Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Kepergian Melati


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Melati terbangun dari tidurnya. Oh, bukan terbangun, lebih tepatnya membuka mata dari pejaman yang terjaga. Karena sejak Melati membaringkan tubuhnya, ia tak sedetikpun tertidur meski matanya telah terpejam rapat.


Perlahan, Melati bangkit dari baringan ternyamannya. Ia melihat sang suami masih memejamkan matanya damai. Dan hal itu ia gunakan sebagai kesempatan untuk kabur dan keluar dari rumah itu.


Dengan gerakan yang sangat hati hati, Melati akhirnya berhasil keluar bersama sang buah hati meski ia mengalami kesulitan saat harus membawa barang barangnya sambil menggendong bocah kecil itu.


Sesampainya di depan gerbang, Melati segera masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang ternyata sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu


"maaf, aku agak kerepotan pas keluar tadi. Apa kau sudah menunggu lama?"


"anda sudah siap nona?"


"iya" jawab Melati pada sosok laki laki berpakaian serba hitam.


Lelaki itupun tak menggubris basa basi dari Melati, ia segera menancap gas mobilnya dengan cepat.


"kita mau kemana kak?" Melati kembali bertanya saat dirasa mobil itu melaju terlalu jauh dan lama


"bukankah anda ingin pergi dari suami anda?"


"ya"


"nyonya sudah menyiapkan tempat untuk anda bersembunyi"


"baiklah"


Akhirnya Melati tak banyak lagi bertanya. Ia memilih memejamkan matanya dan menurut saja kemana laki laki berbaju hitam itu membawanya pergi.


Disaat Melati terlelap. Tanpa sengaja, laki laki itu tengah menatapnya lewat kaca kecil yang tergantung di depan kursi kemudi dengan sudut bibir yang terangkat tipis


Perempuan yang malang


Sayang sekali, nasibmu tak secantik wajahmu nona


...***...


"hoooaaammmm.."


Reyhan menguap lebar. Ia merentangkan tubuhnya, merileksasikan seluruh otot otot yang terasa begitu kaku dan tegang karena kejadian semalam.


Matanya terbelalak lebar saat ia meraba samping tempat tidurnya yang ternyata sudah kosong.

__ADS_1


"sayang, kamu dimana?" Reyhan membuka kamar mandi, namun tak ada siapapun di dalam sana.


Hatinya mulai merasa resah dan janggal, bahkan jantungnya pun berdetak begitu kuat saat ia sudah mencari ke seluruh ruangan rumah tapi masih juga tak menemukan sosok istrinya.


"bu, apa ibu melihat Melati?"


"kenapa kau bertanya pada ibu? bukankah dia tidur bersamamu sejak semalam?"


"iya bu, tapi pas aku bangun dia sudah tidak ada"


"Miko?"


"Miko juga tidak ada"


"biasanya kalau jam segini kan istrimu pergi ke pasar. Mungkin dia sedang belanja"


"mungkin iya ya bu. apa ibu tau dimana saja tempat Melati belanja?"


"ibu gak tau. Memangnya kamu tau?"


"hhh.. aku juga gak tau bu"


"ya sudah, kalau begitu tunggu saja sampai istrimu itu pulang"


"biasanya sih sebentar"


"ya sudah, aku tunggu di sofa depan saja"


Reyhan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa. Matanya menatap langit langit ruang tamu. Namun pikirannya terus tertuju pada sang istri.


Ya, ia tak menyangka jika istrinya itu ternyata sangat berhati besar. Ia sangat kagum dan bangga pada sifat pemaaf sang istri yang dengan baiknya mau memaafkan kesalahan besarnya. Bahkan ia juga tak menyangka jika dirinya di berikan satu kesempatan untuk menebus kesalahannya.


Melati.. kau memang istri terbaik


30 menit


60 menit


Bahkan ini sudah memasuki menit ke 120. Sudah dua jam Reyhan menunggu Melati di tempat itu. Namun yang ditunggu tak kunjung jua menampakkan batang hidungnya.


Perasaan risau kembali hadir menyelimuti hati Reyhan. Ia bangkit dari duduknya dan segera berlari ke atas.

__ADS_1


Lemari? Koper? Ya, Mengapa Reyhan baru mengingatnya?


Deg


Jantung Reyhan kini benar benar berhenti kala mendapati lemari milik istri dan anaknya sudah kosong. Bahkan koper yang semalam pun juga sudah tidak ada disana.


tidak! Melati tidak mungkin pergi!


Reyhan terus menyangkal hatinya demi menutupi ketakutan ditinggal oleh Melati, meski ia tahu bahwa kemungkinan besar istri kecilnya itu memang sudah pergi jauh meninggalkan dirinya.


Reyhan benar brnar kelabakan. Ia menjerit dan mengamuk tak jelas, mengobrak abrik kamar itu hingga semua terlihat berantakan.


Mendengar teriakan dari sang putra, tentu saja sang ibu merasa hawatir. Ia langsung naik ke atas diikuti Prilly yang baru saja datang ke rumah itu.


"astaga.. Reyhan! apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menghancurkan kamar ini?"


"Melati bu.. Melati pergi"


"pergi? dasar istri tak tau diri! jadi istrimu itu pergi dari pagi sampai sekarang belum pulang juga?" "hh.. dia pasti kelayapan gak jelas!" gerutu sang ibu yang tentunya terdengar jelas di telinga Reyhan


"Ibu bisa diam tidak!?"


"kau membentak ibu?"


"ya! semua ini karena ibu! ibu yang membuat Melati pergi. Ibu yang merusak rumah tanggaku. Ibu yang membuat aku kehilangan istriku"


"Reyhan! tega sekali kau menuduh ibu. Apa salah ibu padamu? harusnya kau sadar kalau istrimu itu memang bukan wanita yang tepat untukmu"


"Melati adalah istri terbaik. Dia wanita terbaik dalam hidupku. Andai saja waktu itu aku tak menuruti keinginan ibu untuk mengantarnya, semua ini takkan pernah terjadi bu! aku tak akan menghianati istriku karena wanita itu" tunjuk Reyhan sembari menatap Prilly yang ada diambang pintu dengan tajam


Melihat amarah yang berkobar di mata sang anak membuat ibu Sarah begitu ketakutan. Ia seperti melihat sisi lain dari pribadi sang putra. Pasalnya, ibu Sarah baru pertama kali ini mendapatkan bentakan dari Reyhan yang amat sangat nyata.


"maafkan ibu nak.. ibu tak ada maksut seperti apa yang kamu pikirkan. Ibu hanya menyayangi Prilly seperti anak ibu sendiri. Dan ibu pasti tak akan membiarkan Prilly merasa sendiri dan kesepian. Maka dari itu, ibu memintamu menemaninya. Dan bukankah kau juga menyayanginya?"


"ya, aku menyayanginya seperti adikku sendiri. tapi itu dulu bu. Sekarang, aku sangat membencinya. Aku sangat sangat membencinya"


deg


Prilly serasa tercekat. kakinya tiba tiba melemas dan tak mampu lagi untuk berpijak di bumi ini. Dan dalam beberapa detik berikutnya, Prilly pun jatuh pingsan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2