
Mulai hari itu, Hilda bekerja dengan amanah, Ia pun telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Martin mengembalikan kondisi restoran keluarga Nugroho seperti dulu lagi, Ia pun telah memutuskan kerjasama nya dengan Lita. Membuat Lita kian murka, Lita merasa usahanya sia-sia selama ini, ternyata Ia tidak bisa membuat Martin dan Aira berpisah, justru dirinya mendengar berita yang sangat membuatnya benar-benar tidak percaya, jika Aira ternyata sedang mengandung.
"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa perempuan itu hamil, mereka telah melakukannya? Mas Martin benar-benar telah melupakan Aku, ini tidak adil, kenapa Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan Tuhan! Kenapa?" teriak Lita sembari menangis meratapi nasibnya yang sudah kalah dari Aira.
"Lita! Kamu kenapa, Nak! Lita! Buka pintunya Lita, ini Mama sayang! Buka pintunya Lita!" terdengar suara Isti dari luar kamar Lita, tapi sayang, Lita sudah diliputi perasaan kalut, logikanya sudah tidak bisa jernih lagi, yang ada dalam pikirannya hanya mati.
Lita yang berada di dalam kamarnya, tampak sangat kacau, Ia pun melempar semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya, hingga kamar itu terlihat acak-acakan dan berantakan.
__ADS_1
"Aku benci kamu, Mas! Aku benci kalian berdua! Aku tidak mau kalah, Aku tidak mau seperti ini, Aku benci kalian haaaaaaa!" Lita membuang sebuah pot bunga dan Ia lemparkan pada kaca meja rias, tentu saja kaca itu jatuh dan hancur berantakan, Isti yang mendengar suara kaca pecah, dirinya semakin takut dan gugup, Ia takut jika Lita berbuat nekad.
"Lita! Apa yang kamu lakukan, Nak! Kamu jangan macam-macam Lita! Mama mohon buka pintunya Lita!" seru Isti yang terus berusaha membuka pintu kamar Lita yang terkunci dari dalam.
"Ya Allah! Hamba mohon lindungi Putri hamba, jangan biarkan dia nekad melakukan sesuatu ya Allah!" seru Isti yang terlihat semakin gugup, sementara di rumah hanya di rumah sendirian, suaminya pak Prapto masih berada di luar kota. Isti pun memutuskan untuk menghubungi Tirta, wanita paruh baya itu sangat khawatir dengan keadaan putrinya yang terlihat sedang kacau.
"Aku mencintaimu Mas Martin! Aku tidak rela jika kamu mencintai wanita lain, lebih baik Aku mati daripada Aku melihat kalian berdua bersama, ahhhh ...." menetes sudah darah segar yang keluar dari pergelangan Lita, pandangannya mulai kabur, kepalanya mulai terasa berat, dan akhirnya gadis itu terjatuh di atas lantai dengan darah yang mengalir begitu banyak. Dan tak berselang lama terdengar suara pintu yang hendak di dobrak oleh seseorang dari arah luar, benar saja Tirta mendobrak pintu kamar Lita, Ia mendapati Lita yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim Lita! Apa yang kamu lakukan, Ya Allah!" Tirta melihat pergelangan tangan Lita yang sudah berdarah-darah, Ia pun segera mengangkat tubuh Lita yang sudah mulai melemas.
"Lita! Ya Allah, Nak! Apa yang sudah kamu lakukan, Nak Tirta bagaimana ini?" Isti pun terlihat panik dan menangis melihat kondisi Lita yang mencoba melakukan usaha bunuh diri.
"Kita sudah tidak punya banyak waktu, Tante! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Akhirnya hari itu Lita dibawa ke rumah sakit terdekat, agar gadis itu segera mendapatkan pertolongan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...