Antara Aku Dan Ibumu

Antara Aku Dan Ibumu
Luar Biasa Perihnya


__ADS_3

Hari sudah semakin siang. Miko sang putra juga sudah bangun dari tidurnya. Dan karena Miko sudah sangat rapi dan wangi, kini saatnya Miko harus mengisi perut kecilnya.


Akhirnya mau tak mau, Melati harus menggendong Miko keluar kamar karena ia rak mungkin membiarkan perut sang putra kelaparan.


Namun saat Melati hendak membuka pintu, bertepatan dengan itu pula Reyhan tengah masuk ke kamarnya.


"sayang" sapa Reyhan dengan lembut dan seolah olah tak terjadi apa apa tadi pagi


Melati hanya menatap sekilas sang suami lalu melanjutkan langkahnya


"sayang, kau mau kemana?"


"aku mau menyuapi Miko"


"apa kau sudah sarapan?"


"belum"


"kenapa kau belum sarapan? ini kan sudah hampir siang?"


"aku masih kenyang"


"bagaimana bisa kenyang? kau kan belum makan apapun sejak tadi pagi?"


"siapa bilang aku belum makan apapun? bahkan sejak pagi sekali aku sudah makan"


"makan apa?"


"makan ati" sahut Melati sembari berlalu meninggalkan sang suami yang masih diam mematung di ambang pintu kamar


"makan ati? sepertinya tadi tidak ada menu ati diatas meja makan tadi? hmm... atau jangan jangan menu atinya disimpan sama Melati sendiri? ya, mungkin seperti itu. Kan dia tau kalau aku gak suka ati" batin Reyhan


Sementara Melati yang sudah sampai didapur, ia langsung membuatkan telur mata sapi untuk Miko. Dan dengan santainya, bocah dua tahun itu menunggu sang ibu yang sangat telaten membuatkan menu makanan kesukaannya.


"hai sayang.." sapa Prilly yang tiba tiba saja mendekati Miko


"Ini pasti jagoan yang namanya Miko ya?" lanjutnya


Miko hanya mengangguk kecil.


"Miko lagi apa?"


"maem" sahut Miko dengan suara khas anak kecil


"Miko mau maem sama apa?"


"elul"


"telur? wahh... enak sekali.. tapi Miko tau gak kalau ada makanan yang lebih enak dari telur?"

__ADS_1


Miko menggeleng


Mendengar jawaban Miko, Prilly pun langsung mengambilkan nasi dan rendang daging buatannya yang masih tersisa itu.


Dan dengan segala rayuan maut yang ia keluarkan, akhirnya Miko mau makan makanan yang ia bawa meski awalnya Miko sangat menolak keras bujukannya.


"gimana? enakkan?"


"enak.. enak.." jawab Miko sembari mengunyah dengan lahap


"Miko?"


Saat Miko dan Prilly sedang asik bersenda gurau sembari makan, tiba tiba terdengar suara Melati yang nampak meninggi saat memanggil sang putra.


"mama"


"Melati?"


Jawab Miko dan Prilly bersamaan


"Kak, apa yang kakak lakukan?" tanya Melati


"maaf Mel, aku sedang menyuapi anakmu"


"ya aku tau, tapi kan aku sedang menggoreng telur untuk Miko. Kenapa kau malah menyuapinya terlebih dulu?" sahut Melati dengan nada emosi yang masih tertahan


"maaf kalau kau tak suka aku menyuapinya" jawab Prilly dengan menundukkan pandangannya


Melati tak lagi menjawab. Ia mengambil alih Miko dari Prilly dan membawanya keluar rumah. Ia sungguh muak dengan wanita yang bernama Prilly tersebut. Wanita yang menurutnya sengaja mengambil alih perhatian semua orang yang ada dirumah ini.


Tapi meskipun Melati sangat tidak menyukai wanita itu, ia bisa apa? Melati tak mungkin terang terangan mengusir wanita itu karena semua orang pasti akan lebih membelanya saat ini.


Biarlah Melati menahan sesak dan muak untuk sementara ini sambil ia memikirkan bagaimana caranya ia membuang perempuan itu dari keluarganya secara perlahan.


Ketika Melati sedang asik bermain dan menyuapi Miko, tiba tiba Reyhan datang menghampirinya dengan pakaian yang sudah sangat rapi.


"mas? kau mau kemana?" tanya Melati penasaran


"oh ya sayang, aku mau membawa ibu ke dokter spesialis tulang hari ini"


"hari minggu gini?"


"iya, kita sudah buat janji kok"


"apa aku perlu ikut mas?"


"tidak sayang, kau dirumah saja menjaga Miko"


"lalu mas pergi dengan ibu sendiri?"

__ADS_1


"tidak sayang, ada Prilly dan Reyna yang menemaniku"


"apa? Prilly? kenapa wanita itu harus ikut?"


"tentu saja dia ikut, kan yang kenal dekat dengan dokter itu adalah Prilly"


"apakah harus?"


"sayang.. apa yang kau hawatirkan?"


"aku__"


"kenapa?"


"aku__"


"sayang, ayolah.."


"tapi__"


"ini demi kebaikan ibu"


Melati terdiam. Padahal baru saja ia ingin mengungkapkan risalah hatinya, namun sang suami justru memohon untuk diijinkan. Mana mungkin ia bisa menolak? Apalagi gerombolan wanita rusuh sudah datang menghampirinya.


"ayo Rey" ajak sang ibuyang sudah ada di belakang Reyhan


"sebentar bu, aku ijin Melati dulu"


"kenapa harus meminta ijin pada istrimu?"


"ibu.. Melati itu istriku, aku harus pergi atas persetujuannya"


"dia pasti setuju, bukankah ini juga demi kebaikannya? kalau sampai ibu bisa berjalan lagi kan nanti ibu bakal tidak merepotkan dia? dan Dia juga tidak perlu bingung bingung lagi untuk memfitnah ibu dan menuduh ibu berbohong tentang kelumpuhan kaki ibu kan?"


"nah.. dengerin ibu. sepetinya ibu ada benarnya juga sayang, gimana?"


"pergilah mas" sahut Melati cepat tanpa menatap siapapun yang ada disana.


"beneran sayang?" tanya Reyhan meyakinkan


"pergilah sebelum aku berubah pikiran"


"terimakasih sayang" ucap Reyhan sembari memeluk dan mencium pucuk kepala Melati.


Namun belum sempat bibir itu menempel sempurna pada kening Melati, Sang ibu langsung menarik tangan Reyhan dan mengajaknya berangkat.


Sementara Melati, ia hanya menatap kepergian suaminya dengan hati yang luar biasa perihnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2