
Tap..tap..
mima dan abel berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit .
abel yang panik putri nya menangis terus menerus dari tadi pun memutus kan untuk pergi ke rumah sakit.
setelah acara pertunangan nya selesai mima pergi menemani sahabat nya itu yang tengah gelisah sedari tadi.
"Sayang..cup..cup anak bunda .jangan nangis ya sayang kita kerumah sakit ya.?"
ujar abel menepuk-nepuk bahu putri nya agar sedikit tenang.
abel memilih dokter spesialis poli anak untuk memeriksa ke adaan Alona.
cukup lama abel dan mima menunggu akhir giliran mereka .
"Sahbila nafalona."!!
teriak suster di depan pintu memangil nama Alona untuk masuk kedalam ruangan.
kaki abel melangkah cepat menuju ruangan dokter spesialis itu.
"keluhan nya apa bu.?""
ucap dokter wanita yang tengah sibuk menunduk melihat secarik kertas di depan nya.
"Putri saya nangis terus-menerus dok sejak pagi." sahut abel menimang lona .
Dokter wanita itu mendongkak menatap abel betapa terkejut nya iya melihat siapa yang ada di depan nya.
"Abell.!"
ucap nya spontan menatap ke arah dokter wanita itu menatap ke arah abel lekat.
"Natasya.!" panggil abeltak kalah terkejut melihat nya.
"Bel , loe kenal sama nih dokter.?"
bisik mima ke telinga abel yang sesekali melirik ke arah dokter wanita itu.
abel menganguk pelan memberi isyarat bahwa iya mengenal nya.
"Dia natasya, sepupu nya sahabi.!"
abellmenatap ke arah mima yang terkejut tidak percaya.
"Bel , sini biar aku priksa dulu anak kamu sakit apa.?"
ujar Natasya mengambil alih Alona yang ada di dekapan nya.
natasya membaringkan balita itu ke atas hospital bed dan mulai memeriksa details tubuh nya.
"Bel ..putri kamu kembung, karna itu iya terus-menerus menangis tak nyaman.?"
ujar nya menatap ke arah abel yang tengah mengelus pipi bakpou putri nya.
"Makasih ya Tasya."
ucap abel memegang tangan nya dengan senyuman hangat di bibir nya.
"Dia benar-benar mewarisi muka ayah nya ? dan mata nya mewarisi mu."
tangan natasya mengendong tubuh mungil keponakan nya .
abel tersenyum kecut mendengar nya .
"dimana Habi .?"
ujar Tasya bertanya mengenai habi ke arah abel dan mima yang hanya terdiam beku sedari tadi.
__ADS_1
"Aku dan dia sudah berpisah.?"
sahut abel memaling kan muka nya ke arah tempat lain.
iya tak ingin di tatap dengan rasa terkejutan oleh natasya .
"Bagaimana mungkin , kalian saling menyayangi satu sama lain . aku tau betul habi tak mungkin melepas kan mu begitu saja ? apa lagi ada kehadiran seorang anak di tengah-tengah kalian.?"
"Tasya..mungkin jodoh kami hanya sebatas ini saja.?"
"Pasti ada hal lain ya kan , apa karna om freyhan?"
ujar tasya menatap menyelidik mencari jawaban di mata abel ia tahu betul sifat ayah.hani itu.
"Ti-tidak .!" abelmenjawab secara spontan.
"Huh...!tasya menyender kan badan nya kasar di kursi nya.
"Tasya kami permisi dulu.?"
ujar abel mengambil tubuh putri nya yang terlelap di atas hospital bed.
dan berjalan menuju pintu keluar bersama mima.
"Aku akan cari tau semua nya dan menyatukan kalian kembali.?"
...****************...
"Habi apa kau benar-benar ingin pergi lusa.?"
pak frey membuka percakapan nya.
habi menoleh ke arah nya dengan anggukan singkat di kepala nya.
"Apa tidak bisa di tunda.?"
"baiklah ..tapi kau harus pergi bersama dengan Grace.?"
"Apa dia benar-benar ikut.?"
"lebih baik begitu , grace adalah calon istri mu."
"apa benar dia tunangan ku , kenapa aku tidak merasa bahwa aku mencinta nya.?"
gumam habi menompang dagu nya menatap kosong monitor di depan nya.
...****************...
di pagi yang sedikit mendung ini abel memutus kan untuk pergi ke jakarta menemui bulek nya dari adik kandung sang ibu nya.
"loe bener bel ,mau pergi.?"
ucap mima bertanya kepada sahabat nya itu.
"Aku sudah memutus kan nya mim."sahut abel tersenyum tipis.
"Yaudah ,aku dukung keputusan yang kamu ambil bel."
"makasih ya mima, aku pergi dulu"
abel memeluk erat tubuh sahabat nya. Melambaikan tangan nya menuju masuk ke bandara dengan sebuah koper di tangan kiri nya.
"Byebye..abel.!"
teriak mima melambaikan tangan nya mengantar ke pergian sahabat nya itu.
...****************...
Setelah 1 jam 15 menit abel di dalam pesawat
__ADS_1
akhir nya pesawat yang di tumpangi nya mendarat sempurna di bandar udara internasiol soekarno hatta di jakarta.
abel menarik koper nya dengan alona di dekapan nya .
kaki nya menuju ke arah taxi yang tengah terparkir di depan sana.
setelah 1 jam menyusuri jalanan ya padat dan macet nya jalan .
abel sampai di sebuah bulek nya .
dan segera turun menuju pekarangan rumah nya.
Ting..tong..
abel menekan tombol di dekat pintu masuk.
dan menunggu seseorang di dalam membukaan pintu untuk nya.
"Iya.. cari siapa yah.??"
"buklek lilis.!"
abel menatap berbinar menatap seseorang wanita tengah baya di depan nya.
"Abel , ayok ndok masuk.?
ujar nya memeluk tubuh abel dan mempersilakan abel masuk ke dalam.
"wah , ini cucu nenek ya.?"
ucap buklek antusias menatap Alona yang tengah memain kan bola di tangan nya.
"Bulek senang kamu kesini.?"
"Iya , bulek abel kesini mau minta bantuan buklek.?"
"ada apa bel , buklek pasti bantu kamu.?"
"Abel ....hm ?.mau titip anak abell buklek."
buklek lilis menatap nya lekat dan mengambil alih alona dan mendudukan nya di pangkuan nya.
"Ada apa.? " ujar buklek lilis bertanya ke arah nya.
"Abel mau ke London buklek "
hiks..hiks...
"Bulek tau semua nya . Tami udah cerita semua nya., buklek menghargai keputusan mu ndok. biar putri mu buklek yang jaga ya.?"
buklek lilis menepuk pundak abel mencoba menenangkan kan keponakan nya itu.
"makasih buklek.." ujar nya memeluk erat ke arah nya.
"kapan kamu pergi ke London.?"
"Lusa buklek.?"
abel menunduk dan menyeka air mata nya .
ini lah pilihan yang abel buat .iya akan meraih mimpi nya ke London menjadi designer impian nya.
abel tau keputusan ini berat bagi nya tapi iya tak punya pilihan lain.
abel sudah cukup menderita dengan kehilangan suami nya. karna keluarga nya tak merestui nya karna iya wanita miskin.
kali ini iya akan mengubah takdir nya untuk putri nya .
agar dimasa depan tak adalagi yang menghina mereka
__ADS_1