ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Kedekatan emosional


__ADS_3

Terlihat dari sudut mata gadis itu, tetesan bening air mata yang keluar begitu saja, sembari bibir mengucap istighfar, Lita menangis.


Isti yang melihat sang putri tengah menangis, Ia pun segera mengusap air mata itu.


"Lita! Mama sangat mengerti, Nak! Lepaskan semua beban dalam hati mu, jangan biarkan syaitan berhasil menguasai jiwamu, Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar, lupakan semua masa lalu mu bersama Martin, bukalah hatimu untuk pria lain, Inshallah kamu akan mendapatkan obat untuk menyembuhkan luka itu, dan dekatkanlah dirimu kepada sang pencipta, Allah tidak akan membiarkan hambanya dalam kesulitan, jika kita mau berdoa kepadanya." rupanya ucapan sang Ibu semakin membuat air mata Lita semakin deras, gadis itu sungguh-sungguh terlihat menyesal.


"Mama! Apakah masih ada pintu taubat untuk ku?" mendengar ucapan sang anak seketika Isti tersenyum bahagia, Ia pun memeluk putrinya dengan bahagia.


"Alhamdulillah, tentu saja, Nak! Pintu taubat selalu terbuka untuk hambanya yang benar-benar ingin bertaubat, Mama sangat senang mendengarnya."


"Aku memang masih mencintai Mas Martin, tapi Aku tidak mau mengorbankan perasaan dan jiwa ini hanya untuk laki-laki yang tidak mungkin lagi mencintaiku, Aku tidak mau bodoh, ya Allah! Hampir saja Aku terjerumus dalam bisikan syaitan, dan akan membuat ku menyesal, hampir saja Aku jadi umat yang merugi, hatiku memang sakit karena cinta, tapi akan lebih sakit lagi jika Aku tidak meminta petunjuk kepada -Nya." ucap Lita disela-sela tangisnya.


*

__ADS_1


*


*


Sementara itu di luar ruangan, Martin yang dari tadi curiga jika Aira dan keluarga Prapto Suherman memiliki hubungan darah, Ia pun berbicara dengan sang istri.


"Sayang! Ada yang ingin Aku bicarakan denganmu." Martin menatap wajah sang istri dengan serius.


"Ada apa, Mas? Sepertinya kamu serius sekali." tanya Aira penasaran.


"Apa maksudmu, Mas? Ya iya sih Aku juga berpikir seperti itu, kenapa bisa golongan darah ku sama seperti golongan darah Lita, Aku pikir itu cuma kebetulan saja, Mas. Nggak perlu ada yang diributkan." balas Aira yang masih belum memahami maksud suaminya.


Martin meraih kedua pundak sang istri dan berucap mengikuti tinggi badan istrinya.

__ADS_1


"Dengar Aira! Aku memiliki kecurigaan terhadap mu dan keluarga Om Prapto, Aku berharap jika dugaanku ini benar."


"Dugaan apa sih, Mas? Kamu jangan membuat ku bingung gini dong."


Martin harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Sang istri jika dirinya curiga, bahwa Aira adalah Putri pertama Isti dan Prapto yang menghilang belasan tahun yang lalu.


"Dengarkan Mas! Sebelum kamu mengetahui nya, Mas berharap kamu bisa menahan emosi mu, ini hanya dugaan Mas, karena Mas melihat ada kedekatan emosional kamu dengan Tante Isti, Mas melihat hubungan kalian bukan sekedar biasa, tapi seperti Ibu dan anak. Mas curiga jika kamu adalah putri mereka yang menghilang belasan tahun yang lalu, kamu kakaknya Lita." mendengar penuturan dari suaminya, Aira terlihat tersenyum dan belum bisa percaya jika Isti dan Prapto adalah orang tuanya, karena Aira merasa jika kedua orang tuanya sudah meninggal dunia karena tragedi kebakaran di rumah nya beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih berusia 7 tahun.


"Ya Allah, Mas! Aku tuh sudah menganggap Tante Isti seperti Ibu kandung ku sendiri, lagipula Aku juga memiliki orang tua meskipun mereka berdua sudah meninggal." balas Aira.


"Enggak Sayang! Kedua orang tua mu masih hidup, mereka masih menunggu kedatangan mu, dan sekarang entah kebetulan atau memang sudah Qodarullah, kamu dan mereka dipertemukan dalam suasana seperti ini, bagaimana bisa golongan darah kalian itu sama, sementara golongan darah itu sangat langka, apa kamu tidak menyadarinya?"


Sejenak Aira berpikir jika yang dikatakan suaminya itu ada benarnya.

__ADS_1


"Allah ya Karim! Benarkah apa yang dikatakan oleh Suamiku?" batin Aira


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2