
Beberapa hari berlalu, kini sudah empat kali dalam sebulan sang ibu menjalani terapi kelumpuhannya.
Dan pengobatan itu benar benar membuahkan hasil. Kini Ibu Sarah sudah dapat berjalan dengan baik tanpa bantuan tongkat apalagi kursi roda.
Entah karena pengobatan dokternya yang sangat canggih atau karena memang ibu Sarah yang sebenarnya tidak mengalami kelumpuhan, entahlah, Melatipun tak tahu akan hal itu. Yang pasti, Melati terlihat begitu senang ibu mertuanya itu bisa berjalan lagi.
Dan hari ini adalah hari terakhir ibu Sarah menjalani terapi bersama dokter itu. Dokter yang sama, dokter yang dikenalkan oleh Prilly satu bulan yang lalu.
"ayo berangkat" ajak Prilly yang baru saja sampai di rumah Reyhan
"yuk" sahut ibu Sarah sembari meraih tangan Prilly dan keluar menuju mobil Reyhan yang masih terparkir rapi
Dan tak berapa lama kemudian, Reyhan juga sudah siap. Ia sudah sangat rapi dengan setelan jas berwarna navy.
Dari kejauhan, Prilly nampak begitu gembira. Senyum manis tak henti hentinya ia pertunjukkan pada Reyhan. Namun senyum itu seketika pudar saat ia melihat seorang wanita yang berjalan di belakang Reyhan.
Ya,wanita itu adalah Melati.
Melati berjalan sangat anggun dengan dres selutut yang berwarna senada dengan setelan jas Reyhan. Benar benar pasangan yang serasi. Begitulah setiap pemikiran orang orang yang melihatnya.
"haii tante Prilly" sapa Melati yang menyadarkan keterbengongan Prilly sejak tadi
"hha.. hhai" sahutnya kaku
"ayo kita berangkat? sudah siap semua kan?" ucap melati sembari berjalan mendekati mobil
"tunggu!" teriak ibu Sarah
"ada apa bu?"
"Melati? kau mau apa?"
"ibu.. tentu saja aku mau ikut bersama kalian. ini kan terapi terakhir ibu. Jadi tak ada salahnya kan kalau aku ingin ikut menemani ibu?"
__ADS_1
"ya memang, tapi bagaimana dengan Miko? siapa yang menjaganya? tidak mungkin Reyna kan?"
"tentu saja tidak, aku tidak mungkin tega membiarkan putri cantik seperti Reyna menjadi pengasuh anak bu. Lagi pula kan Reyna juga sudah berangkat ke kota lagi?"
"lalu Miko?"
"Miko sedang jalan jalan bersama Kejora bu" jawab Reyhan
"Kejora? maksutnya, kamu tega membiarkan anakmu pergi bersama orang lain? Rey?"
"ibu, kami sangat mengenal Kejora dan keluarganya. Bukankah ibu juga sudah mengebal kejora dengan baik?"
glek
Ibu Sarah hanya mampu menelan ludah kasar saat ia tak bisa menjawab. Karena benar saja, Ia sudah sangat mengenal Kejora jauh sebelum ia mengenal Prilly. Dan jujur saja, ibu Sarah dulu sempat berharap bahwa Kejora mau menjadi menantunya. Namun takdir berkata lain, karena ternyata Kejora sudah memiliki sebuah keluarga.
"ah ya sudah, ayo!" akhirnya Ibu Sarah memilih masuk ke dalam mobil terlebih dahulu tanpa menjawab ucapan Reyhan
Sementara Prilly, ia yang sejak tadi berdiam kini mulai melangkah maju. Dan saat tangannya hendak memegang knop pintu mobil, seketika itu juga tangannya langsung di cekal oleh Melati dengan cepat
"maksut kamu apa? biasanya saya yang duduk di depan"
"tante, itukan krmarin kemarin pas gak ada saya. Dan sekarang, bukankah memang sepantasnya yang duduk didepan itu saya?"
"bagaimana bisa seperti itu?"
"apa tante lupa kalau mas Reyhan itu suami saya? jadi kan sudah sepatutnya saya selalu berada di sampingnya. iya kan mas?" Melati sengaja bergelayut manja pada lengan suaminya
"iya sayang, ayo!" Reyhan membukakan pintu untuk Melati dan ia segera masuk di kursi kemudi. Meninggalkan Prilly yang diyakini saat ini pasti sedang menahan amarah yang mendalam
Prilly yang sengaja ditinggal begitu saja akhirnya mau tak mau harus menyusul masuk dan duduk di belakang.
Mobil pun segera melaju. Sepi. Tak ada satupun pembicaraan yang keluar dari bibir keempat orang yang ada di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Sementara didalam kediaman yang terjadi di mobil itu, berbeda dengan Melati dan Prilly. Meskipun mereka juga nampak diam, namun mata keduanya tengah saling memandang tajam dan seakan saling mengisyaratkan sesuatu.
Ya, mata Melati dan Prilly saling memandang lewat kaca kecil yang tergantung diatas kemudi depan mobil. Dan dari sorot mata keduanya, sangat terlihat jelas bahwa keduanya saling berperang batin.
Kau bisa tersenyum senang sekarang, tapi lihat saja nanti, aku akan balas perbuatanmu yang sudah mempermalukanku tadi. Batin Prilly
Kau bisa terus berusaha untuk menjatuhkanku, tapi sekuat tenaga aku juga akan terus berusaha untuk melawan kelicikanmu.
Melati pun tak kalah tajamnya menatap mata Prilly. Ia sungguh sungguh siap untuk menerima semua serangan dari wanita itu. Karena Melati yakin bahwa Prilly memang sengaja mendekati keluarganya untuk mengambil simpatik mereka dan Melati yakin bahwa Prilly akan menyingkirkan dirinya secara perlahan.
"sayang, kau kenapa?" tanya Reyhan yang melihat ketegangan diwajah istrinya
"tidak apa apa mas, aku hanya sangat kagum dengan kebaikan tante Prilly yang dengan suka rela membantu keluarga kita"
"oh.." Reyhan hanya ber oh ria menanggapi ucapan istrinya
"terimakasih ya tante.." Melati tersenyum menatap ke belakang tepat kearah Prilly
"tidak masalah bagiku, tapi bisakah kau tak memanggilku tante?"
"memangnya kenapa? Reyna saja tak masalah kan memanggilmu tante?"
"itu kan Reyna"
"lalu kenapa dengan aku? bukankah aku dan Reyna juga seumuran? Jadi tak masalah kan kalau aku juga memanggilmu tante?"
"tapi__"
"diam kalian! hanya panggilan saja di debatkan. Jangan berisik, aku mau istirahat sebentar" potong ibu Sarah menengahi perdebatan dua wanita berbeda usia tersebut
Dan hal itu tentu membuat kesenangan tersendiri untuk Melati. Ia merasa menang mutlak hari ini.
Sepertinya nasib baik tengah berpihak kepadaku hari ini. hi hi hi...
__ADS_1
.
.