ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Apakah Aku yang bersalah?


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Tirta dengan sigapnya membawa tubuh Lita yang sudah lemas karena mengeluarkan darah yang sangat banyak, petugas medis segera memberi pertolongan kepada gadis itu, Lita dibawa ke ruang gawat darurat untuk segera mendapatkan pertolongan pertama.


"Maaf Pak! Anda tidak bisa masuk, silahkan tunggu di luar!" titah seorang petugas medis kepada Tirta dan Isti.


Akhirnya Tirta dan Isti menunggu Lita yang sedang ditangani oleh dokter, Isti benar-benar tidak menyangka jika putrinya akan melakukan hak yang nekad seperti itu.


"Ya Allah Lita! Mama tidak menyangka jika kamu akan melakukan hal senekad ini, Nak! Apa yang sedang terjadi denganmu?" ucap Isti sembari duduk menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit, Tirta yang duduk di samping Isti mencoba menanyakan bagaimana awal kejadiannya sampai Lita nekad melakukan hal itu.


"Maaf, Tante! Kalau boleh Saya tahu, sebenarnya awal kejadiannya seperti apa, bagaimana bisa Lita terlihat emosi dan akhirnya memutuskan untuk melakukan hal itu, apa sebelumnya Tante dan Lita bertengkar?" tanya Tirta penasaran.


"Kami tidak bertengkar, Tante juga tidak mengerti, Nak Tirta! Saat itu Lita sedang menerima telepon dari Hilda, sepertinya mereka berdua membicarakan tentang hal yang serius dan itu membuat Lita menjadi emosi, entahlah apa yang sudah mereka bicarakan, yang Tante perhatikan mereka sedang membicarakan tentang Martin, hingga akhirnya Lita masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam, Tante pikir Lita sedang menenangkan dirinya tapi lama-kelamaan kok terdengar suara barang-barang yang dibanting, Tante jadi khawatir, Tante mencoba buka pintunya tapi tidak bisa, Tante sangat panik, akhirnya Tante telepon Kamu, dan ternyata memang benar Lita sedang melakukan percobaan bunuh diri, Tante nggak tahu kenapa tiba-tiba dia melakukannya?" ungkap Isti sambil menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah Tante! Tante tidak perlu bersedih lagi, kita berdoa saja supaya Lita bisa segera mendapatkan pertolongan." balas Tirta yang mencoba menenangkan Isti.


"Terima kasih banyak, Nak Tirta! Kalau Nak Tirta tidak datang secepatnya, mungkin sekarang Tante sudah kehilangan putri Tante lagi, Tante tidak mau merasakan kesedihan di tinggal pergi oleh anak-anak Tante, cukup Tante kehilangan Alesha, Tante tidak mau lagi kehilanganmu Lita." ungkap kesedihan Isti.


Tak berselang lama Prapto datang dengan terburu-buru, Isti pun segera menghubungi suaminya yang berada di luar kota saat melihat keadaan Putri mereka yang sedang mengalami goncangan jiwa dan berusaha mencelakai dirinya sendiri. Prapto segera pulang setelah mendapat kabar jika Lita sekarang berada di rumah sakit.


"Mama ...!


"Pa ... Lita, Pa! Lita!" kata Isti sembari memeluk suaminya.


"Ada apa dengan Lita, Ma? Lita kenapa?" Prapto tampak panik ketika melihat ekspresi wajah Isti yang terlihat begitu sedih.

__ADS_1


"Lita! Mencoba mencelakai dirinya sendiri, Pa! Ia mencoba memutus urat nadinya dengan pecahan kaca, dan sekarang Lita masih di dalam ruangan gawat darurat, dokter masih belum juga keluar, Mama takut sekali, Pa! Mama takut jika terjadi sesuatu kepada Lita, Mama tidak mau kehilangan Putri Mama lagi, Pa! Mama tidak mau!" Isti berkata dengan Isak tangis yang begitu menyayat hati. Bagaimana pun juga Lita adalah putri mereka satu-satunya, meskipun Putri pertama mereka belum diketahui keberadaannya, tapi untuk saat ini hanya Lita yang ada di samping mereka.


"Sudahlah, Ma! Jangan bersedih, kita serahkan semuanya kepada Allah, semoga saja Lita diberikan kesembuhan." ucap Prapto sembari mengusap lembut puncak kepala sang istri. Dan tak berselang lama, dokter pun keluar dari ruangan ICU.


"Dokter! Bagaimana keadaan anak Saya?" tanya Isti yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan putrinya.


"Alhamdulillah! Keadaan putri Ibu sudah melewati masa-masa kritis, tapi Mbak Lita harus melakukan transfusi darah, karena darah yang keluar cukup banyak, maka dari itu kami membutuhkan darah yang cocok untuk Mbak Lita, sementara persediaan darah tipe Mbak Lita di rumah sakit kami sementara kosong, jadi kami harus segera mendapatkan darah itu dengan segera." ucap sang dokter.


"Ambil darah saya saja Dok! Saya Ayahnya." sahut Prapto kepada Dokter.


"Baiklah, Pak! Mari ikuti Saya!" Dan Prapto pun mengikuti perintah Dokter untuk melakukan transfusi darah kepada Lita. Mengingat Lita adalah Putri kandung nya sendiri.


Sementara di waktu yang bersamaan, Martin dan Aira sedang memeriksakan kandungan Aira, hari itu Aira merasa kram pada perutnya, maklum ini adalah kehamilan pertama. Jadi, Aira dan Martin belum berpengalaman dalam menghadapi kehamilan pertama anak mereka.


"Bukan kah itu Tante Isti? Kenapa ada di sini? Siapa yang sakit?" tanya Martin penasaran.


Martin dan Aira pun menghampiri Isti dan Tirta yang sedang duduk menunggu proses transfusi darah Lita.


"Assalamualaikum Tante Isti!" sapa Martin kepada Isti yang tampak sedang bersedih.


"Waalaikum salam, Martin! Kalian ada disini?"


"Iya Tante! Saya dan istri baru saja dari dokter kandungan, memeriksakan kondisi kandungan istri Saya." ungkap Martin sembari menatap.

__ADS_1


"Aira hamil?" Isti menatap wajah Aira yang mengingatkan nya pada putrinya yang bernama Alesha.


"Iya Tante!" jawab Aira dengan tersenyum.


"Alhamdulillah, selamat ya! Tante ikut senang." Isti mencoba tersenyum di depan Martin dan Aira, meskipun dirinya sedang sangat bersedih karena kondisi Lita yang belum sadar.


"Emm ngomong-ngomong, kenapa Tante bisa ada di sini, siapa yang sakit, Tan?" tanya Martin penasaran.


"Lita!" jawab Isti sembari menitikkan air matanya.


"Lita! Apa yang terjadi dengan Lita?" tanya Martin serius.


"Lita mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri dengan memotong urat nadinya." mendengar penuturan dari Isti, Martin maupun Aira sangat terkejut.


"Apa? Lita mencoba bunuh diri, bagaimana bisa, Tante?"


Kemudian Isti menceritakan semuanya kepada Martin bagaimana kronologi nya, dan tentu saja tentang telepon yang didapat dari Hilda sebelum Lita mencoba melakukan usaha bunuh diri.


Martin dan Aira mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh Isti, sejenak Aira menundukkan wajahnya saat mendengar bagaimana hal itu bisa terjadi, ternyata Lita melakukan semua itu karena Ia merasa kecewa dengan sikap Martin, dan hanya Martin yang ada dalam hati Lita. Ternyata Hilda yang awalnya bekerja sama dengan Lita untuk memisahkan Martin dan Aira, ternyata Hilda justru mendukung hubungan Martin dan Aira. Dan itu yang membuat Lita semakin tidak terima. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencoba mengakhiri hidupnya


"Astagfirullahaladzim! Kasihan sekali Lita, Aku bisa bayangkan bagaimana perasaannya, Aku juga seorang wanita, pasti sangat hancur jika melihat orang yang paling dicintai ternyata telah mencintai orang lain. Lantas! Apakah kehadiran ku yang menyebabkan semua ini? Mas Martin dan Lita akhirnya berpisah karena Mas Martin lebih memilih ku? Apakah Aku yang bersalah atas apa yang menimpa Lita sekarang?"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2