
Martin memeluk istrinya penuh keharuan, tangis bahagia tak bisa terelakkan lagi, betapa harunya saat Aira tahu jika dirinya adalah putri kandung dari Isti dan Prapto.
Karena hari sudah malam, Martin memutuskan untuk menginap di panti asuhan sampai esok hari, sembari menenangkan hati Aira yang pastinya gadis itu masih sangat terkejut dengan kenyataan bahwa dirinya masih memiliki orang tua utuh, bukan gadis yatim piatu.
Dalam sujud sepertiga malam, Aira memanjatkan doa kepada sang Kuasa, agar kebahagiaan ini tidak pergi lagi dari hidupnya, buliran bening itu terjatuh pada kedua telapak tangan Aira yang menengadahkan tangannya di atas sajadah panjang itu.
Bibirnya terus mengucapkan istighfar dan rasa syukur nya, buah kesabaran nya selama ini telah menghasilkan sesuatu yang indah, Allah telah memudahkan dirinya untuk bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.
Ya Allah! Hamba sangat berterima kasih sekali atas apa yang telah Engkau berikan kepada hamba, tidak ada kuasa kecuali kekuasaan Mu ya Allah, jadikan lah hamba anak yang berbakti kepada kedua orang tua hamba, berikan lah hamba kekuatan hati saat bertemu dengan mereka lagi, Ayah dan Ibu serta adik hamba, terima kasih ya Allah! Aamiin Aamiin Aamiin.
Martin terbangun saat mendengar suara sang istri yang sedang memanjatkan syukur kepada Allah lewat sujud malamnya, Ia melihat Aira yang sedang duduk menghadap kiblat dan menengadahkan kedua tangannya, dengan suara yang hampir bergetar, wanita itu tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan hari ini kepadanya, dan itu membuat Martin semakin menyayangi istrinya.
Setelah Aira mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian Ia melepaskan mukena yang menutupi seluruh tubuh wanita berparas ayu itu. Tiba-tiba saja disaat Aira merapikan mukenanya seketika Ia dikagetkan dengan Suaminya yang tiba-tiba duduk di belakang nya sembari memeluknya.
"Astagfirullah Mas Martin! Kamu ngagetin aja deh." Aira menepuk lengan suaminya karena dirinya merasa kaget saat Martin tiba-tiba berada di belakangnya.
"Hmm apa kamu bahagia?" tanya Martin saat mendekap tubuh istrinya.
"Kenapa kamu tanyakan itu, Mas! Tentu saja Aku sangat bahagia, terima kasih kamu sudah membantu ku memecahkan misteri ini, jika saja kita tidak bertanya kepada Bu Fatimah, mungkin saja Aku tidak akan pernah tahu bagaimana Aku bisa berada di dalam pengasuhan mereka." jawab Aira.
"Besok kita pulang, dan segera Kita beritahu kan kebenaran ini kepada semua orang termasuk kepada Lita, Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat tahu jika kamu adalah kakak kandungnya sendiri, semoga saja dia bisa menerimanya." ujar Martin sembari menatap wajah sang istri.
Aira mengangguk dan membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami, kemudian Ia memejamkan matanya sembari menghela nafas. Tiba-tiba saja terdengar suara Martin yang membuat Aira seketika mendongak menatap wajah suaminya
"Sayang!"
"Hmm!"
"Kamu sayang Aku nggak sih?"
"Ya sayang dong! Kalau nggak sayang nggak mungkinlah Aku sampai mengandung anak kamu." balas Aira.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu Aku minta tolong sama kamu dong." Martin terlihat memijit-mijit lehernya yang terasa kaku.
"Apa?"
"Pijitin dong! Badanku capek banget tahu nggak sayang, tahu sendiri nyetir tiga jam tuh Capek banget loh, belum lagi besok pagi kita harus kembali pulang, pijitin ya! Nanti Aku pijitan balik deh, Beneran! Ini nih sebelah sini nih capek banget!" rayu Martin sembari membalikkan badannya membelakangi istrinya dengan menepuk-nepuk pundaknya agar Aira mengikuti arahnya untuk memijit pundaknya.
Aira menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya, ada-ada saja rayuan suaminya untuk memijit pundaknya.
"Beneran nih dipijit balik? Kamu nggak bohong kan, Mas?" Aira balik bertanya.
"Ya nggak lah, pasti Aku pijitin nanti, kamu pasti suka dengan pijitan Mas, Mas tahu kamu pasti juga capek." jawabnya santai.
Tanpa pikir panjang Aira pun langsung memijit pundak suaminya, tentu saja Martin begitu menikmati lembut nya pijatan sang istri, benar-benar membuat rileks setelah mengemudi cukup lama di jalan raya.
Hampir setengah jam, saking menikmatinya, Martin terlihat ingin sekali tidur, pijatan Aira membuat pria itu terlena dan ingin memejamkan matanya. Tapi, rupanya Aira tahu jika suaminya hampir saja tertidur, dengan segera Aira menepuk pundak Martin
"Mas! Mas Martin! Kok malah tidur sih, tadi katanya gantian pijitin Aku, gimana sih!" protes Aira sembari menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Seketika Martin membuka matanya dan tersenyum kepada sang istri sembari garuk-garuk kepalanya.
"Ya udah sekarang gantian, katanya tadi mau pijitin Aku." seru Aira sembari membalikkan badannya membelakangi suaminya.
"Loh kok gitu sih!" protes Martin saat Aira membelakanginya.
"Loh kan emang gini, kamu tadi Aku juga pijitin punggungnya sambil duduk, kita impas, kan! Jadi, sekarang kamu juga pijitin punggungku." jawab Aira.
"Ya nggak gitu dong Sayang, kamu kan lagi hamil, pasti kamu lebih capek daripada Aku, kamu berbaring aja, Aku pijitin kamu sambil berbaring biar kamu bisa tidur sekalian." ucap Martin sembari merapikan tempat tidur istrinya.
Aira tersenyum dan menatap wajah suaminya sembari berkata, "Awas ya! Jangan macam-macam, pijitin aja jangan aneh-aneh." ucapnya sembari memperingatkan suaminya.
"Iya iya, Aku nggak bakal aneh-aneh, sudah kamu berbaring di sini " balas Martin sembari tersenyum smirk.
"Beneran?" tanya Aira sekali lagi.
__ADS_1
"Iya bener!" Martin meyakinkan istrinya jika dirinya tidak akan macam-macam. Kemudian Aira pun mulai berbaring di atas tempat tidur mereka, seketika Martin tersenyum bahagia saat istrinya menurut kepadanya.
Awalnya Martin memijit bagian kaki istrinya, Aira pun tersenyum menikmati sentuhan tangan Martin saat memijit kakinya. Ia pun terlihat mulai memejamkan matanya. Lama-lama pijitan Martin mulai naik ke atas sampai paha Aira, dari situ Aira mulai curiga dan waspada jika Martin meraba daerah yang lainnya, karena Aira tahu betul bagaimana sifat suaminya.
Saat itu Aira dalam posisi tengkurap, karena usia kandungan nya yang masih sangat muda, Ia pun masih aman tidur dalam posisi seperti itu, tangan Martin pun bergerak cepat sampai ke punggung istrinya, dan tiba-tiba saja Aira sangat terkejut saat Martin melakukan sesuatu kepada nya. Seketika Aira beranjak bangun.
"Mas Martin!"
Martin tersenyum dan justru pria itu menahan tubuh istrinya agar tidak terbangun.
"Hmm apa sih, sudah nikmati saja!" jawabnya yang berbisik pada telinga Aira yang masih dalam posisi tengkurap. Sementara Martin kini ikut berbaring di samping istrinya sembari menahan Aira untuk bangun.
"Mas, kamu! Katanya cuma pijit, kamu curang!" Aira merasa jika suaminya menginginkan lebih bukan sekedar memijit tubuhnya.
"Apa Mas tidak boleh meminta hak Mas? Kata dokter nggak apa-apa kok, nggak sering -sering juga, lagipula dari beberapa hari ini Mas nggak dapat jatah, kamu nggak kasihan apa? Menderita Sayang!" rengek Martin sembari menatap wajah istrinya dengan sendu.
"Hmm dasar, jadi tadi kamu udah modus ya!" Aira pun membulatkan matanya, sementara Martin terlihat tersenyum lebar saat tahu jika Aira mulai mengerti keinginan nya.
"Di bolehin nih?" Martin kembali merayu Istrinya. Tanpa banyak bicara Aira pun segera mematikan lampu meja yang ada di sebelah tempat tidur mereka.
"Alhamdulillah, terima kasih, Sayang!" ucap Martin yang mulai beraksi dalam suasana gelap itu.
"Hmm, tapi jangan lama-lama, Mas! Sebentar lagi subuh, kita sholat berjamaah." balas Aira yang mulai merasakan tangan suaminya sudah bergerilya di seluruh tubuhnya.
"Hmmm!" hanya jawaban itu yang keluar dari mulut pria yang kini sudah sangat tergila-gila dengan istrinya itu.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
"Mas Martin!!!!!"
Setelah terdengar suara Martin mengucapkan basmalah, seketika ruangan menjadi hening, hanya sesekali terdengar suara nafas yang memburu yang berpacu dengan denting jam dalam kamar yang gelap itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...