Antara Jeritan Dan Harapan

Antara Jeritan Dan Harapan
PART 91 : Alex Atheis


__ADS_3

NB : Novel ini masih dalam tahap revisi jadi bacalah dengan teliti dan bijak mohon dikoreksi jika ada yang salah, selamat membaca my beloved readers 🙏🙏🙏😌😌😌


Salma berpamitan sekali lagi dan kembali ke rumahnya, sementara sesuai dengan nasehat Salma, Jono langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya setelah membersihkan diri, seketika adik-adiknya membersihkan luka-luka Jono dengan air hangat


“Ya Allah Mas Jono, siapa sih yang tega melakukan ini ke kamu Mas?" tanya Sofia lirih


“Sudah lah Sof itu tidak penting, yang penting sekarang Mas mau istirahat dulu, Mas capek"


Jono berlalu menuju kamarnya dan beristirahat


***


Di rumah Ruben, Alex CS berhambur tawa gembira, pak Willy dan bu Amanda nampak heran dengan sikap mereka yang sama sekali tidak mengucapkan salam.


“Wa Alaykum Salam anak-anak, sopan sekali ya kalian masuk rumah tanpa salam"


“Maaf Mih, Pih, Ruben keasyikan bercanda sama temen-temen sampe' lupa ngucap salam, Assalamualaikum Mami dan Papi"


“Kamu tuh dari mana aja sih Ben, kok jam segini baru pulang?"


,


“Ya Ruben nunggu ujan lah Pih, tadi kan hujan deras"


“Apa sih yang kalian omongin? Kok kayaknya seru banget tuh sampe' cekikan, begitu?"


“Hehe... Nggak ada yang spesial kok Om, cuma canda-candaan biasa aja"


“Owh, tapi ada satu hal sebetulnya yang ingin Om sampaikan sama kalian, khususnya kamu Alex"


“Soal apa Om?"


“Mampus gue, pasti soal skandal itu lagi" gumam Alex dalam hati


“Kemarin papa kamu bicara serius sama Om, katanya kamu yang menyebabkan terjadinya sebuah skandal, antara kamu Jennifer, dengan Alam Firmansyah si santri terbaik di pondok pesantren Al-Hikmah putra itu, betul?"

__ADS_1


“I... Iya Om, itu betul... A... Aku..." ujar Jennifer gugup


Ruben langsung berjalan kilat menuju lantai atas, Jennifer yang sadar kekasihnya marah hanya bisa berdiam diri dan menundukkan kepalanya.


“Kenapa kamu berbuat tindakan seperti itu Nak? Apa kamu nggak kasihan sama Ruben?"


“Maafin aku Om, aku di luar kendali waktu itu, aku nggak bisa menguasai diri, hiks, hiks"


“Ya udah Nak, nggak apa-apa, kalian masih muda dan mudah dipengaruhi, itu hal yang wajar, Alex... Om minta tolong sama kamu Nak, jangan pernah lagi kamu menyengsarakan teman-temanmu ya Nak ya, dengar kata-kata Om, Om sudah menganggap kamu sebagai anak Om sendiri, Ruben dan kamu sudah seperti saudara kandung, demikian juga dengan kalian Jennifer dan Alyssa, kalian juga seperti saudara kandung, kalian juga Om anggap sebagai anak Om sendiri, dan untuk kamu Jennifer, Om memaafkan kesalahan kamu, nanti Om sendiri yang akan menyadarkan Ruben, kamu tenang aja ya Nak ya"


“Alex juga mau bantu menyadarkan Ruben Om, Alex faham Alex yang salah, Alex sudah pernah membuatnya tenang sebelumnya, Alex yakin, kali ini usaha Alex nggak akan gagal lagi"


“Nggak! Aku nggak setuju Mas, enak aja kamu main kasih dia kesempatan aja, nggak bisa! Celaka kamu Alex! Kamulah yang bertanggung jawab atas semua kebodohanmu ini, sekarang juga tinggalkan rumah ini dan jangan lagi kamu coba-coba dekat dengan anak saya Ruben, pergi Alex! PERGI!!!"


Suara teriakan Amanda mampir ke kamar Ruben, pemuda itu langsung berlari kembali ke lantai satu.


“Mami! Jangan coba-coba usir Alex dari sini! Dia itu sahabat aku dari kecil, Mami nggak boleh lupa semua itu!" pekiknya sambil menuruni anak tangga dengan cepat


“Dengar Ruben! Kamu... Sudah salah memilih sahabat, kalau Alex ini anak yang baik-baik, tidak mungkin dia menjerumuskan pacar kamu Jennifer, dan kamu Alex, cepat kamu angkat kaki dari sini"


“NGGAK!!!"


“MAMI YANG DIAM!!!"


“Plak!!!" Amanda menampar putranya dengan keras sampai nafasnya terengah-engah


“Mami nampar aku Mi? Hah? Mami nampar aku? Tega ya Mami, memalukan sekali Mami melakukan ini semua di depan teman-temanku?"


“Sudah cukup! Ruben, tutup mulut kamu, Sayang, udah cukup, jangan ribut lagi dengan anak kita, udah pokoknya sekarang Om Willy pengen supaya kamu Alex, tidak pernah mengulangi kesalahan ini lagi, dan buat kamu Ruben, maafkan Jennifer, kasihan dia" pekik Willy memecah keributan yang melanda keluarga Stewart


“Tapi Pih, ini semua gara-gara permainan konyol yang dia ciptakan–"


“Papi bilang cukup! Jangan diungkit-ungkit lagi masalah itu, masalah sudah selesai, kalian semua jelas berdosa, jadi jangan jadi orang yang sok suci, baik yang menciptakan permainan konyol lah atau yang mabuk lah dan lain sebagainya, semuanya sama-sama dosa, dosa besar, mintalah ampun kalian kepada Tuhan, semoga Dia mau menerima tobat kalian!"


“Maaf Om Willy, di dalam kamus saya nggak ada yang namanya Tuhan, buat saya Tuhan itu fiktif, kalo Dia memang benar-benar ada, nggak mungkin kehidupan saya jadi nggak karu-karuan begini, huh, saya permisi, sudah sore, Rubby, gue duluan, jangan ngambek lagi lu, maafin Jenny, oke"

__ADS_1


“Baek-baek lu di jalan"


“Yok"


Ruben dan Jennifer kembali saling berpelukan, masing-masing mereka meninggalkan jejak sayang di wajahnya, Jennifer menangis sendu, gadis itu berfikir kalau Ruben tidak akan menerimanya lagi, namun hati Ruben tergerak untuk memaafkannya.


“Udah sayang, cup cup cup, maafin aku ya, udah kamu jangan nangis, kamu harus jadi wanita tangguh, udah kamu pulang dan istirahat, besok kita ketemu lagi, oke?" ujar Ruben sambil menghusap air mata kekasihnya yang mampir di wajahnya yang ayu.


“Iya Rubby Sayang, makasih ya perhatiannya"


“It's okay, senyum dong, kamu jelek lho kalo nangis" godanya manja


“Ck iiiish kamu bikin aku malu aja, sekali lagi maafin aku ya Rubby" ujarnya tersipu


“Hehehehehe, ya udah, Lex, jagain do'i gue ye?"


“Siap"


“Awas lu jangan ditikung tapi, gue kepret lu ntar"


“Halaaah elu Ben, emang dasar sensian lu ye, belum ape-ape udeh ngambek aje, kagak bakalan deeeh, gue jamin Jenny aman ame gue"


“Khem... Khem, awas kamu kalo berani macem-macem Lex" celetuk Alyssa


“Ck, kagaaak, ah elah lu nggak percayaan banget sih lu ame gue Sa, udeh berape lame sih kite pacaran? Aneh lu" ujar Alex yang mulai tersinggung


“Ya itu yang waktu–" belum selesai Alyssa bicara Alex sudah memotongnya


“Udah, cukup Sa, aku nggak mau bahas dia lagi, urusan kami udah selesai" jawabnya datar dengan ekspresi dingin


“Ade ape sih nih sebenernye?" tanya Ruben kepo


“Nggak penting Ben, ya udeh kite balik dulu" ujar Alex berpamitan dengan sahabatnya, kemudian menyalimi kedua orang tua Ruben


“Iye Lex ati-ati"

__ADS_1


To Be Continued 🙏🙏🙏😌😌😌


Jangan lupa untuk memberikan ide-ide alur cerita yang menarik buat author baru ya guys, terimakasih sebelumnya, tolong berikan like, vote, komentar, kritik, favorit, dan saran yaaa... Love you my readers 🙏🙏🙏😌😌😌


__ADS_2