ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Belanja sayur


__ADS_3

Setelah beberapa jam, akhirnya Hilda diperbolehkan untuk melihat kondisi sang Ibu, Hilda sangat bahagia akhirnya sang Ibu selamat dan sekarang keadaannya semakin membaik. Perlahan Bu Lilis membuka kedua matanya, Ia melihat sang anak yang sedang duduk di sampingnya sembari menangis bahagia.


"Hilda!"


"Iya, Bu! Ini Hilda, Ibu jangan banyak bergerak dulu, ya! Kondisi Ibu belum kuat benar."


"Hilda! Ibu senang bisa melihatmu lagi, Nak! Kenapa kamu menangis?" seru Bu Lilis yang terkejut dirinya bisa membuka kedua matanya setelah divonis Dokter tumor ganas. Saat itu kondisi Bu Lilis sudah tidak memungkinkan untuk bertahan hidup sampai-sampai dirinya tidak bisa membuka kedua matanya. Namun, sekarang Bu Lilis sudah bisa membuka kedua matanya dan melihat wajah sang putri kembali.


"Hilda juga senang bisa melihat Ibu sehat kembali, ini semua karena Bu Aira, dia yang sudah menyelamatkan Ibu, jika tidak ada Bu Aira, mungkin Hilda tidak akan bertemu lagi dengan Ibu." ucap Hilda sembari memeluk Bu Lilis.


"Aku berjanji akan membayar kebaikan Bu Aira hari ini, Aku akan menebus semua kesalahanku selama ini, Aku tidak akan pernah lagi bekerja sama dengan Mbak Lita, perempuan itu penuh ambisi untuk menghancurkan Bu Aira, dan Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, bagaimana pun juga Bu Aira adalah penyelamat Ibuku." Hilda berkata sembari menangis dalam pelukan sang Ibunda yang kini sudah dinyatakan sembuh dari tumor ganas itu.


*


*


*


Sementara itu, Aira dan Martin sudah tiba di rumah mereka, Martin terlihat begitu memanjakan istrinya, Ia tidak membiarkan Aira berjalan sendiri. Dengan tanggap Martin menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"MasyaAllah, Mas! Kamu tidak perlu begini, Aku bisa kok jalan sendiri." ucap Aira kepada Martin yang saat itu sedang menggendongnya dengan gagah.


"Aku tidak mau kamu capek, Aku juga tidak mau bayi kita kenapa-napa, Aku bukan hanya bertugas menjaga Ibunya tapi juga kedua bayi kembar ku." jawab Martin sembari tersenyum.


"Ya masa kamu harus begini terus sih, Mas! Aku nggak mau terlihat manja, selagi Aku bisa jalan sendiri, Aku nggak mau ngerepotin kamu!" sangkal Aira saat mereka sudah tiba di kamar. Kemudian Martin meletakkan tubuh istrinya dan membaringkannya pelan-pelan.


Setelah Ia membaringkan tubuh Aira, pria itu tampak beranjak berdiri dan mengatakan sesuatu pada istrinya.


"Mulai hari ini, Aku yang akan melayanimu, kamu bisa minta apapun kepadaku, Aku akan siap memberikannya, mengerti! Oh ya dan satu lagi jangan naik turun tangga, itu sangat berbahaya." ucap Martin menasehati istrinya. Aira pun menganggukkan kepalanya agar suaminya senang.


Mulai saat itu Martin begitu sigap jika istrinya membutuhkan sesuatu, kehamilan sang istri membuat pria itu tampak begitu semangat melakukan tugasnya sebagai seorang suami, menyapu, mencuci baju, mengepel bahkan memasak, Martin mulai menggantikan tugas istrinya, sehingga membuat tetangga sekitarnya melihat aneh dan kasihan kepada Martin. Seolah Martin hanya diperalat oleh istrinya.


Ia pun yang menggantikan Aira berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari, sebelum dirinya berangkat ke restoran, Martin menyempatkan diri untuk berbelanja sayur di depan rumahnya, Aira suka belanja sayur di tukang sayur keliling, alasannya Ia tidak mau terlihat mewah, untuk makan sehari-hari cukup menu sederhana yang Ia beli di tukang sayur keliling.


Hingga akhirnya tukang sayur yang ditunggu sudah datang, Martin menghampiri tukang sayur tersebut dan Ia mulai berbelanja sayur dan juga lauk yang biasa dibeli oleh istrinya.


"Itu ayamnya berapa sekilo?" tanya Martin sambil menunjuk pada sebungkus ayam potong.


"Oh tiga puluh ribu, Pak!" jawab si tukang sayur.

__ADS_1


"Oh Saya ambil satu, itu bayam sama jagung saya juga ambil, apalagi ya? Bentar-bentar." Martin terlihat mengeluarkan secarik kertas berisi daftar belanjaan untuk hari ini dan itu tentu saja Aira yang menuliskannya.


"Oh ini ya, terus wortel, timun, bawang merah setengah kilo, bawang putih seperempat, cabe merah, tomat sama bawang Bombay." kata Martin sambil membacakan tulisan pena istrinya. Sementara si tukang sayur sedang melayani Martin, tiba-tiba saja ada beberapa Ibu-ibu yang ikut berbelanja di tukang sayur tersebut. Mereka terkejut melihat Martin yang sedang sibuk memilih sayur.


"Eh ada Pak Martin! Tumben belanja sendiri? Istrinya kemana, Pak?" tanya Bu Bambang. Wanita yang terkenal dengan ratu ghibah di komplek tempat tinggal Martin dan Aira.


"Eh ada Ibu-ibu, iya istri saya ada di rumah, Saya sengaja belanja sendiri, istri saya sedang istirahat." jawab Martin sembari tersenyum kepada Ibu-ibu itu.


"Ya ampun Pak Martin! Kok mau-maunya sih disuruh belanja, itu kan tugas istri, enak banget dong jadi istrinya Pak Martin, bisa bermalas-malasan di rumah, sementara suami yang kalang kabut untuk belanja." kata Bu Bambang sembari memilih-milih sayur.


"Alhamdulillah itu memang rejeki istri saya mendapatkan suami seperti Saya. Saya senang kok bisa berbelanja, lagipula sebenarnya ini adalah tugas suami, bukan hanya berbelanja Ibu-ibu, memasak, mencuci itu sebenarnya tugas Suami, tugas isteri hanya di rumah, dandan, jagain rumah dan memberi anak." jawab Martin dengan tetap menunjukkan senyumnya.


"Aduh Pak Martin! Jangan mau dibodohi oleh istrinya dong! Bisa-bisa istrinya jadi manja loh, hmm lihat nih kita-kita ya Ibu-ibu, setiap pagi selalu berbelanja sendiri, nggak mau ngerepotin suami, kita selalu bertemu dengan sesama tetangga, saling bergurau dan becanda, nggak kayak istrinya Pak Martin tuh, ngumpet mulu di rumah." celetuk Bu Bambang dengan gaya khasnya.


"Istri Saya bukannya ngumpet Ibu-ibu, istri Saya memang jarang berkumpul dengan tetangga, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melayani Saya, kenapa Dia jarang berkumpul dengan tetangga, karena ujung-ujungnya pasti berghibah, dan itu pasti akan menggugurkan pahala kita." jawab Martin sembari menerima belanjaan yang diberikan oleh tukang sayur.


"MasyaAllah Pak Martin! Saya salut sama Pak Martin, punya istri yang shalihah, dan Pak Martin benar-benar suami idaman, nggak malu belanja demi istri, beda atuh sama suami Bu Bambang, demen banget pergi ke Cafe, karaoke sama cewek-cewek cantik, setelah Saya tanya eh jawabannya karena nggak ada istri di rumah, istrinya sibuk main ke rumah tetangga." rupanya ucapan tukang sayur itu membuat reputasi Bu Bambang anjlok seketika.


"Eh dasar tukang sayur kurang ajar, kenapa kamu nggak bilang kalau Suamiku sering ke Cafe, bilangnya sekarang, malu-maluin Aku aja." seru Bu Bambang dengan wajah yang kesal karena dirinya baru mengetahui jika suaminya sering pergi ke Cafe remang-remang.

__ADS_1


"Lah Bu Bambang sendiri loh yang bilang kalau suaminya itu pengusaha sukses, laki-laki idaman, nggak suka main perempuan, nggak pernah kelayapan, jadi ya saya diam saja. Tapi, Saya ndak suka cara Bu Bambang menghina istrinya Pak Martin, emang Bu Aira itu wanita yang shalihah, dia ndak pernah ikut campur urusan tetangga, nggak kayak Bu Bambang tuh, setiap orang di omongin, giliran situ yang diomongin, marah! Heeehh saya juga ikut gedeg!" ucap tukang sayur itu yang sering mendengarkan acara ghibah ibu-ibu yang sedang membeli sayur di gerobaknya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2