
Seperti biasa, pagi ini Aira menyiapkan sarapan untuk sang suami, tiba-tiba saja Ia merasa sedikit pusing, sejak kemarin Aira merasa kurang enak badan, padahal hari ini rencananya dia akan ikut bersama Martin untuk meninjau restoran mereka.
"Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Martin sembari meraih tubuh istrinya yang terlihat lemah itu.
"Nggak tahu, Mas! Tiba-tiba saja kepalaku pusing sekali, dan badanku terasa pegal-pegal." jawabnya dengan nada melemah.
"Ya sudah! Kalau begitu kamu istirahat saja di rumah, kamu terlihat pucat sekali hari ini, atau kita ke dokter sekarang?" tawar sang suami yang tentu saja sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
"Aku tidak apa-apa kok, Mas! Mungkin saja darah rendah ku kambuh, biarkan Aku ikut ya, Mas! Aku mohon!" rengek Aira sembari menarik-narik tangan Martin.
"Sayang! Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, gimana coba?" Martin masih sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya yang kurang fit. Namun, rupanya Aira tetap memaksakan untuk ikut ke restoran.
"Sudahlah, Mas! Aku tidak apa-apa kok, Aku nggak mau terlalu memanjakan penyakit, kalau terlalu dimanja nanti Aku semakin lemas, udah nggak apa-apa, kamu jangan khawatir gitu, dong!" Aira berkata sembari memandang wajah sang suami yang tampak begitu cemas melihat dirinya yang kurang fit.
"Aku khawatir sekali, Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan istriku, Aku pasti ikut sakit jika kamu sakit." kata Martin sendu.
Sungguh pria itu semakin hari semakin mencintai istrinya, Ia merasa sangat terhormat sebagai seorang suami, Aira selalu merendah kepadanya, Ia tidak pernah menolak permintaan suaminya, mereka saling mengingatkan untuk beribadah kepada Allah, dan itu yang membuat Martin sangat nyaman dan semakin mencintainya, hanya saja mereka sekarang sedang mengalami ujian sedikit, yaitu mengenai bisnis restoran mereka yang berada diujung tanduk. Namun, Aira selalu memberikan semangat kepada suaminya untuk selalu tenang dan menyerahkan semua ini hanya kepada Allah. Mudah-mudahan masalah ini bisa segera terpecahkan.
Akhirnya, hari itu juga Martin mengajak Aira untuk pergi ke restoran, Martin dan Aira turun dari mobil, sementara itu pelayan baru yang bernama Hilda, terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan wanita cantik yang sedang bersama Martin, sejenak Hilda memperhatikan penampilan Aira yang serba tertutup, dengan gamis lebar dan panjang, menutupi semua bagian lekuk tubuhnya. Sungguh berbeda dengan Lita, yang selalu berpenampilan modis dan trendy, Lita yang kerap memakai pakaian ketat. Tapi, kenapa Martin lebih memilih Aira daripada Lita.
__ADS_1
"Apa itu istri Pak Martin? Hmm cantik sih, sebenarnya ada kemiripan wajahnya sama Mbak Lita, apa jangan-jangan mereka saudara? Kalau mereka benar-benar saudara, pasti cocok banget. Hanya saja mungkin istri Pak Martin lebih anggun. Ah nggak mungkin lah mereka saudara, mereka seperti langit dan bumi." gumam Hilda yang menganggap jika wajah Aira dan Lita ada kemiripan.
Kemudian Martin membawa Aira masuk untuk melihat-lihat situasi restoran mereka, tampak Hilda menyambut kedatangan Martin dan Aira dengan senyum.
"Selamat pagi Pak, Bu!" sapanya berpura-pura baik.
"Selamat pagi, Hilda! Oh ya kenalkan ini Istriku, Aira!" balas Martin sembari memperkenalkan Aira kepada Hilda.
Kemudian Hilda mengulurkan tangannya dan Aira membalasnya dengan senyuman.
"Kenalkan Bu, Saya Hilda. Senang bisa bertemu dengan Bu Aira!" sapa Hilda berpura-pura baik.
"Gila! Pantas saja Pak Martin lebih memilih Aira daripada Lita, hanya pria bodoh yang menolak pesona Aira, udah cantik, lembut dan shalihah." secara tidak sadar Hilda sudah kagum terhadap sosok Aira, padahal tujuan utama nya adalah membuat hancur usaha Martin sehingga Aira akan meninggalkan Martin dalam keadaan bangkrut.
Sementara Martin masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa pembukuan. Aira berjalan menuju ke arah dapur restoran mereka, tentu saja itu membuat Hilda sedikit khawatir, pasalnya di area dapur itulah, tempat Hilda menyembunyikan sesuatu.
"Em ... Bu Aira mau kemana? Dapurnya masih sangat kotor, Bu! Nanti Bu Aira nggak nyaman di sana!" ucap Hilda menghalangi langkah Aira.
"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin melihat sebentar saja, baru kali ini Aku datang ke restoran milik suamiku, Aku belum mengetahui seluk-beluk di dalam tempat suamiku mengais rezeki, mudah-mudahan usaha kami dijauhkan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan rezeki yang cukup untuk suamiku, karena yang aku dengar, sekarang restoran mulai sepi, maka dari itu Aku meninjau restoran ini." ucapan Aira sontak membuat Hilda sedikit cemas, bagaimana bisa Aira masuk begitu saja ke dapur utama restoran terkenal itu.
__ADS_1
Ada beberapa koki yang sedang mengolah bahan makanan, mereka tampak sibuk dan hanya menundukkan kepalanya saat melihat Aira datang, Aira mendekati sang koki dan melihat apa yang sedang dikerjakannya.
Ia melihat ikan yang sedang dimasak rupanya sudah tidak fresh lagi, dan itu pasti sangat berpengaruh dengan citarasa yang akan mereka sajikan nanti, Aira pun bertanya kenapa ikan seperti itu tetap saja dimasak. Mereka menjawab jika tidak ada persediaan lagi di dalam freezer, mereka terpaksa mengolahnya, karena Martin tidak sanggup membeli bahan-bahan mentah lagi, mengingat pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan.
"Astaghfirullah! Jangan dimasak ikan ini, buang saja. Ikan yang kurang fresh akan berpengaruh terhadap kesukaan konsumen, pantas saja akhir-akhir ini restoran jadi sepi!" ucap Aira sembari mencium bau ikan yang terlihat sudah memucat itu.
"Kami tidak punya pilihan lagi, Bu! Stok bahan mentah di freezer rata-rata semuanya begitu, kami juga tidak tahu bagaimana bisa hal itu terjadi, padahal Pak Martin membelinya masih dua hari yang lalu, harusnya ikan-ikan ini bertahan paling lama lima hari di freezer." ungkap sang juru masak yang tidak mengerti bagaimana kualitas ikan tersebut cepat sekali berubah.
"Kok aneh, ya!" Aira sedikit berpikir untuk mencari akar permasalahannya.
"Ya ... bisa saja kan, Bu! Mungkin Pak Martin membelinya dengan harga murah, tentu saja kualitas ikan-ikan itu yang seperti harganya, jadi cepat busuk." sahut Hilda yang pastinya dia mencoba mempengaruhi Aira untuk percaya padanya.
"Tidak mungkin suamiku membeli dengan kualitas buruk, Mas Martin selalu pilih-pilih dalam membeli bahan makanan, ini benar-benar aneh." batin Aira. Sejenak Aira tiba-tiba merasa ingin mual saat seorang juru masak membuka freezer penyimpanan bahan makanan itu.
Entah kenapa Aira merasa begitu mual ketika freezer itu dibuka, hidungnya seperti sangat peka terhadap sesuatu yang membuat dirinya ingin muntah. Padahal dirinya sudah terbiasa membuka freezer dirumahnya yang tentunya setiap hari Ia pun memaksa untuk suaminya. Tapi, kali ini ada sesuatu yang sangat menusuk hidung, membuat Aira terpaksa berlari ke kamar mandi.
Hilda dan juru masak terlihat menyunggingkan senyumnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1