
Satu minggu setelah menerima surat resmi perceraian dari melati, Reyhan memutuskan untuk segera menikahi Prilly. Bukan karena cinta, tapi ini semua ia lakukan sebagai rasa pertanggung jawaban atas apa yang ia lakukan.
Pernikahan mereka di langsungkan di rumah Reyhan. Tidak ada pesta mewah ataupun dekorasi megah di pernikahan itu. Sesuai keinginan Reyhan, pernikahan itu benar benar diadakan sangat sederhana.
Bahkan mereka tak banyak mengundang tamu. Hanya tetangga kompleks dan beberapa keluarga inti saja. Karena bagi Reyhan, ini bukanlah sebuah kebahagiaan yang harus ia umumkan pada semua orang. Begitu pikirnya.
Sementara Prilly, ia nampak murung dan tertekuk raut wajahnya atas pernikahan ini. Bukan karena tak suka, namun ia terlanjur malu pada teman teman arisannya karena ia sudah terlanjur mengumumkan bahwa ia akan mengadakan pesta mewah di pernikahannya bersama laki laki yang sangat ia cintai itu.
Bagaimana aku memberi alasan pada teman temanku nanti? ah.. aku malu sekali..
"Sayang.. kau kenapa?" tanya ibu Sarah pada menantu impiannya
"ibu.. bagaimana aku menjelaskan pada teman teman arisanku tentang pesta pernikahanku ini? ah, aku malu sekali bu.. aku malu.."
"Sayang, bilang saja terus terang kalau kita memang sedang berhemat"
"tidak mungkinlah bu.. mau di taruh mana mukaku? meski mereka rau kalau Mas Reyhan bukanlah seorang CEO, tapi mereka itu tau kalau calon suamiku itu adalah seorang manager dan merupakan tangan kanan bos"
"hh.. lagian ibu sih, kenapa ibu gak memaksa mas Reyhan buat ngadain pesta megah untukku? Kalau ibu memaksa, pasti mas Reyhan bakalan nurut apa kata ibu" lanjut Prilly
"sayang, sebenarnya ibu sangat ingin sekali kamu dan Reyhan bisa menikah dengan pesta yang mewah. Tapi kamu kan tau sendiri bagaimana keadaan keuangan Reyhan saat ini? gara gara mencari wanita itu, Reyhan harus menguras uang tabungannya hingga tak tersisa"
"hh.. ya sudahlah bu, mau gimana lagi"
"diambil hikmahnya saja. Yang penting kan kamu bisa menikah dengan Reyhan"
Prilly pun hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan sang mertua meaki dalam hatinya masih merasakan kejengkelan yang hakiki.
8 bulan kemudian
"sayang, kapan kita menikah?" tanya seorang gadis cantik pada laki laki yang tengah fokus menyetir
"aku belum siap" jawabnya singkat
"belum siap? selalu itu yang kau ucapkan sebagai alasan setiap kali aku bertanya"
"lalu kau ingin aku menjawab apa?"
__ADS_1
"aku tak tau apa yang ada di pikiranmu saat ini, satu tahun yang lalu kau sendiri yang mengatakan ingin menikah denganku dan menjadikan aku ratu di kerajaan cintamu. kau bahkan berkata bahwa hanya aku wanita satu satunya di dalam hidupmu. Dan setelah kau bisa mrndapatkan restu kedua orang tuaku, mengapa kau malah merubah hubungan kita?"
"aku tak pernah merubah apapun pada hubungan kita"
"bibirmu memang tak pernah berkata, tapi dari sikapmu sudah jelas mengungkapkan bahwa kau telah merubah hubungan kita! sebenarnya apa yang kau inginkan? aku sangat berharap padamu, tapi mengapa aku merasa kau tak lagi mencintaiku? apa salahku ..." rintih seorang wanita bernama Veronica yang tak lain adalah tunangan dari Rama
Rama tertegun akan ungkapan hati sang tunangan. Apakah ia terlalu keterlaluan pada Veronica? pikir Rama. Karena Rama jarang sekali melihat tunangannya itu menangis.
"Vero, maafkan aku jika aku menyakiti hatimu. Beri aku waktu sebentar lagi, Aku akan secepatnya menikahimu"
Veronica hanya mengangguk di pelukan laki laki yang sudah hampir dua tahun ia kenal sebagai laki laki baik dan bertanggungjawab. Meski terkesan sedikit cuek, tapi Vero yakin kalau Rama adalah laki laki terbaik untuk menemani sisa hidupnya.
Sementara Rama, entah mengapa ia merasakan ada suatu keanehan akan perasaannya pada Vero beberapa bulan belakangan ini.
Dulu, saat memeluk Vero mampu menciptakan kenyamanan dan ketentraman di hati Rama. Tapi sekarang? Mengapa memeluk wanita yang ia sudah ia pilih malah terasa hambar? Apakah rasa cinta untuk Vero mulai terkikis?
Oh tidak! bagaimana ini?
Rama benar benar dilema akan perasaannya. Entah mengapa akhir akhir ini ia sering kali memikirkan wajah Janda beranak satu itu?
Rama serasa stres memikirkan hatinya.
Sebenarnya ia pernah meminta pada nyonya besar untuk mundur dari tugas menjaga Melati dan Miko. Dan Sang majikan pun menyetujuinya.
Namun siapa sangka, Miko justru sudah terlalu nyaman dengan kehadirannya. Sehingga mau tak mau Rama harus mengambil posisinya kembali karena ia tak mungkin tega membiarkan Miko sering merengek meminta bertemu dan bermain dengan dirinya.
"sayang, kita mau kemana?" tanya Vero
"aku harus menjemput Non Melati"
"apakah harus sekarang? bukankah kau berjanji akan mengajakku jalan jalan ke Mall sore ini?"
"ini masih jam tiga, masih ada waktu untuk kita mrngantarkan nona pulang dulu"
"baiklah"
Akhirnya Veronica dan Rama mendatangi butik dimana tempat Melati bekerja.
__ADS_1
Ya, Karena Melati tak mau melanjutkan kuliah, Kejora sengaja memberikan sebuah butik besar untuk di kelola oleh Melati. Dari pada Melati bekerja sebagai buruh di tempat orang lain? mending seperti ini kan? begitu pikir Kejora. Nyonya besar itu sudah menganggap Melati seperti adik sendiri.
"mari non"
"kak rama? kenapa cepat sekali menjemputnya?"
"maaf non, saya sengaja menjemput cepat karena sore ini saya ada acara"
"kalian ada acara?
"ya, kami akan berjalan jalan sore ke mall" sahut Veronica dengan cepat
"oh, kalau begitu kalian pergi saja. Aku akan pulang naik taksi nanti"
"tidak non, saya akan mengantar anda lebih dulu"
"tidak perlu kak, mm.. lagi pula aku masih harus menunggu Miko"
"miko? memangnya miko kemana non?"
"entahlah, dia tadi pamit ingin membeli ice cream di Alfamart depan bersama boby, tapi kenapa sampai sekarang belum pulang juga"
Boby? apa dia sengaja mendatangi non Melati dan Miko? tapi untuk apa? ah, menyebalkan!
"saya akan mencarinya"
Saat Rama melangkah, tiba tiba saja ponsel Melati berdering. Melati mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal tengah melakukan panggilan ke ponsel miliknya.
Untuk menjawab rasa penasarannya, ia pun segera mengangkat panggilan tersebut.
Deg
"apa? kecelakaan?"
.
.
__ADS_1