Antara Jeritan Dan Harapan

Antara Jeritan Dan Harapan
PART 1 : Awal masuk SMA


__ADS_3


👆👆👆


Ahmad Sujono (Protagonis Utama)


suatu pagi yang cerah, matahari menyapa Jono dan ibunya Hilda untuk berangkat ke SMA 1, ini adalah hari pendaftaran Jono di SMA unggulan itu.


“Jono, nak, bangun sayang, ayo kita berangkat ke tempat yang akan menjadi SMAmu nak" kata Hilda dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh anaknya


“Hmmm... ibu" jawabnya gagu. ya, selain Jono cacat dan terbelakang mental, ia juga gagu, begitu pula dengan 3 adiknya yang memiliki nasib yang sama dengannya.


“Bangun nak, ini sudah pagi, ayo kamu mandi dan siap-siap nak, ibu tunggu kamu disini” kata Hilda sambil menunggu di ruang tamu


Jono mandi kilat dan langsung mengganti pakaiannya serta menyeregap ibunya dengan senyum di wajahnya, bibirnya juga tak teratur membuatnya kesulitan untuk melukiskan senyum di wajahnya.


“Alhamdulillah, kamu sudah siap nak" kata Hilda sambil tersenyum


“Ayo kita berangkat" sambungnya


“Bu Hasan, saya titip adik-adik Jono ya, saya mau pergi sebentar". kata Hilda memohon kepada tetangganya itu


“Seno, Nadya, Sofia, ibu sama abangmu berangkat dulu ya nak ya, jaga diri kalian baik-baik, Assalamualaikum" sambungnya


“Wa Alaykum Salam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh, hati-hati di jalan bu" jawab bu Hasan.


mereka berangkat dengan becak langganan mereka, pak Dul namanya, kebetulan pria tua itu juga OB di SMA Jono.


“Becak pak!" seru Hilda sambil melambaikan tangannya mengisyaratkan pak Dul untuk menghampiri mereka


“Bu Hilda, tumben pagi-pagi udah rapih begini, cantik lagi" kata pak Dul sedikit menggoda


“Ah, pak Dul bisa aja" kata Hilda tersipu


“Ini pak, saya mau mendaftarkan anak saya Jono ke SMA tempat bapak bekerja" sambungnya sambil tersenyum


“Ooooh, beres beres bu, bisa diatur, yang penting jangan lupa" pak Dul menggerakkan jari telunjuk dan jempolnya menyatukannya pertanda meminta ongkos


“Tenang aja pak Dul, ada kok" kata Hilda sambil tersenyum


“Oke bu, silahkan naik"


“Ayo Jon, Bismillahirrahmanirrahim" kata Hilda sambil mendudukkan dirinya dan anaknya


dalam perjalanan menuju SMA, mereka menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalan, sesekali Hilda melipat kakinya keatas kaki yang lain, ia berpesan kepada anaknya Jono supaya belajar dengan tekun dan jangan pernah merasa minder atau rendah diri, ia yakin bahwa putra sulungnya itu bisa menyelesaikan pendidikannya dengan peringkat dan prestasi terbaik, walaupun sudah pasti kondisinya jauh berbeda dengan teman-temannya yang lain, kebetulan tetangga dekatnya juga bersekolah di SMA yang sama dengan Jono, dan ia memang terkenal cerdas, baik hati, dan taat beribadah dan juga kepada kedua orang tua. Rasanya ingin sekali bahwa suatu saat nanti Hilda menjodohkan anaknya Jono dengan tetangganya itu, Salma namanya.


***


Di SMA 1 suasana masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang barusan dari ruang BK, mengingat ini adalah hari terakhir pendaftaran, ketika itu pak Dul langsung menerima pembayaran dan bergegas menuju 2 pintu sekolah, karena gerbang sekolah telah dibuka lebar dan pak Dul memarkirkan becaknya di tempat parkir area sekolah.


Bu Hilda mengucapkan terima kasih dan segera menuju ruang guru untuk melakukan pendaftaran, tapi ditengah-tengah, Jono malah menjerit-jerit dan ngeyel minta pulang.


“Ibuuu!!! Jono nggak mau sekolaaah!!! Nanti banyak orang yang bully Jono, Jono nggak mau sekolah Buuuu!!!"


“Ish, Jono kamu ini apa-apaan sih? ayo kita masuk, kalau misalnya terjadi apa-apa ya tinggal lapor ke BK aja, gampang kan?"

__ADS_1


“Nggak Buuu, nggak mauuu!!!"


“Ayo cepet, malu sama orang-orang lho, kamu dilihat banyak orang lho disini, kamu nggak malu apa?"


“Masa bodo ibu, pokoknya Jono nggak mau sekolaaah!!!"


“Udah kamu diem aja kenapa sih? Kamu takut sama siapa nak? Anak-anak nakal? Harusnya kamu takut sama orangtuamu dan Allah sayang, bukan sama anak nakal, ayo cepat masuk biar ibu bisa cepat-cepat mendaftarkan kamu, tolong nak ini semua demi kebaikan kamu, kamu harus sekolah dan menjadi anak pintar"


“Assalamualaikum pak, saya mau mendaftarkan anak saya Jono di sekolah ini" kata Hilda yang terengah-engah karena berlari


“Wa Alaykum Salam ibu, silahkan duduk” Kepala TU bernama pak Bambang mempersilahkan duduk.


“Bagaimana pak? Apakah anak saya Jono bisa diterima di sekolah ini?" kata Hilda memohon sekaligus bertanya-tanya


“Tentu saja bisa ibu, asalkan berkas-berkas ijazah SMP dan lain-lain sudah lengkap dan memenuhi persyaratan sekolah ini" ujar pak Bambang yang sambil tersenyum mengizinkan Jono bersekolah di SMA 1 dengan yakin


“Alhamdulillah naaak, akhirnya kamu sekolah juga sayang" ucap Hilda terharu menangis bahagia sambil memeluk erat anak sulungnya itu, tapi wajah Jono masih saja datar tanpa ekspresi


“Terimakasih paaak, terima kasiiih, Alhamdulillaah Ya Allaaah" sambungnya masih menangis haru biru


“Iya ibu, iya, sama-sama, saya juga senang kok bisa membantu kalian berdua, Jono sekolahnya yang pintar ya, semangat nak, jangan pernah menyerah, ya?" kata pak Bambang memberi semangat yang masih menangis haru


“Maaf pak, saya punya pertanyaan" jawabnya gagu


“Apa itu nak?" tanya Pak Bambang penasaran


“Apa disini nggak ada anak nakal ya? Ingat ya pak, saya nggak mau sekolah kalau sampai ada orang-orang yang membully saya"


“Tidak ada nak" jawabnya bohong


“Ssst... Jono! Nggak boleh ngomong gitu kamu, sekali lagi terimakasih banyak ya pak, kami pamit pulang, salim dulu sayang" kata Hilda


Setelah mereka pamit, Hildapun keluar dari gerbang sekolah, ketika ia berpamitan dengan anaknya itu, tak disangka seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi melesat ke arah Hilda dan membuatnya terjerembab ke tanah.


Brak!!!


“Aaaaw, Ya Allah, Astaghfirullahaladziiim!!!" teriak Hilda sambil meringis dan memegangi kakinya yang terasa sakit


“Ibuuuu!!!"Jono memekik keras dengan gagu dan bibirnya yang tak rata, ia segera berlari kilat menuju ibunya sampai ia terjatuh beberapa kali karena kakinya yang pincang


Sang pengendara motor yang menggunakan jaket denim, celana Levis robek-robek, dan tentunya helm hitam dengan kaca helmnya yang menutupi seluruh wajahnya menoleh sekilas ke belakang, kemudian ia langsung tancap gas tanpa bertanggung jawab, entah siapakah orang itu, apakah ia memiliki dendam khusus dengan korban? Tentunya hanya Tuhan yang tahu soal itu semua.


beberapa siswa yang melihat Jono langsung terfokus membantu membangkitkan ibunya yang telah tak sadarkan diri.


“Cepat panggil ambulance!!" kata salah seorang dari mereka


seorang siswa bernama Alam langsung sigap dan menelfon Ambulance


“Halo, Ambulance... cepat datang ke SMA 1, ada korban kecelakaan di TKP" ujarnya panik


Lima belas menit kemudian mereka mendengar suara sirine Ambulance, petugaspun langsung membawa Bu Hilda ke RS terdekat, RS Muslimat namanya


Sementara Jono terus menjerit-jerit dan menangis tanpa henti meratapi ibunya, seluruh siswa menenangkan hati Jono yang terpecah berkeping-keping.


“Tenang bro, tenang, insyaallah nyokaplu ga papa kok, tenang ya" kata Alam mencoba menenangkan Jono sambil mengusap-usap dadanya yangmana rasa sakit telah menusuknya hingga ke relung hati yang paling dalam.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan, Salma melihat semua kejadian tadi dengan seksama dan ia merasa iba dengan Jono dan ibunya itu.


“Ilahi, seandainya aku bisa menolong mereka, kasihan anak itu, tapi apalah daya, kehidupanku tidak jauh berbeda dari mereka, aku juga miskin sama dengan mereka yang setiap harinya hanya sarapan nasi dengan lauk garam, terkadang juga singkong atau ubi, bahkan terkadang aku juga persis seperti mereka, tidak makan seharian penuh bahkan sampai 3 hari" monolog Aidah Salma sang bintang kelas XII Bahasa


Aidah Salma


👇👇👇



***


Setibanya mereka di RS Muslimat, dokter langsung menangani Bu Hilda dengan intensif


Jono yang sedari tadi mengikuti jejak ibunya pun terus menjerit dan menangis sesenggukan memanggil ibunya berkali-kali.


Bu Hilda masuk ke ruang UGD, dokter menampakkan dirinya dan bertanya siapa diantara siswa itu yang merupakan anaknya.


Jono mengangkat tangannya gemetaran sambil masih menangis. “Saya dokter" jawabnya sambil menangis dan gagu.


“Siapa namamu nak? Apa diantara kalian ada yang tau namanya?" tanya dokter itu penasaran


“Tidak dok, tidak ada satupun diantara kami yang mengenalnya, karena baru saja ibu ini mendaftarkan anaknya ke SMA kami" jawab Delia yakin


“Baiklah, apakah ada ijazah atau kartu tanda siswa SMP yang kamu miliki?" tanya dokter itu lagi kepada Jono


dengan gemetaran Jono mengeluarkan kartu tanda siswanya dari tasnya, “Ini dok" katanya gagu sambil menunjukkannya pada dokter


“Sujono" gumam dokter itu


“Mmmm... begini anak muda, ibumu sekarang terpaksa harus kami rawat inap di RS ini, jadi saya sarankan supaya nak Jono ini pulang dulu dan bawa pakaian secukupnya untuk menjaga ibumu dan bermalam disini"


“Tapi... tapi saya tidak bisa melakukannya dok, saya punya 3 adik di rumah, bagaimana bisa saya meninggalkan mereka?" ujarnya gagu


“Begini saja, kamu pulang dulu ke rumahmu, kamu titipkan adik-adikmu pada tetanggamu, setelah itu kembalilah kesini dan temani ibumu" ujarnya menyarankan dengan lembut


“Tenang aja bro, gue anterin, gue bawa motor kok, omong-omong, kenalin, gue Alam, Alam Firmansyah, jadi namalu Jono ya?" kata Alam sambil menyodorkan tangannya


“I... iya... makasih ya bro, lu baik banget sama gue" jawabnya gagu sambil menyambut jabatan tangan Alam


“Lu gagu?" kata Alam heran dan merasa agak kasihan


“I... iya, gue memang—"


“Ya udah, yok gue anterin pulang, sebelum hari makin gelap, nanti adik-adiklu malah khawatir" katanya menawarkan


“Sekali lagi makasih ya bro, gue berhutang budi sama lo" kata Jono gagu


“Ya ampun Jooon, kagak usah mikirin itu laaah, yang penting lu nyampe rumah dulu, oke?"


“Ya deh Lam, makasih lho"


“Iya sama-sama"


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa kasih ide-ide cerita yang menarik ya guys, juga koreksi dimana kesalahan author 🙏🙏🙏😌😌😌


__ADS_2