ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Tidak ada kata terlambat


__ADS_3

Sementara di tempat lain, setelah Lita kembali sadar, kini keadaan gadis itu berangsur mulai membaik, membuat Prapto dan Isti begitu bahagia melihat Lita yang kini sudah berubah, mungkin kejadian ini sebuah Hidayah untuk Lita agar dirinya bisa memperbaiki diri. Lita meminta maaf kepada kedua orang tuanya, gadis itu benar-benar telah membulatkan tekad untuk berubah, tidak ada kata terlambat, selagi nafas ini masih berhembus, kesempatan untuk bertaubat sangat luas.


"Mama!"


"Iya, Sayang! Apa yang kamu inginkan?" Isti mendekati putrinya.


"Tolong ambilkan Lita jilbab, Ma! Mulai sekarang Lita ingin menutup rambut ini, Lita ingin menjadi muslimah seutuhnya, apakah Lita masih pantas untuk memakai nya, Ma!" ucap gadis itu dengan nada yang gemetar, mendengar penuturan dari sang anak, Isti sangat terharu dan bangga, ternyata Allah telah membuka pintu hati sang putri.


"Alhamdulillah! Mama sangat senang mendengarnya, tidak ada kata terlambat, Lita! Allah senantiasa membuka pintu maaf nya kepada hambanya yang mau bertaubat, Mama bangga padamu, Nak! Akhirnya kamu bisa menerima takdir Allah yang sudah digariskan demi kebaikan kita, Inshallah kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik dan menjadi imam yang baik untukmu." ucap Isti sembari mengusap air mata kebahagiaan yang jatuh dari sudut matanya.


"Mama kamu benar, Lita! Tidak ada kata terlambat, Papa sangat yakin suatu hari nanti kamu pasti juga akan bahagia, Inshallah semua akan indah pada waktunya, percaya lah Nak, ikhlaskan hatimu!" sahut Prapto kepada sang putri.


Kemudian Isti membawakan sebuah jilbab untuk Lita, dengan telaten Isti memakai kan jilbab itu pada kepala sang putri.


"Subhanallah! Kamu lebih cantik jika memakai jilbab ini, semoga kamu selalu Istiqomah, jilbab bukan hanya sekedar penutup kepala, tapi juga sebagai penutup aurat, karena itu adalah kewajiban setiap wanita muslimah, Mama berharap kamu jangan pernah lepas jilbab mu, Nak! Agar kamu terlindungi dari pandangan mata laki-laki yang bukan mahram, jilbab melindungi kita dari hal-hal yang tidak diinginkan." ungkap Isti menasehati sang putri, Lita sedari dulu memang tidak suka memakai jilbab, meskipun kedua orang tuanya sudah mengajarkan demikian, tapi lingkungan teman-teman dan sekitarnya yang membuat Lita nyaman tidak memakai jilbab, apalagi dirinya pernah mengenyam pendidikan di luar negeri.


"Terima kasih, Pa! Lita minta maaf jika selama ini sudah merepotkan Mama dan Papa, Lita menyesal, sekarang Lita mau menjadi wanita baik-baik, Lita ingin membuka lembaran baru, Inshallah Lita akan mengikhlaskan Mas Martin, kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama, Lita harus menerimanya, karena bagaimanapun juga semua ini adalah atas kehendak Nya."


Tentu saja Isti dan Prapto sangat bahagia, akhirnya putri mereka telah kembali ke jalan Allah, seandainya saja putri pertama mereka ada di antara mereka, mungkin semakin lengkap kebahagiaan kedua pasangan itu.


Prapto dan Isti keluar dari ruangan Lita, dan membiarkan Lita istirahat, mereka berdua duduk di kursi tunggu di depan kamar Lita.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya, Pa! Seandainya saja Alesha ada bersama kita, mungkin kebahagiaan kita akan semakin lengkap, Mama sangat rindu sekali dengan Alesha, Pa! Dimana sekarang keberadaan nya?" ucap Isti yang tak sengaja terdengar oleh Tirta yang baru saja datang menghampiri mereka.


Tinggal beberapa jam lagi, hasil tes DNA itu akan segera terlihat, sementara ini Tirta masih merahasiakan tentang tes DNA yang sudah Ia lakukan untuk membuktikan jika Aira adalah putri pertama mereka.


"Tante Isti, Om Prapto! Sebentar lagi kalian akan berkumpul dengan putri kalian, keluarga kalian akan semakin lengkap, Inshallah Aira adalah putri kandung kalian, Kakak nya Lita." batin Tirta sembari membawa minuman untuk keduanya.


"Om dan Tante, ini Saya bawakan minum untuk kalian!" seru Tirta sembari menyodorkan minuman itu kepada keduanya.


"Terima kasih Nak Tirta! Terima kasih banyak atas pertolongan Nak Tirta, Om tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Nak Tirta, Lita pastinya ...!"


"Sudahlah Om! Yang terpenting sekarang Lita sudah sadar dan baik-baik saja, emm apa boleh Saya menemui Lita, Om?" Tirta tampak malu-malu ketika minta izin kepada Prapto.


"Tentu saja, Nak Tirta! Mungkin Lita sedang istirahat, Nak Tirta bisa masuk dan menemuinya." titah Prapto kepada Tirta.


"Ada apa Nak Tirta? Ada sesuatu yang penting, kah?" tanya Prapto serius.


"Iya Om!" jawab nya yang membuat Isti dan Prapto kian penasaran.


"Katakan! Ada apa?"


Tirta menghela nafasnya dan berusaha tetap tenang saat mengatakan hal yang sebenarnya kepada kedua Suami istri itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, Saya tidak sengaja mendengar percakapan Martin dan Aira, kala itu ...!"


Tirta menceritakan semuanya kepada Isti dan Prapto tentang apa yang Ia ketahui jika Prapto dan Isti pernah kehilangan seorang putri saat masih berusia 3 tahun, seketika Isti mulai gemetar saat Tirta menyebutkan bahwa putri mereka masih hidup dan sekarang Ia begitu dekat dengan mereka.


"Alesha, putri Om dan Tante masih hidup dan Om sama Tante sangat dekat sekali dengannya, hanya saja Saya memerlukan bukti yang autentik untuk membuktikan jika dugaan Saya benar, Saya tidak mau berasumsi terlebih dahulu sebelum Saya benar-benar melihat bukti itu turun." mendengar ucapan Tirta, tentu saja Prapto berusaha mendesak tentang bukti yang dimaksudkan oleh Tirta.


"Bukti apa yang dimaksud oleh Nak Tirta?"


"Tes DNA, Om!" jawab Tirta sembari menatap wajah kedua Suami istri itu.


"Tes DNA? Apa maksud Nak Tirta?" Prapto dan Isti benar-benar penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Tirta tentang tes DNA itu.


"Om, Tante! Tinggal beberapa jam lagi, hasil tes itu akan keluar, dan setelah itu kita akan tahu kebenaran nya tentang putri Om dan Tante yang bernama Alesha itu." ujar Tirta.


"Maksud Nak Tirta, siapa yang sudah melakukan tes DNA dengan Saya? Siapa gadis itu?" pertanyaan Prapto membuat Tirta menghela nafasnya.


"Aira!"


Seketika Isti lemas dan tidak percaya jika gadis yang sudah mengingat kan Dirinya kepada Alesha, ternyata gadis itu digadang-gadang sebagai putrinya yang lama menghilang.


"Aira! Aira adalah Alesha?" Isti berkata sembari berkaca-kaca, pantas saja selama Ia bersama dengan Aira, ada getaran aneh yang membuat wanita paruh baya itu serasa sedang bersama putrinya.

__ADS_1


"Maafkan Saya, Tante! Ini hanya dugaan Saya, semoga saja benar, tapi bagaimana pun juga kita tunggu hasil tes DNA itu keluar, untuk benar-benar meyakinkan jika Aira adalah Alesha." ungkap Tirta yang berharap jika hasil tes DNA itu cocok dengan DNA Prapto sebagai ayah biologis Aira.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2