Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Flash Back On


__ADS_3

Flash Back on


"ayo ku antar kau pulang sekarang" ajak Reyhan pada Prilly yang sedang duduk di sofa ruang tamu


"Reyhan?"


"cepat atau aku berubah pikiran"


"i.. iya"


Prilly segera bangun dari duduk nyamannya. Ia mengikuti langkah Reyhan menuju mobil dengan senyum yang tak henti menghias bibir merah tebalnya.


Selama perjalanan, di dalam mobil hanya Prilly yang berbicara kesana kemari tanpa henti. Terutama mengenai masa lalu mereka yang pernah di jalani dengan indah dan bahagia.


Entah apa maksut dan tujuan Prilly dengan bercerita seperti itu, Reyhan pun tak memahaminya. Yang pasti, Reyhan hanya menganggap semua ocehan itu adalah sebuah cerita yang tak ada artinya dan hanyalah sebuah kejadian masa lalu yang tak perlu diingat ingat lagi.


Dan tak berapa lama kemudian sampailah Reyhan dan Prilly di halaman apartemen yang lumayan mewah itu.


Reyhan memang tak perlu bertanya lagi pada Prilly dimana tempat tinggal wanita yang menjadi rekan kerjanya saat ini karena kemarin waktu Reyhan dan Melati sedang marahan, Reyhan sering mengantarkan Prilly pulang. Dan bahkan hampir setiap hari ia juga sering main ke apatemen itu sampai larut malam dengan tujuan menghindari bertatap muka secara langsung dengan istrinya.


Dan karena hal itu pula, Melati yang tak tahu menahu tentang apapun malah menganggap Reyhan selalu bekerja lembur hingga larut malam demi mendapatkan uang yang lebih untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sungguh miris bukan?


"kau mau kemana?" tanya Prilly saat Reyhan memutar balikkan badannya dan melangkah keluar dari basemen apartemen


"bukankah aku sudah mengantarkanmu? dan kau pun juga sudah sampai di apartemenmu dengan selamat. Jadi aku rasa aku bisa langsung kembali pulang"


"Reyhan, kenapa langsung pulang? apa kau tak ingin mampir?"


"tidak"


"sebentar saja, mm.. sekalian kita bahas materi untuk persiapan meeting besok pagi. Bagaimana?"


Reyhan nampak membeku dan berfikir dalam diam, persis seperti seorang yang dilanda kebimbangan


"ayolah Rey.. tak lama kok, sebentar saja, aku akan menunjukkan padamu ide dan strategi bagus yang sudah aku susun untuk bahan meeting besok supaya kita bisa memenangkan tender besar itu"


"oh ya, coba kau pikir lebih dalam lagi deh, kalau saja kita dapat memenangkan proyek besar itu, pasti kita berdua akan dapat bonus besar dari kantor. Atau bahkan kita bisa naik jabatan. iya kan?" sambung Prilly yang terus mencoba membujuk Reyhan

__ADS_1


"baiklah, hanya 15 menit. tak kurang dan tak lebih"


"oke, tak masalah. ayo naik" ajak Prilly sembari merangkul lengan Reyhan dan sedikit menariknya


Meskipun Reyhan merasa risih dan tak nyaman pada pandangan orang sekitar saat ini, namun ia membiarkan saja apa yang di lakukan Prilly terhadapnya karena memang sejak kemarin kemarin mereka juga sering bergandengan tangan seperti ini.


Bahkan beberapa waktu yang lalu ia juga pernah merangkul pundak Prilly saat memasuki apartemen. Dan semua itu tidaklah luput dari pandangan resepsionis dan beberapa OB yang berjaga saat itu. Jadi Reyhan pun memilih bersikap cuek dan tak peduli seperti biasanya.


"silahkan duduk, aku akan membuatkanmu minum" ucap Prilly sembari menutup rapat pintu apartemennya


"tidak perlu repot repot, aku tidak haus. lebih baik duduklah. Kau bisa langsung bicarakan saja apa ide dan strategimu untuk besok"


"Reyhan.. kenapa kau jadi kaku seperti ini? tenanglah, santai dan rileks saja seperti biasanya. aku ke dalam sebentar"


Prilly segera pergi ke dapur dan tak lama kemudian, ia pun keluar membawa satu gelas jus jeruk dingin kesukaan Reyhan seperti biasa saat laki laki itu main ke apartemennya.


"silahkan"


"taruh saja di meja"


"Reyhan.. minumlah dulu, aku tahu kau pasti sangat haus kan? karena yang aku lihat, sejak kita pulang dari rumah sakit tadi kau belum sempat minum apapun sampai sekarang. benar bukan?"


Dan menurut Reyhan memang tak ada salahnya jika ia mampir sebentar untuk membahas masalah pekerjaan. Apalagi ia juga sangat haus, tenggorokannya juga begitu kering dan dehidrasi. Jadi tak apalah aku mampir 15 menit saja. begitu pikirnya.


Setelah itu, Prilly segera menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan masalah pekerjaan. Karena memang sebenarnya ia tak pernah bohong tentang hal itu.


Sepuluh menit berlalu, semakin lama Reyhan srmakin merasakan pusing di kepalanya. Ia bahkan terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya demi mengusir rasa pusing itu.


Namun bukannya hilang malah terasa semakin menjadi. Bahkan saat ini tubuhnya begitu merasakan panas yang tak terkendali.


"Reyhan, kau kenapa?"


"aku gerah, apa kau lupa menyalakan AC?"


"ah iya aku lupa, sebentar ya, aku nyalakan dulu"


Prilly mengambil remote AC yang berada di samping Reyhan. Ia sengaja menempelkan dirinya saat mengambil remote itu hingga ceruk lehernya tepat berada di hidung Reyhan.

__ADS_1


Reyhan memejamkan matanya saat menghirup aroma tubuh Prilly yang melewati wajahnya. Entah mengapa tiba tiba darah dalam tubuhnya berdesir hebat. Bahkan area kejantanannya seketika berdiri tegak tanpa di komando.


"apa kau masih merasa gerah?"


"ya, entah mengapa siang ini rasanya panas sekali"


"kalau begitu, buka saja kemejamu" ucap Prilly sembari membuka kancing kemeja Reyhan satu persatu


"stop" seru Reyhan saat kancing terakhir kemejanya hampir terlepas.


Ya, saat ini Reyhan masih sadar, ia mencoba menghentikan jemari Prilly yang lihai dalam membuka setiap biji kancing kemejanya


"kenapa? bukankah kau merasa panas dan gerah?"


"ya, tapi__"


"jangan sungkan, bukankah kita sudah saling mengenal?" bisik Prilly tepat di telinga Reyhan dengan nada yang terdengar manja


oh tidak.. apa yang terjadi denganku? kenapa aku merasa merinding dan berhasrat hanya dengan mendengar bisikannya?


Saat Reyhan terus mencoba bersikap normal, namun berbeda dengan Prilly. Saat ini, wanita itu justru sudah melepas dres yang ia kenakan. Hingga kini yang tersisa hanyalah tanktop tipis diatas pusar dan celana hot pants yang super pendek.


"Prilly, kenapa kau berpakaian seperti itu?"


"kenapa? aku juga kegerahan Rey.."


"ah sudahlah, lanjutkan saja penjelasanmu"


"baiklah"


Saat Prilly kembali sibuk menjelaskan, berbeda dengan Reyhan. Laki laki itu bukannya fokus pada penjelasan Prilly, pandangan matanya malah lebih fokus pada belahan dada Prilly yang menyembul keluar dari kain yang membungkus gundukan kembar miliknya.


"ahhh.."


Satu desah** lolos begitu saja dari bibir Prilly saat sesuatu dari dalam dirinya tersentuh oleh telapak tangan Reyhan, dan__


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2