
“Ayo, silahkan diminum dulu Sa" ujar Michael mempersilahkan
“Iya om, tante, makasih, maaf ya kalo saya ngerepotin" sahut Alyssa yang merasa sungkan
“Halaaah, repot apanya, kita malah senang kok kamu mau datang kesini, ya kan Mah?" Jawab Michael santai sambil tersenyum
“Iya Pah betul"
“Jen, kenapa muka kamu ditekuk gitu sayang? Ada masalah ya? Apa karena kamu diskors? Atau kamu trauma dengan peristiwa malam itu?" Ujar Michael penuh pertanyaan
“Bukan karena keduanya Pah"
“Terus karena apa?"
“Jenny lagi marahan om sama Ruben" sahut Alyssa
“Lho, kok bisa? Kapan kejadiannya? Kalian ada masalah apa Jen?" tanya Dilara lembut
“Apa perlu ya Jennifer cerita ke papa dan mama?" Cerocos Jennifer yang langsung berlari kilat ke kamarnya disertai derai air mata, ia berlari sambil menutupi mulutnya menahan tangisnya.
“Jen, Jenny, tunggu!" Ujar Dilara
“Om, tante, pleaaase, maafin Jennifer ya? Jujur dia lagi badmood banget om, pokoknya kacau semuanya" sahut Alyssa setengah panik.
“Nggak papa Sa, om faham kok bagaimana cara menangani dia, tolong kamu susul dia ke kamarnya ya, tenangin dia ya sayang ya" ujar Michael menyarankan.
Tiba-tiba gawai Alyssa berbunyi, ada pesan WhatsApp masuk
Alex
“Sayang, gimana kondisi Jennifer? Pasti dia lagi sedih banget ya? Kamu temenin dia gih"
Alyssa
__ADS_1
“Heh Lex, lo tuh nggak usah belagak bego ya, lo tuh nggak sadar ya? Semua ini tuh gara-gara lo tau nggak?"
Alex
“Lho, kok malah gue yang disalahin sih? Semua ini tuh salah Ruben kan? Dia yang membuat Jeniffer badmood begitu"
Alyssa
“Camkan ini baik-baik ya Lex ya, gue baru sadar kalo semua ini tuh rencana busuk lo, ini semua agenda kotor lo, lo udah merusak karakter Alam dan membuat reputasinya turun karena lo ngajakin dia party dan mabok semalam"
Alex
“Lo juga jangan sok suci ya, karena lo juga yang menciptakan permainan konyol itu, jadi nggak usah banyak cingcong, jangan sok jadi pembela kebenaran!!!"
Saking marahnya, Alyssa langsung memblokir kontak Alex, Alex yang masih di dalam mobilnya dan posisinya sudah didepan rumahnya langsung mengumpat berkali-kali.
“God damn it! Kurang ajar banget itu anak! Berani dia nyalahin gue, padahal dia sendiri juga nggak bener, akh... Gagal total sudah rencana gue besok!" pekiknya sambil memukul stir mobilnya, iapun malas untuk pulang dan lebih memilih untuk menunggu waktu petang, ia memejamkan matanya dan tertidur, dengan posisi merebahkan kepalanya di kursi mobil.
***
Kembali ke rumah Jennifer, Jennifer tak kuasa menangis sesenggukan di kamarnya, ia terduduk di pinggir kasur dengan masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sebagai sahabat yang baik dan perhatian, Alyssa mencoba untuk menenangkan sahabat kentalnya itu.
“Sssst... Tenang sis, tenang ya, cup cup cup, dengerin gue sis, bukan hanya lo yang lagi kena masalah, tapi gue juga baru aja marahan sama Alex"
“Hah? Yang bener lo? Serius? Kok bisa?" ujarnya penuh pertanyaan sambil masih menangis sendu
Alyssa mengangguk, kemudian ia menjelaskan apa yang terjadi sehingga hubungannya dengan Alex bisa tidak harmonis dalam waktu singkat, padahal selama ini Jennifer tau hubungan mereka selama 3 tahun ini bagaikan kunci dengan gembok yang tak bisa dipisahkan.
“Gue udah blokir kontak Alex Jen, karena kita semua juga tau kan kalo dalang utama dari peristiwa ini itu sebenarnya si Alex, heran gue, kadang-kadang nih orang ngeselin banget lho, nggak tau gue apa yang ada di otak tuh anak, saking kita kan golongan white collar sis, makanya Alex gue deketin, ye pan?"
“Kep*rat semuanya!!! Per*etan dengan dunia ini!!! Per*etan dengan jalan hidup gue yang menyedihkan ini!!! Kenapa takdir Tuhan buat gue harus seperti ini??? Kenapa???" Pekiknya sambil masih menangis sesenggukan.
“Jenny, Jenny lo harus kuat ya sis ya, gue mohon sama lo, lo jangan kayak gini, Tuhan itu Maha Adil sis, mungkin ada salahnya juga kita bully Jono, tapi di sisi lain gue merasa seneng membully orang lain, nggak tau kenapa, mungkin itu udah karakter gue, gue yakin ini semua butuh waktu, 2 bulan bukan waktu yang singkat sis, gue yakin bahwa dalam waktu 2 bulan ini kita bisa membenahi hubungan kita masing-masing, baik dari sisi persahabatan, atau dari sisi perasaan hati, percaya sama gue sis, jujur kondisi gue juga nggak jauh beda ama lo" ujar Alyssa sambil menggoyangkan tubuh Jennifer untuk menenangkannya.
__ADS_1
“Saaa... Gue sayang sama lo, lo emang sahabat terbaik gue, makasih ya udah mau bermalam disini, lo datang disaat yang tepat sis, dengan begini lo bisa menghapus kenangan-kenangan buruk yang telah gue alami seharian ini, atau lebih tepatnya kita bisa saling melepas kenangan buruk, gue juga ikut sedih karena hubunganlo dengan Alex udah nggak harmonis lagi untuk sementara, semoga kita semua kembali seperti dulu ya sis ya" ujar Jeniffer yang terbelenggu dengan pelukan Alyssa sambil masih menangis sesenggukan, mereka berdua saling melepas duka sepanjang malam.
***
Sementara itu Alex yang sudah sampai di rumahnya dan langsung memarkirkan mobilnya di garasi, ia datang dengan menundukkan wajahnya ke tanah, ia benar-benar badmood hari ini, ia merasa semua rencananya gagal total akibat ulahnya sendiri, tapi disisi lain pemuda itu juga tak hanya menyalahkan dirinya sendiri, tapi juga Alyssa, dia juga merasa bahwa Alyssa terlibat dalam event buruk ini, karena laki-laki berusia 18 tahun ini merasa bahwa Alyssalah yang menyuruh mereka bertiga (Alex, Ruben, dan Alam) untuk minum 5 botol Vodka di malam yang penuh dengan tragedi itu, Alex mau tak mau harus menekan bel rumahnya dan sesekali berganti mengetuk pintu rumah, akhirnya Lukas membukakan pintu untuk anaknya itu dan membanjiri anaknya itu dengan sejuta pertanyaan.
“Darimana kamu Lex? Kenapa kamu pulang petang seperti ini? Jangan bilang kamu habis mabok lagi sama teman-teman kamu"
“Itu bukan urusan Papa Pah, Alex capek, laper, mau mandi, makan, dan istirahat, Alex lagi banyak beban hari ini, jadi tolong jangan ceramahin Alex lagi dan menambah beban Alex" ujarnya sambil berjalan cuek dengan cepat menuju dapur untuk mengambil handuk, dan ia pun segera mandi air hangat dan menikmati setiap tetes air itu, ia mencoba menenangkan diri dengan itu semua.
Sementara Lukas hanya menatap tingkah laku anaknya dalam diam, tak mampu membuka kata sedikitpun, sekilas tertanam dalam hatinya rasa kasihan sekaligus rasa bersalah, memang dia merasa bersalah ketika mengingat peristiwa malam itu, ia berfikir tak seharusnya ia marah sedemikian rupa malam itu, tapi apa mau dikata? Segalanya sudah terjadi, maka tinggallah penyesalan yang hadir di hatinya, tak terasa buliran bening membasahi kedua pipinya, Oktavia yang melihat hal itu langsung membawa suaminya ke kamar dan memijat tubuhnya.
“Ayo sini mas, aku pijitin ya?" tawarnya lemah lembut sambil melingkarkan lengannya pada leher suaminya itu kemudian ia membawa Lukas ke kamar dan membaringkan tubuh suaminya di ranjang, kemudian ia mulai memijiti kakinya.
“Kamu tau Oktavia sayang, terus terang aku masih kebayang-bayang tentang peristiwa malam itu, mungkin itu adalah peristiwa terburuk yang telah tercatat dalam buku sejarah keluarga kita"
“Sudahlah mas, semuanya kan sudah terjadi, mau diapakan lagi? Kita memang sudah berbuat sesuatu yang salah, tapi bukan berarti itu membuat kita harus menyesalinya seumur hidup, wajar kan mas? Toh kita juga manusia biasa yang nggak luput dari dosa dan khilaf, nanti setelah Alex mulai tenang, kita minta maaf sama dia ya? Kamu mau kan mas?"
Lukas mengangguk pasrah, ia benar-benar tidak percaya kalau dia bisa marah sampai diluar kendali seperti semalam, tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu putra tampannya keluar dari kamar mandi untuk meminta maaf kepadanya setelah itu, 15 menit kemudian Alex sudah rapih dan tampan, namun ekspresinya masih sama dengan wajah murungnya, sementara Oktavia masih memijiti kaki suaminya.
“Alex, sini sayang, ada yang mau papa omongin"
***
Adapun Ruben, ia memesan taksi online dua kali, kali pertama dengan alamat ke taman Barito Jakarta Selatan, ia memang sengaja pergi kesana untuk menenangkan diri, ia duduk di bangku taman kemudian menghapus semua kenangan manisnya bersama Jennifer dari galeri ponselnya, kemudian setelahnya dia memblokir kontak Jennifer, sekali lagi hanya untuk menenangkan dirinya, setelah tenang pasti ia akan membuka blokirnya kembali, tapi entah sampai kapan, ia hanya duduk termenung di bangku taman, dan menempelkan kedua telapak tangannya pada dagunya.
“Kenapa lo tega melakukan ini ke gue Jenny? Kenapa? Kenapa?" Gumamnya dalam hati.
Kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kedai kopi terdekat untuk memesan kopi hitam pahit untuk menghilangkan rasa kantuknya, ada rasa benci sekaligus penyesalan dalam hatinya, semua perasaan itu secara instan bercampur aduk menjadi satu, ia berada di taman itu sampai waktu sudah larut malam, tak lama setelah itu, ia kembali memesan taksi online ketika dirinya sudah mulai merasakan ketenangan, dan alamat yang dituju kali ini adalah rumahnya, memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan untuk sampai ke rumahnya, begitu ia sampai di rumah, karena tidak ada seorangpun disana mengingat bahwa kedua orang tuanya pergi ke Paris bersama teman-temannya untuk berlibur, kecuali ada bik Nah sang ART dan pak Joko sang satpam, begitu ia masuk ke dalam rumahnya, mereka berdua sudah terlelap dalam tidur, untungnya Ruben membawa kuncinya sendiri sehingga ia tak perlu membangunkan penghuni rumah, sampai di dalam rumah, ia langsung membersihkan dirinya dengan air hangat untuk menghilangkan rasa penat dan menikmati setiap tetesnya dengan tenang, setelahnya ia mengganti pakaiannya di kamar, dan menyibukkan dirinya dengan membaca novel Harry Potter karya si penulis cerdas J. K. Rowling demi menenangkan fikirannya.
To Be Continued 🙏🙏🙏😌😌😌
Jangan lupa untuk memberikan ide-ide alur cerita yang menarik buat author baru ya guys, terimakasih sebelumnya, tolong berikan like, vote, komentar, kritik, dan saran yaaa... Love you my readers 🙏🙏🙏😌😌😌
__ADS_1