
Melati yang baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim seketika bergegas keluar kala ia mendengar suara mesin mobil tengah memasuki pekarangan rumah.
"mas, kau sudah pulang"
"ya"
"apa kau sangat lelah?"
"tentu saja, badanku sangat lelah"
"aku sudah siapkan air hangat untuk mas mandi" ucap Melati sembari mengambil alih jas, tas kerja, dan sebuah paper bag kecil yang ada di tangan Reyhan.
Meskipun penasaran, Melati tak berani untuk sekedar bertanya. Ia lebih memilih diam dan mengikuti langkah suaminya memasuki kamar mereka.
"sayang, dimana paper bag yang tadi?" tanya Reyhan sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil
"ini mas" Melati menyerahkan paper bag yang dimaksut
"mas" Melati memberanikan diri untuk menghentikan langkah Reyhan yang hendak keluar kamar
"ada apa?"
"itu apa?"
"owh.. ini ponsel"
"ponsel? untuk siapa mas?"
"tentu saja untuk ibu. Kau tau sendiri kan kalau ponsel ibu rusak gara gara Miko? makanya aku beliin ponsel ini supaya ibu tidak kesepian dan merasa jenuh pas lagi sendirian"
"oh"
Reyhan mendatangi kamar sang ibu untuk memberikan ponsel itu. Dan dengan rasa penasaran dan rasa keingintahuan yang begitu menggebu mampu menuntun langkah Melati untuk ikut mendatangi kamar ibu mertuanya.
"wah.. terimakasih Rey, ini ponselnya bagus sekali" ucap ibu Sarah sembari membolak balikkan ponsel yang baru ia buka dari kardusnya
"apa ibu suka?"
"tentu saja, ibu sangat menyukainya. Kau pintar sekali memilihnya"
__ADS_1
"sebenarnya itu bukan pilihanku bu"
"lalu pilihan siapa?"
"coba deh ibu tebak siapa yang memilih ini?"
"kau ini malah ngajak ibu main tebak tebakan, mana ibu tau siapa tadi yang pergi bersamamu membeli ponsel ini"
"Prilly" bisik Reyhan
"apa? Prilly? maksut kamu Prilly putri cantikku?"
"ya"
"bagaimana bisa kau bertemu dengannya Rey?"
"panjang ceritanya bu, yang pasti sekarang Prilly satu kantor denganku"
"wah.. bagus sekali.. ibu sangat senang mendengarnya" "oh ya Rey, apa kau punya nomer ponselnya?"
"tidak punya bu"
"untuk apa bu?"
"tentu saja untuk berkominikasi dengannya"
"tapi aku tidak memerlukan itu"
"sekarang kau memang tak perlu, tapi suatu saat nanti kau pasti akan memerlukannya juga"
"ibu ini sok tau"
"di bilangin juga.. ya sudah kalau kau tak perlu tak apa apa, yang penting jangan lupa besok mintakan nomor ponselnya ya"
"ya, besok Reyhan mintakan. Tapi kalau gak lupa ya"
"harus! besok akan ibu ingatkan kalau kau lupa"
Disaat Reyhan dan ibu Sarah sedang asik berbincang, di saat itu pula hati Melati terasa tertusuk jarum seketika.
__ADS_1
Ya, ternyata sejak tadi Melati hanya menempel dibaluk pintu. Ia melihat dan mendengar semua interaksi antara suami dan mertuanya itu.
Jujur, Melati memang merasa begitu sakit hati saat Reyhan membelikan ponsel untuk ibunya. Ponsel keluaran terbaru yang ia yakin pasti harganya sangat mahal.
Sedangkan beberapa minggu yang lalu saja saat Melati sempat mengutarakan keinginannya untuk membeli ponsel baru karena ponselnya yang lama sudah terlalu kuno dan lemot, namun Reyhan tak mengijinkan dengan alasan ponsel itu masih bisa di gunakan.
Dan lagi pula untuk apa ponsel bagus? toh Melati kan hanya dirumah saja. Mending uangnya buat bayar semesteran Reyna. Untuk akhir akhir ini, jangan terlalu boros dulu dalam mengelola uang. Begitu kata Reyhan.
Bukan hanya itu saja yang membuat Melati sakit hati. Tapi ada beberapa percakapan dari Reyhan dan ibunya yang semakin menambah luka di lubuk hati.
Ya, semua itu tentang Prilly.
Entah siapa wanita yang sedang dibicarakan oleh suami dan mertuanya, Melatipun tak pernah tau. Yang pasti, mendengar kedua orang itu terus memuja dan memuji wanita yang bernama Prilly tersebut, justru semakin membuat sesak dan sakit dalam hati Melati semakin mendalam.
Karena tak mampu menahan sesak jika terus berada disana, Melati memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia menumpahkan tangisnya tanpa bersuara.
Hampir satu jam berlalu, Melati tak dapat memejamkan matanya meski sudah tak lagi menangis. Namun selama itu pula Reyhan tak menunjukkan tanda tanda masuk ke dalam kamar mereka.
Hingga Melatipun memilih turun dari ranjang dan tidur di samping putranya. Dan saat ia hendak terpejam, tiba tiba terdengar suara langkah kaki tengah mendekat ke arahnya.
Melati yakin itu pasti Reyhan yang akan menyuruhnya pindah ke ranjang besar mereka.
Dalam kesadarannya, Melati memilih berpura pura tidur. Dan di beberapa detik kemudian, ia merasakan sebuah usapan dan kecupan di pucuk kepalanya lalu tubuhnya tertutup selimut tebal.
apa? mas Reyhan tidak membangunkanku untuk pindah?
Ya, ternyata Reyhan hanya menyelimuti tubuh Melati dan meninggalkannya tidur di ranjang sang putra. Dan menurut Melati, hal ini benar benar sikap yang sangat aneh.
Karenaa biasanya, semalam malamnya hari, sengantuk ngantuknya mata, selelah lelahnya tubuh, Reyhan akan membangunkan Melati untuk pindah ke ranjang mereka.
Jika saja Melati tak dapat terbangun, maka Reyhan akan mengangkat tubuh itu agar dapat tidur bersamanya.
Mas Reyhan...
Batin Melati sembari meneteskan air mata dan memeluk tubuh kecil putranya.
.
.
__ADS_1