
Malam ini adalah malam yang panjang bagi abel.
mata nya terus menatap ruang operasi di depan nya.
terlihat sosok dokter tengah berbincang dengan ayah dari suami nya.
sepasang tangan memegang tangan ku dengan erat .
tangan itu milik sahabat baik ku yang berada tepat di samping ku.
"Loe nyakin bel ngelepasin habi.? "
mima menatap wajah abel dengan sejuta pertanyaan disana .
"Aku harus gimana mim ? kalau aku egois terhadap nya , dia akan meninggal."
ujar nya bertanya dengan mata nya yang sayu karna terlalu banyak menangis ia menatap lekat ke arah nya.
"Tapi bel ,loe lagi hamil.?"kata mima menatap ke arah perut abel.
"Aku rela berkorban mim , asal dia bisa hidup."
mata nya menerawang jauh disana.
bibir nya tersenyum tipis , angan nya pun melayang memikir kan ke jadian dua jam yang lalu.
❄❄❄❄FLASHBACK❄❄❄
"Kamu harus meninggal kan habi.?" ucap nya spontan dan lantang.
Itu adalah ucapan yang masih terlinang di telinga abel.
tangan nya mencengkram kuat ujung baju nya.
"Tuan tidak kasihan terhadap abel , dia sedang mengandung calon cucu tuan."
mima menatap ke arah pak frey
tangan nya menunjuk ke arah abel tapi sayang pak frey seakan tak peduli dengan semua itu.
"Dia bukan cucu keluarga Cleonerisen.!"
Ucap nya tegas melirik ke arah abel yang masih terduduk di lantai.
membuat orang yang berada disana kaget sekaligus iba terhadap nya dengan ucapan di lontar kan nya.
"Saya akan pergi meninggal kan habi ! asal tuan sudi mendonor kan darah tuan.?"
ucap nya bergetar dengan air mata yang telah membasahi pipi nya.
"Bel .!!"
mima menggelengkan kepala nya cepat.
iya tak setuju dengan keputusan yang abel ambil saat ini.
Pak frey tersenyum lebar penuh kemengan menatap ke arah abel . kepala nya menganguk mensetujui permintaan abel.
"Baiklah , kapan saya bisa mendonor kan darah saya.?"
pak frey duduk dengan santai nya.
sementara abel masih terduduk di lantai dingin di depan nya dengan kepala tertunduk.
air mata nya entah sejak kapan jatuh membasahi tangan nya.tampa berniat untuk berdiri.
"Sekarang juga tuan.?" sahut abel spontan.
"Okay, kita ke rumah sakit sekarang."
Ucap nya meninggal kan abel marini tersenyum melihat abel dan mulai mengikuti pak frey menuju ke kamar nya yang terletak di lantai dua
...****************...
"Bell , loe belom makan dari kemaren.?"
suara serak itu membuyar kan lamunan abel.
mima memberikan abel jus apel kesukaan nya dengan sebungkus nasi goreng di tangan kiri nya.
abel menolak nasi goreng di tangan mima.
la memalingkan wajah nya menghindari tatapan tajam dari sahabat nya.
"bel..loe itu ya har-!"
ucapan mima terhenti oleh pak frey yang tengah berjalan menghampiri nya dengan sebuah amplop di tangan nya.
"Abel.!panggil pak frey..
Abel menoleh ke asal suara yang memanggil nama nya .
sontak mata abel melotot dan abel berdiri dari tempat duduk nya.
"Ini adalah surat yang kamu harus tanda tangani , sebagai bukti agar kamu tidak melanggar janji untuk meninggal kan anak saya."
__ADS_1
tangan pak frey menyodor kan amplop beserta pulpen ke arah abel.
Tangan nya bergetar saat abel meraih amplop itu dengan tangan nya.
Dan mulai membuka nya mata abel menatap selembar surat dengan matrai yang menempel di sana.
abel mencoret surat itu dengan nama nya di atas nya.
mima yang melihat itu semua membuang nafas nya dengan kasar .
dan terduduk lemas di kursi nya ,tidak habis fikir segampang itu ayah habi egois meminta abel untuk meninggal kan nya .
"Okay ...semua beres."
ucap nya meraih kertas di tangan abel dan berlalu pergi begitu saja.
abel menangis kencang menyender kan tubuh nya diding koridor.
marini yang tengah diam sedari tadi menghampiri abel dengan senyuman lebar di bibir.
"Ck... haha ! kasian banget sih loe bel ,hamil besar tapi kehilangan suami tercinta. dari awal loe tu nggak pantes buat habi . jadi gini kan akibat nya kalau melawan.?"
Tawa nya meledek abel yang tengah tersedu dalam diam .
kaki nya belari kecil mengikuti langkah suami nya .
"Aakkhhh.!"
teriak abel menahan sakit di bagian perut nya lagi.
"Bel ..bel elo kenapa.?"mima belari menompang tubuh nya agar tidak terduduk di lantai.
abel kehilangan kesadaran nya dan terjatuh di lantai rumah sakit.
mima panik melihat kondisi abel yang mengenas kan
"Suster tolong.!!"
teriak mima meminta bantuan seseorang disana.
mima benar-benar khawatir dengan ke adaan abel sekarang ,iya bingung harus berbuat apa.
terlihat seorang dokter yang tengah menghampiri nya dengan terburu-buru.
dan mengendong tubuh abel menuju ruang UGD disana.
...****************...
Abel mulai sadar dari pingsan nya terlihat mima yang tengah tertidur di samping ranjang nya.
abel terduduk dari tidur nya menatap sekeliling ruangan. mata nya tertuju ke arah jam diding disana.
"sahabi.!.aakh.?!"
ujar abell menarik paksa jarum yang masih terdapat di nadi nya.
kaki nya belari menuju ke arah rawat inap habi berada.
Clekk..!!
abel mendorong paksa pintu ruangan VIP anggrek di depan.
terlihat seorang suster yang tengah membersikan ruang itu.
"Sus habi suami saya yang di rawat disini dimana ya.?"
ucap abel bertanya kepada suster yang tengah berdiri mematung menatap nya.
"Sahabi cleonerisen iya bu , pasien sudah di pindah kan keluar negri bu tadi pagi oleh pihak keluarga.?"
"Apa sus , di pindah kan.?"
tangisan abel seketika pecah iya menangis tersedu-sedu dengan histeris di ruangan itu.
iya kembali terduduk di lantai dengan posisi menekuk kan tubuh nya.
"Hiks..hiks ..!! Habiii.!! Akh..Akh.sakitt.!!
teriak abel memegangi perut nya yang buncit mata nya menatap ke arah sesuatu yang mengalir di paha nya.
tangan yang bergetar menyetuh sesuatu di paha nya .
"Ah..darah.!"ujar abel kaget .
"Astafirullah bel.!"
"mim perut ku sakit banget.?"
"tolongg sus."
mima memapah tubuh lemah abel menuju hospital bed.
tak lama dokter spesialis kandungan menghampiri abel dengan tergesa-gesa.
"maaf anda harap keluar, kami akan segera menangani pasien."
__ADS_1
mima keluar dari ruangan .
iya terus bolak balik di depan pintu UGD menunggu ke adaan abel.
Clekk...
"dokter gimana ke adaan temen saya.?"
Ujar mima menatap dokter wanita yang ada di depan nya.
"pasien mengalami pendarahan hebat akibat depresi yang iya alami .tubuh bu abel sangat ini benar-benar menghawatir kan .
saya khawatir itu bisa berakibat fatal kalau tidak segera di tangani.
"apa lagi sebelom nya ibu abel pernah mengalami pendarahan di usia kandungan nya 21 minggu . membuat salah satu bayi nya meninggal di dalam kandungan bu abel."
"maksud dokter? abel pernah pendarahan waktu itu dan bayi nya kembar sebelum nya."
tanya mima menatap nya dengan tatapan penasaran disana.
dokter perempuan itu menganguk pelan membenar kan ucapan mima.
mima mengeleng pelan tak percaya.
"bayi nya harus segera di lahir kan sekarang. meski belom pada waktu nya."
"Dok usia kandungan abel masih 35 minggu. apa tidak apa bayi nya di lahir kan sekarang."
ucap mba tami yang menguping sedari tadi.
mata nya menatap dua sosok wanita di depan nya dan mulai menghampiri nya.
"Usia dalam 35 minggu sudah matang untuk di lahir kan meski bayi nya prematur. kami akan menaruh bayi bu abel di incubators untuk sementara waktu."
sahut dokter yang bernama katy itu menginduksi persalinan abel.
"Saya setuju dok , kalau itu tidak membahayakan kondisi sepupu saya mau pun bayi nya."
jawab Tami cemas mata nya menatap lurus ke arah dokter yang menganguk setuju dengan keputusan yang Tami ambil.
"Kalau begitu kami akan segera melaku kan operasi cesar nya ,saya permisi dulu."
ujar dokter katty pamit pergi meninggal kan mima dan tami disana.
mima menatap ke arah tami yang tengah menghubungi seseorang disana.
"Mba Tami ? apa ini keputusan yang tepat.?"
ucap mima bimbang dengan keputusan yang tami ambil.
tangan nya iya remas gelisah mima takut itu bisa menyebab kan sesuatu pada abel mau pun bayi nya.
"tenang mim , semua akan baik-baik saja."
sahut tami menyadari ke gusaran mima yang sedari tadi murung melihat lampu merah tanda operasi sedang berlansung.
sudah dua jam berlansung operasi abel tapi belom ada tanda-tanda bahwa sosok dokter keluar dari sana.
fikiran mima mau pun tami semakin tercekam ke takutan .
ceklekk...!
"dokter gimana ke adaan abel.?"
ucap tami menghampiri dokter yang tengah terkejut karna tami muncul tepat di hadapan nya dengan sejuta kecemasan disana.
"Bayi nya selamat, namun kondisi ibu abel yang semakin memburuk saat ini .?"
ucap nya resah dengan keadaan abel yang semakin memburuk paska melahirkan bayi perempuan prematur itu.
"Ya Allah abell ." gumam mima menutup mulut nya .
mata nya mulai memerah dan memanas .
"Bayi nya saya akan letakan di incubators , semantara bu abel di ruangan ICU."
"baik dok terima kasih."
ujar tami menatap dokter yang tengah memandu suster yang membawa tubuh abel di koridor rumah sakit menuju ruangan ICU disana.
Tami menyeder kan tubuh nya lemas sementara mima sudah menangis tersedu di.kursi nya.
...****************...
Tami dan mima tengah menatap ke arah Kaca besar yang memisah kan ruangan disana.
terlihat bayi mungil berkulit putih yang tengah terlelap di dalam incubators di dalam nya.
Ia itu adalah bayi milik abel yang iya kandung selama 8 bulan selama ini.
meski bayi nya terahir prematur sebelum waktu nya iya di lahir kan..
Sudah dua bulan berlalu sejak abel koma akibat depresi .
sampai saat ini abel belum juga siuman dari koma nya.
__ADS_1
bahkan dokter yang merawat nya sudah hampir putus asa .
karna sama sekali tidak ada perubahan di tubuh nya selama hampir dua minggu ini.