
Hari itu juga, detik itu juga Martin dan Aira bergegas menuju ke panti asuhan dimana Aira dulu berasal, perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tapi setidaknya demi membuktikan sebuah kebenaran, Martin rela demi mendapatkan bukti jika sang Istri adalah anak kandung dari Prapto dan Isti.
Martin menyuruh Aira untuk tidur saja, Martin pun memberikan tempat yang nyaman untuk istrinya beristirahat, mengingat kondisi Aira yang sedang hamil muda, Martin menyiapkan bantal dan selimut di dalam mobil mereka, agar sang istri bisa beristirahat dengan nyaman.
Namun, rupanya Aira tidak bisa memejamkan matanya, Ia gelisah dan kepikiran tentang masalah ini. Membuat Martin menatap wajah istrinya dan berkata, "Kenapa kamu tidak tidur? Perjalanan masih jauh, tidurlah!" kata Martin sembari melihat wajah Aira dari arah spion, Aira yang saat itu sedang duduk di kursi belakang, terlihat menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil.
"Aku nggak bisa tidur, Mas! Aku masih kepikiran." jawab Aira.
"Mas ngerti! Semoga saja Bu Fatimah bisa menolong kita, dan semoga saja kecurigaan Mas ini adalah benar, bahwa Om Prapto dan Tante Isti adalah Ayah dan Ibu kandung mu, dan Lita adalah adik kandungmu."
Sejenak Aira merasa bahagia jika itu memang benar adanya bahwa dirinya adalah putri kandung dari Isti dan Prapto, tapi yang membuatnya sedih, bagaimana bisa dirinya berpisah dari kedua orang tuanya, dan baru sekarang bertemu lagi. Tapi, apapun itu setidaknya Allah masih mengizinkan mereka untuk berjumpa kembali, Allah masih mempertemukan Prapto dan istrinya untuk berkumpul kembali dengan sang putri yang telah lama menghilang.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mobil Martin berhenti di depan panti asuhan yang di asuh oleh Bu Fatimah. Martin dan Aira turun dari mobil dan segera menemui Bu Fatimah.
Bu Fatimah begitu bahagia melihat kedatangan Aira dan Martin, mereka disambut dengan pelukan hangat dari Bu Fatimah yang cukup lama tidak bertemu dengan Aira, sejak kedatangan Aira satu bulan yang lalu.
"Assalamualaikum Bu Fatimah!" sapa Aira sembari mencium tangan Bu Fatimah.
"Waalaikum salam warohmah, Aira! Ya Allah kamu ternyata, Nak! Ibu kangen sekali sama kamu, eh kamu kok agak beda ya! Apa karena kita lama nggak ketemu?" seru Bu Fatimah yang melihat perubahan pada wajah dan fisik Aira.
__ADS_1
"Masa sih, Bu! Saya biasa-biasa saja kok." jawab Aira sembari menatap wajah sang suami.
"Enggak! Ibu merasa kamu udah beda banget sama dulu, sebelum kamu nikah wajahmu terlihat polos dan lugu, sekarang kamu udah kelihatan lebih dewasa dan semakin cantik, eh tapi ada yang beda. Kamu kok pucat gitu, kamu sakit, Nak?"
"Enggak Bu! Aira nggak sakit kok, cuma Aira sedikit nggak enak badan ...!"
"Aira sedang hamil Bu Fatimah!" seketika Martin menyela pembicaraan istrinya, membuat Bu Fatimah sangat terkejut sekaligus bahagia mendengar jika Aira sedang hamil.
"Benarkah itu?" Aira mengangguk dan tersenyum malu.
"Alhamdulillah! Akhirnya doa Ibu terkabul juga, selamat ya, Nak! Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu, derajat wanita akan dimuliakan lebih tinggi oleh Allah daripada pria saat mereka tengah mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya, berbahagialah Aira, sebentar lagi kamu akan merasakan nikmatnya menjadi seorang Ibu, semoga Allah memudahkan segala sesuatu nya, dan semoga Allah memberikan putra shalih dan shalihah kepada kalian berdua."
"Oh ya! Ada keperluan apa kalian datang kemari? Kok tumben malam-malam begini kalian bela-belain datang, pasti ada sesuatu yang penting, ada apa?" rupanya Bu Fatimah sudah merasa jika kami memang sedang membutuhkan bantuan.
"Sebelumya Saya dan Istri minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bu Fatimah, apabila sudah mengganggu ketenangan Bu Fatimah dan panti ini." seru Martin mengawali pembicaraan nya.
"Kalian berdua ini ngomong apa sih? Pintu rumah ini terbuka lebar untuk kalian berdua, cuma Ibu heran saja kok tumbenan datang pas malam gini, ada apa?"
Aira dan Martin saling menatap, kemudian Aira mencoba menanyakan sesuatu kepada Bu Fatimah tentang siapa sebenarnya kedua orang tuanya yang selama ini mengasuhnya hingga akhirnya Aira harus kehilangan mereka dalam tragedi kebakaran yang menewaskan keduanya.
__ADS_1
"Maafkan Saya, Bu Fatimah! Mungkin pertanyaan ini sedikit konyol. Tapi, Saya benar-benar ingin mengetahui yang sebenarnya tentang kedua orang tua Saya! Kalau boleh tahu, siapakah sebenarnya kedua orang tua Saya, Bu?" seketika Bu Fatimah mengerutkan keningnya, kenapa baru sekarang Aira menanyakan tentang siapa sebenarnya kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu baru tanya sekarang, Nak? Bukankah kedua orang tua mu sudah lama meninggal?"
"Tidak, Bu Fatimah! Kedua orang tua Aira masih hidup, Saya kesini hanya untuk memastikan apakah benar Aira lahir dari rahim ibunya yang sudah meninggal itu, karena ada kejanggalan yang menjurus jika Aira adalah anak kandung dari Om Prapto dan Tante Isti." Martin terpaksa memotong pembicaraan mereka, seketika Bu Fatimah menundukkan wajahnya, sudah lama Ia menyembunyikan rahasia ini dari Aira. Sejatinya Bu Fatimah tidak mengetahui siapa sebenarnya kedua orang tua Aira yang sesungguhnya, dirinya hanya tahu jika Aira di rawat oleh pasangan Suami istri yang tidak dikaruniai anak, pasangan Suami istri itu menikah sudah puluhan tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai keturunan oleh yang maha kuasa.
Hingga suatu saat, wanita yang bernama Benazir itu menemukan seorang anak perempuan yang sedang menangis di bawah sebuah pohon, anak itu tampak kebingungan mencari kedua orang tuanya, sementara Benazir yang kebetulan lewat di samping Aira, Ia terlihat kasihan melihat anak sekecil itu menangis sendirian. Sebagai seorang wanita, hatinya terketuk untuk membuat anak itu diam dan tenang.
Bu Fatimah menceritakan semuanya kepada Martin dan Aira, bagaimana bisa Aira menjadi anak dari pasangan suami istri itu, ternyata Aira mereka temukan di bawah pohon sembari menangis tersedu-sedu, karena kasihan akhirnya wanita yang bernama Benazir membawa Aira sembari menggendongnya, saat itu Aira masih berusia sekitar 3 tahun.
Wanita itu membawa Aira kecil pulang, dan anehnya Aira tidak menangis sama sekali saat dibawa oleh Benazir, hingga akhirnya pasangan suami istri itu mengangkat Aira menjadi putri mereka, bahkan Aira sudah dibuatkan akte kelahiran atas nama kedua orang tua barunya sebagai Ayah dan Ibu kandungnya, sehingga seolah-olah Aira adalah anak kandung mereka.
Tak terasa air mata Aira jatuh tak terbendung, ternyata apa yang selama ini Martin curigai benar adanya, Aira bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri yang tewas dalam kebakaran belasan tahun yang lalu.
"Ya Allah! Ternyata Aku bukan anak dari Ayah dan Ibu." tangis Aira pun antara bahagia dan sedih, Martin tampak memeluk istrinya, betapa bahagianya akhirnya Aira bisa berkumpul kembali bersama kedua orang tua kandungnya.
"Aira! Maafkan Ibu, jika selama ini Ibu tidak mengatakan hal yang sebenarnya padamu, Ibu tidak ingin kamu semakin bersedih, maka dari itu Ibu memutuskan untuk menutup rahasia darimu, Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, dan sekarang Allah telah memberimu kebahagiaan yang berlipat ganda, kamu mendapatkan suami yang baik dan tentunya kamu telah bertemu dengan keluarga mu, sungguh Allah itu maha adil, Allah telah menunjukkan keadilannya kepadamu, dibalik musibah yang menimpa mendiang Nak Panji, dibalik kesabaran mu menghadapi musibah ini, Allah telah menggantinya dengan kebahagiaan yang berlipat ganda, Ibu ikut berbahagia untukmu, Aira!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1