
Entah kenapa Aira begitu nyaman saat Isti menyentuh wajahnya, seolah-olah dirinya merasakan sesuatu yang berbeda dengan wanita paruh baya yang Ia temui sekarang.
"Kamu cantik sekali, Nak!" puji Isti kepada Aira.
"Terima kasih banyak, Tante!" jawabnya sembari tersenyum.
Kemudian Martin berkata kepada Prapto dan Isti untuk ikut gabung bersama mereka dalam satu meja, "Om Prapto, Tante Isti, mari! Gabung bersama kami!" ajak Martin sembari menawarkan keduanya untuk duduk dalam satu meja. Namun, karena Prapto tidak ingin mengganggu keromantisan makan malam mereka berdua, Ia dan istrinya memilih untuk duduk di kursi sebelah, sembari menantikan Tuan Hamid datang.
"Terima kasih Nak Martin, kami akan menunggu Pak Hamid datang saja, kami tidak mau mengganggu makan malam kalian berdua, oh ya! Maafkan soal Lita yang datang ke kantormu, ya! Om mengerti, Om sudah mengetahui semuanya dari Papa kamu, Burhan sudah menceritakan semuanya kepada Om apa yang mendasari kamu menikah dengan Aira, Lita masih belum menerima perpisahan kalian. Om berharap kamu bisa mengerti."
Martin mengangguk mendengar penuturan dari Prapto mengenai sikap Lita yang belum bisa menerima pernikahan Martin dan Aira menikah. Kemudian Prapto pamit untuk duduk di kursi lain sembari mereka menunggu kedatangan Pak Hamid.
"Ya sudah! Kami permisi dulu, Mari!" pamit Prapto kepada keduanya, Aira pun mengangguk dan tersenyum kepada keduanya, Prapto dan Isti menuju ketempat duduk mereka yang berseberangan dengan tempat dimana Martin dan Aira sedang makan berdua, rupanya pertemuan dengan sepasang pengantin baru itu, membuat Isti tidak tenang, Ia pun sesekali menatap wajah Aira serius, seolah-olah dirinya melihat bayangan wajah Alesha kecil yang selalu mengganggu fikirannya.
"Astaghfirullah! Apakah Aku sedang bermimpi? Aku seperti melihat sosok Alesha pada gadis itu? Ya Allah entah kenapa Aku merasakan hal itu?" batin Isti sembari terus memandangi wajah istri Martin itu.
Prapto yang melihat istrinya tengah memperhatikan Aira, Ia pun langsung bertanya kepada Isti, "Ma! Papa perhatikan, dari tadi Mama lihatin istrinya Martin melulu? Ada apa, Ma?" tanyanya sembari ikut memperhatikan wajah Aira.
__ADS_1
Isti terkejut dan menoleh ke arah suaminya, "Pa, coba perhatikan! Papa ngerasa nggak sih kalau Aira mirip banget sama putri kita Alesha? Dari matanya, bibirnya dan Mama yang paling ingat adalah senyum nya, Pa! Persis senyum Alesha kecil yang memiliki lesung pipi, kok aneh ya, Pa! Mereka bisa mirip banget gitu!" jawabnya kepada sang suami.
"Mungkin saja itu kebetulan, Ma! Mungkin Mama sangat merindukan Alesha jadi merasa teringat wajah Alesha yang kebetulan mirip dengan Aira." Prapto berusaha membuat istrinya tenang, hingga akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu telah datang. Pak Hamid dan putranya yang bernama Tirta datang menghampiri Prapto dan Isti yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Prapto menyambut kedatangan mereka dengan ramah, terlihat mereka begitu akrab, Pak Hamid memperkenalkan putranya yang baru lulus dari universitas di Kairo, Mesir. Mereka duduk bersama dalam satu meja. Tanpa sengaja Tirta duduk menghadap ke arah dimana Martin dan Aira sedang makan malam, sejenak Tirta melihat Aira yang sedang duduk menghadap kepada dirinya, ada senyum tipis pada pemuda itu tatkala dirinya melihat Aira yang sedang tersenyum kepada Martin.
"Gadis itu cantik sekali!" batin Tirta dengan terus memandangi wajah Aira, secara tidak sengaja Tirta mengagumi sosok Aira yang menurutnya begitu anggun. Namun, sayang Aira sedang bersama laki-laki, dan Aira terlihat begitu mesra dengan laki-laki yang berada di sampingnya. Dan itu membuat Tirta menduga jika laki-laki itu adalah suaminya.
Sementara itu Aira dan Martin terlihat begitu bahagia, sesekali Martin menyuapi sang istri makanan dari piringnya, Aira pun mengikuti perintah suaminya.
"Hmm ... enak sih, Mas! Tapi ... pedes banget, huuuu!" Aira tampaknya tidak menyukai sensasi rasa pedas, Ia pun dengan cepat mengambil air minum agar rasa pedas di mulut nya bisa berkurang.
"Masa sih pedas? Ini sih cuma pedas merica, Sayang! Nggak pedes-pedes banget kok, hmm enak kok." sahut Martin sembari memasukkan satu sendok makanan itu ke mulut nya.
"Dari kecil Aku nggak suka pedas, Mas! Aku suka makanan yang manis-manis." Aira berkata sembari meletakkan gelas minuman nya di atas meja.
"Hmm pantesan, makanya kamu terlihat manis sekali, ternyata itu rahasia nya, semua yang kamu punya memang terasa sangat manis, dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya begitu manis." rupanya pujian sang suami sukses membuat Aira tersipu malu. Gadis itu tampak mengulum senyumnya dan terlihat begitu malu saat Martin memandangnya dengan tatapan yang nakal.
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu, Mas! Jangan aneh-aneh deh, masa kamu bisa tahu rasanya seperti itu? " ucapnya sembari menggulung mi goreng pada piringnya dengan garpu.
"Ya tahu dong! Itu yang membuat ku semakin bersemangat untuk membuat mu bahagia, karena pasti nya hanya Aku lah pria yang paling beruntung yang berhak untuk merasakan semua yang ada dalam dirimu, termasuk rasa manis bibir indah mu itu." bagaimana Aira tidak salah tingkah, sungguh rayuan maut suaminya membuat nya tidak bisa berkata apa-apa, Ia hanya menahan rasa malunya, wajahnya terlihat begitu memerah, apalagi saat Martin bilang, jika Ia begitu menginginkan dirinya.
"Hei ... rupanya istri ku malu-malu dia, hmm katakan kenapa kamu bisa membuat ku tidak bisa melupakannya, Aku ingin sekali mengulanginya." ungkap Martin sembari memegang satu tangan Aira.
"Alhamdulillah kalau kamu suka dengan apa yang sudah Aku berikan padamu, itu adalah sebuah kebanggaan untuk ku, Mas! Membuat mu bahagia dan tersenyum adalah sebuah reward untukku, semoga Allah membangunkan sebuah rumah di Jannah-NYA, dengan caraku taat kepada suamiku sendiri bantulah Aku untuk mencapai Syurga-NYA, Mas! Tentu saja Aku ingin kita berdua dipertemukan kembali di akhirat." perkataan Aira seperti sebuah embun pagi yang menetes begitu sejuk dalam hati Martin.
"Aamiin! Inshallah kita pasti dipertemukan kembali di Jannah-NYA, Aku tidak akan menyia-nyiakan istri shalihah sepertimu, kamu jaga adalah jalanku untuk mencapai surga-NYA, terima kasih kamu sudah bisa menerima kekurangan dan kelebihan ku." ucap Martin sembari mencium kening sang istri dengan lembut.
"Kita akan selalu bersama, Mas! Apapun yang terjadi Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
Rupanya kemesraan mereka berdua membuat mata seorang pria fokus pada keduanya, pria itu menyayangkan jika Aira sudah bersuami.
"Mereka berdua mesra sekali, hmm sayang seribu sayang." batin Tirta.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1