
Deg
Jantung Reyhan tak hentinya berdegup kencang. Ini seperti buah simalakama. Berada diantara dua pilihan yang sulit. Antara istri dan karir.
"Rey! kenapa kau diam saja? atau jangan jangan kau punya pikiran untuk meninggalkanku ya?"
"entahlah, aku bingung"
"Rey.. ingat! kita baru saja memiliki bayi. Dan kau mau lepas tanggungjawab begitu saja padanya? tidak! tidak bisa seperti itu"
"aku tidak mungkin lepas tanggung jawab pada anakku. Aku akan tetap memberinya nafkah untuknya"
"jadi maksut kamu? kau mau memilih tetap bertahan disini dan melepaskan hubungan kita?"
"itu pilihan terbaik"
"tidak! kita pasti bisa cari jalan keluarnya tanpa harus memilih diantara kedua pilihan itu"
"jalan keluar seperti apa yang kamu maksut? kita tidak mungkin memberikan penawaran padanya. Apalagi kamu sudah menyakiti calon istrinya. Dia pasti tidak akan terima akan hal ini"
"apa kau juga sedang memberikan pembelaan pada mantan istrimu itu?"
"sudahlah Prill.. jangan mencari cari masalah lagi. Bahkan semua pun tau bahwa memang kaulah yang bersalah disini"
"kalau begitu ayo ikut aku!"
"kemana?"
"kita temui bos sialan itu"
"untuk apa?"
"kamu diam saja, biar aku yang akan mengurus semuanya"
__ADS_1
Reyhan pun mengikuti langkah Prilly tanpa banyak bertanya lagi. Sepertinya ia sudah terlalu pusing memikirkan semua masalah yang menimpanya hari ini.
Dan tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di ruang direktur utama. Karena tak ada penjaga atau siapapun didepan pintu, Prilly dan Reyhan perlahan memasuki celah pintu yang sedikit terbuka.
Deg
Reyhan seketika menghentikan langkahnya kala melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
"tidak sopan sekali kalian! masuk tanpa mengetuk pintu" sentak Bobby
"diluar tidak ada siapapun, makanya kami langsung masuk. maaf, kami tidak tau kalau tuan sedang bermesraan" sahut Prilly
Ya, ternyata saat Reyhan dan Prilly masuk. Bertepatan dengan itu juga, Melati tengah duduk dipangkuan Bobby.
Baik Reyhan dan Melati, keduanya saling bertatap mata. Meski dari jarak yang tidak terlalu dekat, Melati tau kalau tatapan mata Reyhan tengah terkejut saat menatapnya karena kejadian barusan yang terjadi antara dirinya dan Bobby.
Apakah sakit hati? sangat jelas. Reyhan merasakan betapa sakitnya saat melihat wanita yang dicintainya dekat dengan laki laki lain. Namun yang lebih menyakitkan lagi, ia tak bisa berbuat apa apa untuk melarang atau sekedar menjauhkan laki laki lain dari sisi Melati.
Mas Reyhan.. ini tidak seperti yang kamu lihat. Batin Melati
Ya, Melati sangat ingin sekali mengatakan pada Reyhan bahwa saat mereka berdua masuk, bertepatan dengan dirinya yang jatuh tersandung dipangkuan Bobby karena ia mendadak pusing.
Namun pada detik berikutnya, Melati sadar babwa tak ada gunanya menjelaskan pada mantan suaminya itu. Karena pejelasannya tak akan merubah apapun. Yang ada, jika ia menjelaskan, mungkin ia akan dianggap masih memiliki rasa dan harapan pada Reyhan. Jadi lebih baik diam saja. Begitu pikir Melati
"mau kami bermesraan, bukan urusan kalian! cepat katakan ada apa? aku tak punya banyak waktu untuk meladeni kalian"
"begini tuan, kami ingin memohon agar tuan berbesar hati memaafkan kami. Jangan pecat kami tuan, kami masih punya anak bayi. kebutuhan kami masih sangat banyak tuan" "oh ya, Kami juga masih memiliki ibu yang tinggal bersama yang masih harus kami rawat. Tuan pasti tau kan kalau orang tua itu banyak maunya, ingin ini, ingin itu. Pokoknya banyak sekali pengeluaran yang harus kami sediakan. Kami benar benar membutuhkan pekerjaan ini tuan. Tolong kami, tolong jangan berikan kami pada pilihan sulit seperti ini tuan"
"sudah?"
"i..iya tuan"
"kau ingin aku berbelas kasih? lalu dimana hati nuranimu saat kau mengambil uang perusahaan? apa kau tak pikir? jika saja sampai perusahaan bangkrut, bagaimana nasib nenekku? bagaimana nasib seluruh karyawan? nasib keluarganya? apa kau pernah berfikir sejauh itu? tidak kan?"
__ADS_1
Prilly tertunduk lesu "maafkan saya tuan" lirihnya
"karena kalian berdua datang kemari, aku menganggap bahwa kau sudah menentukan keputusan" tunjuknya pada Reyhan "apa keputusanmu?"
"aku.."
"aku.."
"cepat katakan atau aku keluarkan surat pemecatan untukmu"
"saya pilih yang pertama tuan" sahut Reyhan cepat
"Apa?" teriak Prilly dengan lantang
"baiklah, saya akan memberi bonus untukmu! sekarang kalian boleh keluar!"
Tanpa banyak berkata, Reyhan segera menarik tangan Prilly keluar dari ruangan yang semakin lama semakin menyesakkan dadanya
"Rey! kamu gila!" "tuan, jangan dengarkan dia tuan" "Rey!! aahhh" teriak Prilly yang terus berontak saat di seret Reyhan keluar
"kak Bobby.. apa kak Bobby serius memberikan pilihan itu?"
"tentu saja"
"tapi kasihan mereka"
"jangan gunakan hati pada orang yang tak punya hati"
"tapi__"
"tenang saja, aku tak sejahat yang kau pikir. Aku hanya ingin memberikan pelajaran berharga yang tak akan pernah terlupakan untuk mereka berdua. Yang perlu kau pikir sekarang, bersiaplah dengan pernikahan kita yang akan dilaksanakan 1bulan lagi. okey"
Melati hanya mengangguk tanpa mengerti apa yang direncanakan oleh laki laki calon suaminya itu
__ADS_1
.
.