
Jono bermalam di RS dengan hati yang gundah gulana dan kacau balau, ibunya belum juga sadarkan diri, belum lagi ia sebenarnya juga memang ingin menyembuhkan penyakit gagunya itu, paling tidak itu yang sementara ini diinginkan, supaya ia tak merasa malu dengan orang-orang disekitarnya, terutama didepan kekasihnya Salma, ya memang sih Jono belum punya keberanian untuk menyatakan cintanya kepada Salma, ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya, ditambah lagi sepertinya Alam juga mencintai Salma, dan kalau sampai Jono terlalu dekat dengan Salma, watak Alam bisa berubah drastis, saat ini yang ia fikirkan adalah darimana ia bisa mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya, Jono mondar-mandir didepan ranjang ibunya, ia sedang memikirkan cara untuk membuat ibunya sembuh total dari lumpuhnya, setidak-tidaknya sampai beliau bisa pulang ke rumah, Jono duduk termenung, sesekali ia menatap lekat wajah ibunya yang terlihat sangat menyedihkan, Salma yang juga ada disana menatap Jono iba, mengingat waktu masuk sekolah juga masih sangat lama, kira-kira masih sebulan lagi, dan mungkin mereka akan menggunakan waktu libur mereka untuk merawat bu Hilda, Jono tak terlalu khawatir dengan kondisi adik-adiknya, mengingat bahwa mereka sudah dititipkan pada tetangga yang jujur, ramah, dan juga amanah.
“Ibu, cepat pulih ya, Jono janji, Jono akan melakukan apapun demi kesembuhan ibu" gumamnya dalam hati
Sepintas buliran bening membasahi wajah Jono, Salma yang melihat kejadian itu pun tak kuasa menahan air matanya, tiba-tiba mengalir begitu saja dari kedua matanya
“Selama ini aku yang kesulitan dalam ekonomi keluarga, kehidupanku jauh lebih terpuruk daripada kamu Salma, mengapa kamu juga ikut menangis?" Tanya Jono penuh selidik
“Bagaimana aku tidak bersedih ketika aku melihat ibu dari orang yang aku cintai terkapar tak berdaya seperti ini?"
“Apa yang kau harapkan dari aku Salma? Kau juga tau kan aku ini tidak senormal manusia pada umumnya, sementara aku tau Alam terlihat menaruh hati padamu, aku cacat Salma, aku juga gagu, aku anak yatim yang terbelakang mental, punya 3 adik yang kondisinya tak jauh berbeda dengan aku, dan sekarangpun ibuku sudah lumpuh dan mungkin ini bisa jadi permanen, sementara Alam, kudengar dia adalah santri terbaik di pondok pesantren Al-Hikmah putra, dia jelas jauh lebih alim daripada aku, aku ini tau apa tentang agama Salma? Justru kamu yang jauh lebih mengerti soal agama, jujur aku malu kalau aku menjadi suamimu kelak."
“Aku tidak peduli dengan semua itu Jon, aku yakin seribu persen bahwa aku mencintaimu karena Allah dan Rasul-Nya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku yang akan menyembuhkan penyakit gagumu itu, aku ingin setelah kita lulus SMA nanti, kita bersama-sama berjuang membangun bisnis keluarga, entah darimana datangnya biayanya itu, yang jelas aku optimis bahwa kita bisa menjadi pebisnis sukses, aku janji sama kamu"
“Jangan pernah membuat janji yang belum tentu bisa kau tepati Salma, jujur aku antara yakin dan nggak yakin kalo aku bisa seperti itu, apalagi kamu tau kan kondisi ekonomi kita seperti apa?"
“Entah kenapa Jon, aku malah yakin Tuhan akan membantu kita suatu hari nanti, aku ingin dimasa depan kita mempunyai keluarga yang lengkap dan harmonis, ditambah kelahiran anak-anak kita nanti"
“Entahlah Sal, aku masih belum yakin, semuanya terserah pada kehendak Allah, kita sebagai hamba-Nya hanya bisa pasrah, sebaiknya kita fokus dengan kesembuhan ibuku dulu, baru kedepannya nanti kita fikirkan lagi apa yang akan kita lakukan."
“Apa kamu mencintaiku Jono?"
“Entahlah, aku masih belum bisa memutuskan, sekarang ini aku hanya bingung saja"
__ADS_1
“Soal apa Jon? Biaya rumah sakit?"
“Bukan, bukan itu yang kumaksudkan, aku hanya bingung dan bertanya-tanya tentang siapa orang yang sudah mencelakai ibuku ini, aku sama sekali tak mengenali wajahnya karena helmnya menutupi"
“Mungkin itu bandar narkoba yang sering berkeliaran di sekitar sekolah itu, dia itu kan temannya Adam salah satu siswa sekolah kita, tapi aku tak mungkin memberi tahu soal ini ke Jono, aku takut ia akan menyimpan dendam padanya, dan kalau sampai itu terjadi, ia bisa dibunuh, tidak mungkin, Jono, maafkan Salma ya, Salma nggak bisa kasih tau siapa orang itu, Salma nggak mau kamu mati konyol, kamu yang sabar ya sayang ya."
“Salma, kenapa kamu diam? Kamu tau ya siapa orang itu?"
“Hah? Em... Eh... Enggak Jon, enggak, aku nggak kenal siapa dia"
“Kamu nggak bohong kan? Kenapa kamu kelihatan takut kayak gitu?"
“Enggak Jhonny sayaaang"
***
Tiga Minggu sudah Bu Hilda tak sadarkan diri, sementara satu Minggu lagi Jono harus memulai hari pertama sekolahnya, Salma juga masih setia menemani mereka di RS, liburan mereka mereka habiskan di RS demi merawat Bu Hilda yang sampai detik ini pun belum membuka netranya, Jono yang bangun di tengah malam melihat Salma masih menatap sendu ke arah Bu Hilda.
“Salma, kamu kenapa belum tidur?" tanya Jono heran.
“Aku nggak bisa tidur mikirin kondisi ibu kamu yang tak kunjung sadar" jawabnya setengah mengantuk.
“Salma kamu ini apa-apaan sih? Aku tau kamu peduli dengan keluargaku, tapi bukan begini caranya, kamu rela mengorbankan rasa kantukmu demi semua ini? Tidurlah Sal, jangan siksa dirimu sendiri"
__ADS_1
“Jhonny sayaaang... kan aku udah bilang aku nggak bisa tidur, kita tahajjud yuk sayang, kita doakan yang terbaik untuk ibumu" ujarnya menawarkan dengan manja.
“Kamu gapapa kan jadi imamku?" sambungnya sambil tersenyum.
“Ka... Kamu... Apa kamu bilang? Aku? Jadi imam kamu? ka... kamu serius?"
“He'em, memangnya kenapa? Salah ya? Aku yakin aku nggak salah pilih imamku di masa depan, kalo kamu mau, kita bisa mulai semua ini dari sekarang kok, nggak perlu nunggu kita nikah, kamu mau kan?"
“Mmmm... Ya udah deh, aku nurut aja, tapi kamu jangan ngetawain aku ya? Kamu kan tau kalo aku gagu, ntar di tengah-tengah kamu ketawain aku lagi"
“Ya ampun Jhonny sayaaang... nggak mungkin lah aku ketawain kamu, kamu pasti suatu saat nanti sembuh kok, yakin aku, yakin banget malah, semangat ya Jon ya, kamu pasti bisa" ujarnya sambil tersenyum dan mengepal serta menekuk tangannya memberi semangat.
“Sekali lagi thanks ya Sal, kamu memang sahabat terbaik aku"
***
Hilda tersadar dari pingsannya, matanya berbinar menyoroti 2 sejoli itu melakukan shalat Sunnah tahajjud.
“Masyaallah, anakku rajin sekali beribadah, ditambah lagi Salma yang shalehah menjadi makmumnya, Ya Allah, aku bersyukur setidaknya mereka adalah anak baik-baik, terimakasih ya Allah atas segala nikmat-Mu yang tiada tara ini" gumamnya lirih dalam hati.
setelah mereka melakukan shalat tahajjud, mereka mengangkat tangannya dan menengadah ke langit.
“Ya Rabbi, kami memohon atas kesembuhan orang tua kami, Ilahi, rahmatilah mereka yang telah mendahului kami, sadarkanlah kami jika kami berbuat khilaf, Allah, demi Engkau yangmana nyawaku berada di tangan-Mu, hamba tidak akan pernah menyimpan dendam kepada orang yang telah mencelakai ibuku ini, sadarkanlah ia juga ya Allah, sadarkanlah orang-orang yang telah menzalimiku".
__ADS_1
Bersambung...