersyukurlah kalian karena Vero sudah jadi baby siter Miko sejak beberap minggu ini, dan sepertinya mereka sudah janji akan tidur bersama nanti. Jadi kalian aman malam ini"
"aman?" Melati dan Bobby manautkan kedua alisnya
"ya aman, karena tidak akan ada yang ganggu malam pertama kalian malam ini"
blush
Rona pipi Melati seketika memerah menahan malu karena ucapan vulgar dari Rama. Sementara yang terjadi pada raut wajah Bobby begitu berbeda dengan Melati. Ia nampak terdiam dan melamun.
Apa yang harus aku lakukan? Melati kan janda, dia juga sudah lama tak tersentuh. Bagaimana kalau malam ini Melati meminta haknya sebagai seorang istri? Apa aku bisa melakukannya tanpa rasa? ah, Aku belum siap!
__ADS_1
.
.