
Setelah membaringkan Prilly di ranjang kamar tamu, Reyhan kembali masuk ke kamarnya. Sementara Ibu Sarah pun juga mengikuti Reyhan dari belakang. Ia bahkan rela meninggalkan calon menantu kesayangannya yang sedang pingsan demi rasa takut pada sang putra jika sampai Reyhan brnar benar marah dan tak lagi mempedulikannya.
Biarlah ia berpura pura merasakan kehilangan juga atas kepergian Melati. Meski sebenarnya inilah yang ia harapkan. Melati pergi dari kehidupan putranya agar putranya itu bisa menikah dengan Prilly, wanita dari anak sahabatnya.
"Reyhan, kenapa kau tak coba menghubungi ponsel Melati? tanya ibu Sarah seolah mencoba memberi solusi
"kalau saja ponsel Melati aktif, aku pasti sudah menghubunginya sejak tadi bu"
"oh.. ponselnya mati ya"
Reyhan meremas rambutnya sendiri. Ia seakan frustasi dengan keadaan ini. Laki laki berumur hampir setengah abad itu kini bahkan tengah meneteskan air mata penyesalan.
Dan di sela sela tangisnya, mata Reyhan tertuju pada sebuah kertas yang tertindih bolpoin diatas nakas. Perlahan, tangannya terulur untuk meraih buku tersebut lalu membacanya.
Teruntuk Mas Reyhan, Suamiku
Mas Reyhan, mungkin saat mas membaca surat ini, aku sudah pergi jauh dari tempat ini
Aku minta maaf jika aku pergi tanpa berpamitan. Karena aku tau, mas tidak akan mungkin membiarkanku pergi. Sebab itulah aku sengaja bersikap seolah olah aku baik baik saja.
Tapi jujur, aku begitu terluka akan penghianatanmu. Luka yang kau goreskan begitu menyayat hati terdalamku mas. Dan aku yakin, aku tak mungkin bisa untuk mengobati hatiku sendiri jika aku terus berada disisimu.
Maafkan aku yang tak bisa lagi untuk mempertahankan hubungan ini.
Aku menyerah.
Aku mengalah.
Aku mundur.
Aku yang akan pergi dari kehidupanmu.
Aku harap mas bukanlah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab.
Nikahi dia!
__ADS_1
Terlepas dari kesalahan dua insan yang saling berdosa, ingatlah, ada satu nyawa tak berdosa yang telah kalian berdua ciptakan dari rasa yang tak seharusnya kalian lakukan.
Maafkan aku yang memilih pergi darimu mas. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini. Secepatnya aku akan mengurus surat perpisahan kita, agar tak ada lagi penghalang hubungan kalian.
Aku pergi bukan karena aku tak mencintaimu. Sampai detik ini pun, aku masih sangat mencintaimu mas. Tapi aku aku harus pergi demi menyelamatkan hatiku.
Aku berharap kau dan ibu selalu bahagia disana.
Dari istri yang sebentar lagi akan menjadi orang lain untukmu.
Melati
*
"TIDAAAKKK!!"
Reyhan berteriak histeris sembari ******* ***** kertas yang baru saja ia baca. Dadanya terasa sesak saat ia membaca setiap kata yang ditulis oleh istrinya tersebut.
Ya, jangankan Melati, Reyhan sebagai sang pelaku kejahatan saja juga bisa ikut merasakan bagaimana suasana hati Melati saat ini.
Reyhan jelas menyesali perbuatannya. Hanya karena tak bisa menahan diri dan malah menuruti nafsu serta kenikmatan sesaat yang akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri
"Melati.. jangan pergi.. Aku sangat mencintaimu" racau Reyhan disela amukannya.
Dua minggu berlalu, Reyhan menjalani aktifitas seperti biasa. Bekerja, pulang, tidur, bekerja lagi. Seperti itu di setiap harinya. Namun yang membedakan kali ini adalah tak ada semangat di setiap langkahnya.
Dua minggu ini ia benar benar kehabisan tenaga dan uang. Bagaimana tidak? ia sengaja menyewa tim detektif handal untuk mencari istrinya di seluruh penjuru kota. Namun bukannya hasil baik yang di dapat melainkan kebuntuan di setiap langkahnya.
Reyhan dan seluruh team pun merasakan keanehan. Bagaimana mungkin istrinya yang seorang biasa itu bisa bersembunyi serapi ini?
"sepertinya ada pemilik kekuasaan yang ikut andil dalam persembunyian istri anda" ucap salah seorang tim
"pemilik kekuasaan? bagaimana mungkin? istri saya itu hanyalah seorang biasa yang bahkan keluarga saja dia tidak punya"
"jika memang istri anda bersembunyi seorang diri, kami pasti dengan sangat mudah menemukannya"
__ADS_1
"lalu bagaimana?"
"kami menyerah"
"apa? kalian tidak bisa mundur begitu saja dari tugas. Istriku belum ketemu"
"lalu anda berharap apa dari pencarian yang tak menemukan titik terang ini? apa anda memiliki uang lagi untuk menyewa team kami hingga menelusuri sampai ke beberapa kota?"
Reyhan terdiam. Mereka benar, Ia tak akan mampu membayar sewa jika melanjutkan pencarian hingga ke beberapa kota lagi. Sedangkan yang terjadi, hanya mencari di tiga kota saja ia sudah harus mengorek uang di tabungannya. Apalagi untuk menyewa ke beberapa kota lagi? tidak tidak, ini tidak mungkin di teruskan. Begitu pikir Reyhan
"baiklah, kalian boleh pergi"
Setelah kepergian team, Reyhan membanting tubuhnya di sofa. Ia begitu lelah. Lelah hati, lelah pikir, juga lelah materi.
Urusan Melati belum juga kelar, ia malah dipusingkan dengan desakan sang ibu dan Prilly untuk segera menikahi Prilly secepatnya.
Akhirnya mau tak mau, Reyhan pun mengiyakan permintaan kedua wanita itu. Namun ia meminta waktu dua minggu lagi untuk melangsungkan pernikahan sederhana.
Awalnya Prilly protes dan menginginkan pesta mewah, tapi atas bujukan sang ibu, akhirnya Prilly pun menyetujui permintaan Reyhan. Tidak apalah, yang penting aku bisa menikah dengan Reyhan. Begitu pikir Prilly.
aku akan mencari istriku sendiri sebisa mungkin. Entah kapan akan bertemu, yang penting aku akan berusaha. Aku masih bisa tenang, setidaknya Melati belum menggugat perceraian dalam hubungan rumah tanggaku ini.
"paket"
"ya" Reyhan segera bangkit dan membuka pintu rumahnya. Ia menerima sebuah kotak kecil yang terbungkus rapi. Penasaran? tentu saja. Karena tak ada tanda pengenal ataupun informasi alamat sang pengirim di kotak itu.
Dengan penuh rasa penasaran, Reyhan membuka kotak itu dengan terburu. Setelah terbuka, ia mengeluarkan satu lipatan amplop berwarna coklat kemudian ia membuka amplop tersebut.
Deg
Pengadilan Agama?
.
.
__ADS_1
.