
"Pijitin kamu, Mas? Tapi ..." Aira merasa ragu untuk menyentuh kepala Martin, dengan cepat pria itu menarik tangan Aira dan meletakkannya di atas kepalanya.
"Sudah, jangan banyak tanya. Cepetan Aku mau tidur!" titahnya sembari membenamkan kepalanya pada pangkuan Aira, sementara tangan Martin melingkar pada pinggul Aira, membuat gadis itu semakin gusar dan tidak tenang.
"Ya Allah, Aku harus gimana ini, Mas Martin membuatku mati berdiri saja!" gumam Aira sembari memijit kepala Martin pelan-pelan.
"Asik! Ternyata enak juga pijitan nya, kalau gini setiap malam Aku bisa minta tolong sama dia untuk mijitin kepalaku, hmm maafkan Aku Mas Panji, semoga saja kamu nggak marah melihat ku mengerjai Aira, hehehe!" gumam Martin sembari tersenyum.
Aira memijit kepala Martin sembari memperhatikan wajah Martin yang tampak sedang senyum-senyum sendiri, Ia pun segera melepaskan tangannya dari kepala Martin dan berkata, "Kamu sedang ngerjain Aku ya, Mas?"
Martin mendongak dan menatap wajah Aira dengan mata yang sayu, "Ha! Apa maksudmu Aku mengerjaimu?" ucapnya dengan nada yang melemah.
"Kamu sengaja, kan! Pura-pura pusing agar bisa Aku pijitin, tapi sebenarnya kamu cari-cari kesempatan." Aira berkata sembari memalingkan wajahnya karena malu. Dalam hati Martin tersenyum melihat ekspresi wajah Aira yang terlihat menggemaskan.
"Seru juga bikin dia marah, makin menggemaskan saja!" batin pria itu yang tampak tersenyum tipis. Melihat istrinya yang sedang menahan rasa malu, Ia pun semakin menggoda Aira untuk menemaninya malam ini.
"Pura-pura gimana, ini pusing beneran, kamu mau melihatku sakit?" protes Martin.
"Bu-bukan begitu, Mas! Aku kaget saja lihat kamu tiba-tiba tidur di pangkuan ku, Aku kan belum siap untuk ...." Aira tidak melanjutkan kata-katanya karena Martin tiba-tiba beranjak bangun dan duduk menghadap Aira.
"Belum siap apa? Kamu belum siap menerimaku?" pertanyaan Martin sontak membuat gadis berlesung pipi itu semakin gugup.
"Kamu ini ngomong apa sih, Mas? Aku nggak ngerti!" jawabnya sembari menjauhkan dirinya dari posisi duduk Martin yang terlalu dekat dengannya.
"Kok kamu malah menjauh gitu sih! Sini dong jangan jauh-jauh, dosa loh jauhin suami sendiri, malaikat nggak akan deket-deket sama istri yang nggak mau nemenin suaminya malam ini!" rupanya ucapan Martin disangkal oleh Aira.
"Begitu, ya! Kamu sedang menyindir ku? Hmm iya memang sih malaikat akan melaknat wanita yang menolak suaminya saat sang suami meminta hak nya hingga pagi menjelang? Sedangkan Aku kan nggak menolak hak suami untuk ..." Aira tidak melanjutkan kata-katanya sementara Martin terlihat tersenyum sumringah tatkala Aira berhenti bicara.
"Untuk apa?" Martin menatap wajah Aira dengan tajam, sungguh pria itu tampak bahagia melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat malu-malu. Aira semakin gugup saat Martin mulai mendekatinya dan meraih tangan Aira.
"Maafkan Aku! Jika selama ini Aku sudah membuatmu kesal dengan sikapku, kamu tahu Aku sangat menyayangi Mas Panji, bagiku dia bukan sekedar kakak kandung, tapi dia seperti orang tua keduaku, melihatnya bahagia menikah dengan wanita yang dicintainya itu sudah cukup membuatku bahagia, tapi Qodarullah, semua itu berubah. Allah lebih menyayanginya dan dia meninggalkan sesuatu yang paling berharga untukku, yang tak lain adalah istrinya." ucap Martin sembari menatap wajah Aira lekat-lekat.
"Aku tidak mengerti kenapa Mas Panji melakukan hal itu kepadaku, awalnya Aku sempat protes kepada Allah, ya Allah kenapa Engkau harus menimpakan wasiat yang berat ini padaku, menikah dengan wanita yang sangat dicintai oleh kakak kandungku sendiri, itu membuatku belum bisa menerimanya, karena apa? Aku yakin kalau kamu masih mencintai Mas Panji, dan Aku tidak mau melihat cintamu pada Mas Panji menghilang hanya karena kehadiranku. Aku sendiri juga masih mencintai wanita lain, meskipun sekarang Aku kecewa dengan dia." ucap pria itu sembari menundukkan wajahnya.
"Itu sebabnya Aku bersikap dingin kepadamu, Aku tidak perduli kepadamu, Aku menyebalkan dan tentu saja Aku tidak ingin kamu dekat denganku, hingga akhirnya Aku sadar ternyata Mas Panji sudah memberikan sebuah kebahagiaan untukku, Ia merelakan istrinya untuk ku jaga, karena Ia tahu kamu memang wanita yang shalihah, kamu wanita yang kuat, dan Inshallah Aku akan memenuhi janjiku kepada Mas Panji, bahwa Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Aku akan selalu menjagamu, Aira." ucap Martin sembari meraih dagu Aira.
__ADS_1
Aira begitu malu tatkala Martin memandang nya seperti itu, sungguh entah apa yang terjadi pada keduanya, hingga suasana romantis malam itu mulai terasa dalam.
"Kenapa kamu tidak berani menatap ku? Apa Aku sangat menakutkan bagimu?" pertanyaan Martin sontak membuat Aira langsung membalas tatapan Suaminya.
"Siapa bilang Aku tidak berani? Cuma Aku takut saja ... jika pandangan mata itu semakin dalam dan akhirnya ...!"
"Dan akhirnya apa?" Martin berucap dengan tatapan yang semakin tajam.
"Allah ya Karim! Mas Martin ngomong kayak gitu maksudnya apa sih?" batin Aira dengan ekspresi nya yang gugup. Martin tersenyum melihat ekspresi wajah Aira yang sangat ingin membuatnya mencubit pipi gadis itu.
"Kamu tuh ya! Lama-lama bikin Aku gemas saja!" ucap Martin sembari mencubit pipi Aira, tentu saja apa yang dilakukan oleh Martin membuat Aira menepis tangan suaminya dan memaksa Aira untuk menahan tangan Martin agar tidak mencubit pipinya lagi.
"Mas Martin apa-apaan sih! Sakit tahu nggak? Gemas-gemas baru tahu ya, kalau Aku ini menggemaskan." ujar gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya.
"Hmm menggemaskan! Kalau begitu boleh dong Aku menciumnya, kita kan udah halal, nggak akan dosa, malah berpahala, mau ya!" goda Martin dengan senyum nakalnya.
"Kalau Aku nggak mau?"
"Ya kamu dosa dong! Harus mau."
"Tapi Aku Suamimu!"
"Meskipun suamiku sendiri, jika istri mu tidak ridho, apa kamu akan tetap memaksakan?"
Martin menghela nafasnya setelah bernegosiasi dengan gadis yang menurutnya mudah dirayu, tapi nyatanya susah untuk ditaklukkan. Pria itu beranjak berdiri dan berkata kepada Aira yang masih duduk di atas tempat tidurnya.
"Huffftt ya sudah, tidurlah! Aku akan meminta Mama untuk memijit kepalaku, sepertinya kamu masih butuh waktu untuk menerima kehadiranku, Aku tidak akan mengganggumu lagi!" Martin berjalan menuju ke pintu keluar kamar mereka. Aira menatap punggung laki-laki yang kini menjadi suaminya, sejenak terlintas di kepala Aira, nasihat Bu Fatimah kepadanya, sebelum dulu dirinya menikah dengan Panji.
"Aira! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri, tugas utamamu adalah taat kepada suamimu, jangan menolak perintahnya, selagi itu masih di jalan Allah. Jadilah istri yang indah dipandang mata, menyejukkan hati suami, datanglah padanya meskipun ia tidak meminta, tawarkan dirimu saat bersamanya, Allah akan mengharamkan istri dari api neraka, Allah akan mencatat dua ratus ribu kebaikan untuk kita, memberikan pahala dua ratus ibadah haji dan umroh, serta di angkat untuk istri dua ratus ribu derajat di Surga, karena sejatinya Surga istri ada pada suaminya!"
"MasyaAllah Tabarakallah Bu Fatimah! Semoga Aku salah satu diantara istri-istri yang menyenangkan Suami, Bismillah!"
Aira beranjak turun dari tempat tidurnya dan memanggil kembali Martin yang baru saja membuka pintu kamar mereka.
"Tunggu Mas!"
__ADS_1
Martin menoleh dan membalikkan badannya, Aira berjalan menghampirinya suaminya yang sedang memegang handle pintu, setelah Aira sampai di depan pintu, Ia pun menarik tangan Martin dari gagang pintu dan menutup pintu kamar mereka kembali, kemudian Ia menguncinya.Tentu saja apa yang dilakukan oleh Aira membuat Martin begitu terkejut.
"Kenapa di kunci?"
Aira membalikkan badannya dan menatap wajah suaminya dengan sendu.
"Aku akan memijit kepalamu, Mas! Tidak usah merepotkan Mama, apapun yang kamu minta pasti akan Aku berikan, dan Aku pasti berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu, karena kita menikah karena ibadah, semua yang kulakukan juga merupakan ibadah, Aku ingin mencari ridho Allah SWT lewat suamiku sendiri, karena sejatinya Surga ku ada di sini, dalam keridhoan mu Mas!" ucap Aira sembari melepaskan hijabnya perlahan.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
Yuhuuu mampir dulu yuk ke karya punya kak Sendi Andriyani yang berjudul ISTRI RASA SIMPANAN, cuss ya 🏃🏃
ISTRI RASA SIMPANAN
(Sendi Andriyani)
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?
__ADS_1