ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Hadiah dari Tirta


__ADS_3

Tirta pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, Isti keluar dan menemui Tirta yang hendak mengajak Lita jalan-jalan.


"Assalamualaikum Tante Isti?" sapa Tirta dengan sopan.


"Waalaikum salam Nak, Tirta! Duduklah!"


"Bagaimana kabar Pak Hamid?" tanya Isti.


"Alhamdulillah, Papa baik-baik saja, Tante! Oh ya Tante ini ada bingkisan kecil untuk Tante, Saya mohon Tante mau menerimanya." Tirta tampak menyerahkan sebuah paper bag berwarna hitam kepada Isti.


"Alhamdulillah, apa ini Nak, Tirta? Kamu nggak perlu repot-repot kayak gini. Tante jadi malu." Isti menerima bingkisan kecil itu dan berterima kasih kepada Tirta.


"Nggak apa-apa lah, Tante! Kemarin Saya sempat ingat jika Saya belum memberikan kenang-kenangan dari Mesir untuk Tante, jadi sekalian Saya kesini sembari memberikan hadiah kecil untuk kalian berdua, karena barang itu cocoknya di pakai untuk perempuan, karena Saya tidak punya Ibu atau saudara perempuan, jadi lebih baik saya kasihkan kepada Tante dan Lita saja, semoga kalian suka!" ucap pria berkumis tipis itu.


"MasyaAllah Nak, Tirta! Tante jadi terharu. Terima kasih banyak loh ya, Tante pasti menyukainya?" balas Isti sembari tersenyum. Kemudian Tirta tampak mencari keberadaan Lita.


"Hmm Lita nya ada Tante?"


"Lita? Ada kok ... Tante panggilin ya!" Isti beranjak untuk memanggil Lita yang sedang berada di dalam kamarnya.


"Nggak usah Tante! Biarkan saja, Saya mau nitip ini untuk Lita, maaf jika sudah merepotkan Tante!" ucap Tirta sembari memberikan paper bag berwarna pink kepada Isti untuk diberikan kepada Lita.


"Duh Nak, Tirta! Terima kasih banyak kamu udah ngasih ini semua, pasti nanti akan Tante kasihkan sama Lita ...!" baru saja Isti selesai bicara, tiba-tiba Lita datang menghampiri mereka berdua.


"Nggak perlu ngerayu pake di beri hadiah segala, Aku tidak akan tertarik dengan hadiah darimu, bawa pulang saja!" seru Lita sembari melempar paper bag itu ke arah Tirta.


"Lita! Apa-apaan sih kamu! Kamu udah nggak sopan sama tamu, maafkan Lita ya Nak, Tirta!" Isti tampak mengambil paper bag yang terjatuh di atas lantai setelah Lita melemparkannya kepada Tirta.

__ADS_1


Tirta hanya tersenyum dan memaklumi perlakuan Lita terhadapnya, Ia tahu jika gadis itu sedang patah hati dan membutuhkan obat dengan segera, yaitu obat hati yang bisa menyembuhkan rasa kecewanya terhadap Martin.


FLASHBACK ON


Dalam acara makan malam di hotel itu, Prapto tampak berbicara serius dengan Pak Hamid dan putranya, mereka berencana untuk menjodohkan Lita dengan Tirta, mengingat usia Tirta sudah cukup matang untuk membina rumah tangga, tapi pria itu tidak sempat untuk mencari wanita sebagai pendamping hidup nya, sehari-hari Ia disibukkan dengan urusan kantor dan kantor. Sehingga sang Ayah, Hamid. Berencana untuk mencarikan sang putra seorang istri dan kebetulan mereka bertemu dengan Prapto.


Akhirnya obrolan tentang anak-anak mereka terjadi sebuah kesepakatan jika Hamid dan Prapto akan menjodohkan anak-anak mereka. Prapto berharap Lita bisa segera melupakan dendamnya terhadap Martin dan Aira, dengan kehadiran Tirta yang tentu saja diharapkan bisa mengisi hari-hari Lita yang kecewa karena berpisah dengan Martin.


"Nak Tirta! Om berharap kamu bisa membuat Lita berubah, dia terlalu terhanyut dalam dendang kepada mantan suaminya, yaitu Martin. Pria yang baru saja pulang bersama istrinya." sejenak Tirta mengerutkan keningnya, ternyata mantan kekasih Lita adalah Martin, suami dari wanita yang hampir saja membuatnya tergoda.


"Jadi, mantan kekasih Lita adalah Martin, pria itu. Hmm tentu saja Martin lebih memilih Aira, hanya laki-laki bodoh yang menolak Aira, sungguh beruntung Martin memiliki istri seperti dia, semoga saja Aku bisa merubah Lita, setidaknya sikap dan perilaku nya sama seperti Aira, wanita yang indah dipandang mata, bukan hanya dari kecantikannya tapi dari kerendahan hatinya." gumam Tirta.


"Inshallah, Om! Semoga saja Saya bisa membuat hati Lita menjadi tenang, yang dia butuhkan adalah ketenangan jiwa, Saya akan berusaha untuk merubahnya, Inshallah!" ucap Tirta meyakinkan Prapto dan Isti.


"Alhamdulillah, kami sangat senang! Semoga kamu berhasil membuat Lita jatuh cinta kepadamu, Om akan selalu mendukungmu." Tirta tersenyum kepada Prapto. Kemudian pria berhidung mancung itu berkata dengan lembut, "Meskipun Saya tidak berhasil membuat Lita jatuh cinta, setidaknya Saya akan berusaha membuat Lita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi wanita yang memiliki kerendahan hati, menjadi wanita shalihah, tentunya itu butuh perjuangan ekstra, Om! Jadi, Saya mohon kepada Om untuk bersabar, karena untuk merubah hati menjadi tenang itu butuh waktu yang tidak sebentar, Saya rasa Lita membutuhkan teman untuk berbagi Kelu kesah, Saya akan mencoba masuk ke dalam hatinya, Bismillah semoga Allah meridhoi niat baik Saya!"


"Tante dan Om tidak salah memilihmu untuk menjadi calon suami Lita, semoga Allah meridhoi niat tulus mu!" Tirta tersenyum dan menyetujui rencana perjodohan ini, mengingat dirinya sudah pasrah dengan keputusan sang Ayah, Tirta percaya kepada sang ayah untuk memilihkan jodoh untuknya, dirinya sudah lelah di tolak beberapa wanita hanya karena dirinya kurang macho dan kurang keren.


Tirta memang berwajah cukup tampan, setidaknya wajahnya tergolong sederhana tapi sangat maskulin, sangat jauh jika dibandingkan dengan Martin. Tapi, Tirta memiliki segudang prestasi dan pengalaman yang cukup luas dalam dunia bisnis.


FLASH BACK OFF


"Lita! Aku minta maaf jika kehadiran ku si sini membuatmu tidak suka, baiklah! Aku akan pulang. Tapi, setidaknya terimalah hadiah itu dariku, Aku akan sangat senang jika kamu menggunakannya, semoga bermanfaat. Saya permisi dulu Tante. Assalamualaikum!" ucap Tirta sembari tersenyum dan menundukkan kepalanya kepada Isti dan kemudian pemuda itu segera meninggalkan ruangan itu.


"Waalaikum salam, Nak Tirta tunggu!" Isti mengejar Tirta, dirinya merasa tidak enak karena sikap Lita kepadanya.


"Nak Tirta, Tante minta maaf dengan sikap Lita tadi, Tante mohon Nak Tirta tidak memasukan nya ke dalam hati!"

__ADS_1


"Tante tidak perlu khawatir, Saya mengerti kok, Lita masih butuh waktu untuk menerima kehadiran Saya, biarkan Dia tenang dulu, Saya akan selalu bersabar Tante!" jawabnya dengan tersenyum simpul.


*


*


*


Sementara itu, setelah Martin menutup restoran miliknya, Ia pun segera mengajak sang istri untuk pergi ke dokter.


"Kita ke dokter sekarang!" ucap Martin kepada Aira yang selalu di sampingnya, tapi kini keadaan Aira semakin lemas, Ia pun hanya bersandar pada jok mobil, kepalanya terasa begitu berat, tubuhnya lunglai karena sering kali Ia pergi ke kamar mandi hanya untuk muntah.


"Ya Allah, Mas! Nggak tahu kenapa badanku kok tambah capek banget, kepala ku semakin pusing." mendengar keluhan istrinya, Martin segera melajukan mobilnya sedikit cepat agar segera sampai ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, mereka segera pergi ke dokter langganan mereka. Dokter yang menangani kecelakaan yang menimpa mendiang Panji Nugroho.


"Assalamualaikum dokter!" sapa Martin kepada Dokter yang bernama Ferdy itu.


"Waalaikum salam! Pak Martin. Mari silahkan duduk!" Dokter Ferdy kemudian menanyakan hal apa yang membuat mereka bertemu dengannya.


"Pak Martin! Ada apa gerangan Pak Martin dan istri datang ke sini, semuanya sehat, kan?" tanya dokter muda itu.


"Alhamdulillah Dok! Semuanya sehat. Cuma ada yang membuat Saya memikirkan sesuatu, istri Saya!" Martin menoleh ke arah Aira yang tampak sedikit pucat.


"Nyonya Aira?"


"Iya Dok! Nggak tahu kenapa dari tadi pagi, istri saya merasa mual-mual dan muntah, Saya takut jika terjadi sesuatu kepada nya, Dok!" mendengar penuturan dari Martin, sang Dokter pun tersenyum.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2