
Setelah keduanya selesai memeriksakan kandungan Aira, mereka berdua keluar dari ruangan Dokter Ratna dengan wajah yang gembira, akhirnya mereka berdua bisa memberi tahukan kabar gembira ini kepada Asri dan Burhan.
Keduanya tampak berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, Martin begitu mesra menggandeng tangan istrinya, sesekali Ia mencium tangan Aira dan merangkulnya penuh kasih. Namun, tiba-tiba saja pandangan Aira tertuju pada sosok gadis yang sedang duduk di sebuah bangku rumah sakit, Aira tampak mengerutkan keningnya melihat baju yang dipakai oleh gadis itu, baju yang merupakan seragam dari restoran milik Suaminya.
"Bukan kah itu Hilda? Kenapa dia berada di sini?" batin Aira yang melihat Hilda tampak bersedih sembari menundukkan wajahnya. Sejenak Aira berhenti dan berkata kepada Martin.
"Mas! Tunggu deh, Mas!" ucap Aira kepada sang suami.
"Ada apa, Sayang?"
"Mas! Bukannya itu Hilda?" tunjuk Aira pada seorang gadis yang sedang duduk di bangku panjang depan sebuah kamar operasi.
"Iya benar! Itu Hilda, apa mungkin saudaranya ada yang sakit, jadi dia berada di sini." seru Martin menebak.
"Hmm bisa jadi sih, Mas! Kasihan juga ya!" ucap Aira yang merasa kasihan melihat karyawan restoran suaminya yang sedang ditimpa cobaan.
"Kita ke sana yuk, Mas! Barangkali Hilda membutuhkan pertolongan."
"Buat apa, Sayang! Kamu harus banyak istirahat loh." terang Martin yang melihat kondisi istrinya yang masih pucat.
"Ya Allah, Mas! Apa salahnya kita samperin sebentar, Hilda juga adalah karyawan kamu."
"Ya sudah! Tapi sebentar saja loh ya! Aku tidak mau kamu terlalu capek!" ucap Martin yang terpaksa mengikuti ucapan sang istri.
Akhirnya Aira dan Martin menghampiri Hilda yang sedang duduk termenung sembari menundukkan wajahnya. Sejenak Ia terkejut saat melihat gamis seorang wanita yang menutupi sepatunya tengah berdiri di hadapannya, Hilda merasa tak asing dengan pemilik baju panjang itu. Ia pun mengangkat wajahnya dan melihat Aira yang kini sedang berdiri di hadapannya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Hilda!" sapa Aira dengan senyum ramahnya, meskipun Aira sempat memiliki kecurigaan terhadap Hilda, tapi untuk saat ini Aira tidak ingin membahas tentang itu, Ia justru ingin menghibur Hilda yang tampak sangat gelisah dan banyak tekanan.
"Waalaikum salam, Bu Aira!" jawabnya dengan ekspresi wajah yang masih terkejut.
"Hilda! Sedang apa kamu di sini? Tadi, kami berdua sempat melihat kamu sedang duduk sendirian di sini, memangnya siapa yang sedang sakit?" tanya Martin.
Sejenak Hilda terdiam, Ia tahu jika dirinya sebenarnya bersalah kepada Martin, tidak mungkin Ia mengatakan tentang keadaan yang sebenarnya, jika dirinya membutuhkan uang untuk biaya operasi sang Ibu yang terkena tumor.
"I-ibu Saya yang sakit, Pak!" jawabnya.
"Astagfirullah, Ibumu sakit? Sakit apa?" tanya Aira.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kok, Bu! Biasa cuma penyakit langganan, darah tinggi!" jawab Hilda berbohong.
"Ohh ...!" Aira pun mengangguk. Namun, tiba-tiba saja Dokter Ferdy keluar dari kamar Bu Lilis, Ibunya Hilda. Kemudian sang dokter mengatakan kepada Hilda agar menyiapkan uang sekitar lima puluh juta untuk biaya pengangkatan tumor pada tubuhnya.
"Apa Dokter! Lima puluh juta? Darimana Saya dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?" balas Hilda dengan badan yang mulai lemas.
Sementara itu Aira semakin kasihan melihat Hilda yang tampak begitu pasrah.
"Maaf, Dokter! Memangnya ibunya Hilda harus dioperasi sekarang?" Aira bertanya kepada Dokter Ferdy dengan serius.
"Iya benar, tidak ada cara lain lagi untuk menyelamatkan Bu Lilis kecuali dengan operasi." balas sang Dokter dengan ikut bersedih.
Aira melihat Hilda yang begitu sedih, kali ini Aira melihat Hilda benar-benar di posisi yang sulit, gadis itu benar-benar membutuhkan uang banyak untuk biaya operasi Ibunya.
__ADS_1
Sejenak Aira teringat tabungan pribadinya yang saat ini sudah mencapai lima puluh juta, tabungan dari semasa gadisnya hingga sekarang. Aira berniat untuk menolong Ibunya Hilda agar segera dioperasi. Kemudian Aira menghampiri Hilda dan berkata, "Kamu yang sabar, ya! Inshallah semuanya pasti baik-baik saja, semoga Allah segera mengangkat penyakit Ibumu!"
"Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, Bu! Semua uang tabungan Saya sudah menipis, apa saya harus bersiap kehilangan Ibu Saya jika saya tidak mendapatkan biaya operasi itu." ungkap Hilda dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Sssttt kamu jangan berkata seperti itu, Kamu harus yakin jika Ibumu pasti sembuh, berdoa lah semoga Alloh mendengar doa hambanya yang benar-benar tawakal." sejenak Hilda menatap wajah Aira yang penuh kedamaian, tak bisa dipungkiri jika istri Martin itu benar-benar membawa kedamaian, tutur katanya yang santun dan tetap merendah, membuat lawan bicara semakin nyaman saat bersamanya.
"Bu Aira, sebenarnya dia adalah wanita yang baik, sungguh sangat berdosa jika Aku sampai menyakitinya." batin Hilda yang mulai tersentuh dengan sikap lembut Aira.
Kemudian Aira beranjak dari tempat duduknya dan Ia tampak sedang berbicara dengan Martin, meminta persetujuan dari suaminya untuk menolong Ibunya Hilda. Awalnya Martin sedikit ragu untuk mengizinkan istrinya untuk menolong Ibunya Hilda, mengingat biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Akhirnya karena rayuan Aira yang selalu tidak bisa Martin tolak, akhirnya Martin pun menyetujui permintaan istrinya.
Aira dan Martin kemudian menemui dokter Ferdy dan memintanya untuk segera melakukan tindakan operasi untuk Bu Lilis, dengan biaya seluruhnya Aira yang akan menanggungnya.
"Lakukan sekarang, Dokter! Saya yang akan menanggung biayanya!" seketika Dokter Ferdy langsung memerintahkan suster untuk menyiapkan kamar operasi untuk Bu Lilis. Setelah mentransfer semua biaya operasi itu, kemudian Aira dan Martin beranjak pergi dari rumah sakit.
"Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Bu Lilis, Aamiin!" harapannya untuk seorang wanita yang belum pernah Ia temui, namun Aira begitu tersentuh saat mendengar seorang Ibu yang tengah terbaring lemah dan sedang melawan penyakitnya, karena dirinya sudah begitu lama merindukan sosok sang Ibu, semenjak Ibunya meninggal dalam kebakaran saat dirinya masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.
Martin menatap wajah istrinya penuh kasih, sungguh wanita yang berada di sampingnya itu bagaikan bidadari, bukan hanya cantik wajahnya, tapi hatinya juga begitu cantik, Ia diliputi rasa kasih sayang terhadap sesama. Aira mudah iba terhadap sesuatu yang berhubungan dengan seorang Ibu.
Setelah beberapa jam berlalu, sang Dokter keluar dari ruangan operasi, sungguh hal itu membuat Hilda sangat terkejut, bagaimana bisa dokter mengatakan jika Ibunya sudah melewati masa-masa kritis, karena dokter sudah melakukan tindakan operasi kepada penyakit tumor Bu Lilis.
"Alhamdulillah! Kami sudah mengoperasi tumor Ibu Anda, dan sekarang beliau sudah baik-baik saja." sontak apa yang dikatakan oleh sang Dokter membuat Hilda benar-benar tidak percaya, dirinya saja tidak memiliki uang untuk membiayai operasi sang Ibu, bagaimana bisa Ibunya di operasi oleh Dokter secara tiba-tiba.
"Tapi Dok! Saya merasa tidak menandatangani surat persetujuan operasi, karena Saya tidak punya uang sebanyak itu, lalu bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanyanya yang semakin penasaran, kemudian dokter mengatakan bahwa yang membiayai operasi Bu Lilis adalah Aira, istrinya Martin.
"Bu Aira yang sudah membiayai operasi Ibu Anda!"
__ADS_1
"Apa? Bu Aira ...! Astagfirullah hal adzim ... sungguh berdosa nya diri hamba ya Allah, wanita sebaik Dia hendak Aku sakiti, ampuni hamba ya Allah! Hamba menyesal." sesal Hilda yang tampak meneteskan air matanya, dirinya tidak menyangka jika Aira akan melakukan hal itu untuk Sang Ibunda.
...BERSAMBUNG...