
"Kita bicara di dalam kantor mu saja, Mas! Di sini sepertinya tidak aman." ucap Aira sembari membawa bungkusan plastik itu. Martin pun mengikuti perintah istrinya, sejenak keduanya terlihat di awasi oleh Hilda yang tak sengaja melihat Martin dan Aira yang sedang membicarakan sesuatu.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya mereka terlihat serius?" sangkanya sembari berpikir tentang apa yang sebenarnya Martin dan Aira rencana kan.
"Hmm semoga saja mereka tidak tahu tentang apa yang sudah Aku lakukan selama ini, jika Aku sudah memberikan obat kimia itu pada semua bahan makanan di sini, tentu saja Aku lebih pintar dari kalian, semua sudut ruangan terdapat CCTV, tapi Aku tidak bodoh. Aku masih bisa mengelabuhi kamera itu, setidaknya tanganku masih bersih, padahal Aku lah yang menyebabkan semua kerugian ini, tamatlah riwayatmu Pak Martin, tentu saja Mbak Lita pasti sangat senang!" gumam Hilda yang sangat percaya diri jika rencana nya itu pasti berhasil.
Setibanya Martin dan Aira di dalam ruangan kantor Martin, Aira tampak mengunci pintu dan segera menanyakan kepada Martin tentang rekaman CCTV pada testoteron mereka.
"Mas! Bolehkah Aku melihat rekaman terakhir CCTV restoran ini?"
__ADS_1
"Tentu saja!"
Kemudian Martin menyalahkan laptop nya dan menunjukkan rekaman CCTV yang diminta oleh Aira. Sejenak Aira mengerutkan keningnya, dalam rekaman tersebut terlihat tidak ada aktivitas yang mencurigakan, tapi kenapa Ia yakin sekali jika ada sesuatu yang ganjil dalam dapur restoran.
"Oh ya, Mas! Kalau boleh Aku usul, sebaiknya kamu pindah saja kamera CCTV nya, jangan letakkan di sana lagi, kalau bisa kamu letakkan di tempat yang tidak mungkin orang sadari, kamu sembunyikan kamera itu agar orang yang lalu lalang tidak bisa melihat nya, karena Aku yakin jika terjadi sesuatu yang aneh di restoran kita, Mas! Ada yang sengaja merusak bahan-bahan mentah itu." Aira menganalisa jika cepatnya bahan-bahan mentah yang membusuk itu adalah sebuah kesengajaan, apalagi setelah menemukan bungkus obat kimia itu, Aira semakin yakin ada oknum yang sengaja ingin merusak citra restoran yang dipimpin oleh suaminya.
"Itu berarti, ada karyawan kita yang sudah berkhianat kepada kita?" Martin menatap wajah istrinya yang terlihat serius. Aira pun mengangguk.
Sejenak Martin berpikir apa yang dikatakan oleh istrinya memang masuk akal, jika Ia memindahkan CCTV, maka ada kemungkinan pelakunya akan terekam kamera, karena sang pelaku pastinya menghindari sorot kamera CCTV yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Kamu benar, Sayang! Astaghfirullah ... kenapa Aku tidak berpikir sejauh itu, Aku sungguh beruntung memiliki istri seperti dirimu, selain cantik kamu juga sangat cerdas, Aku kagum padamu, Sayang!" Martin pun memuji sang istri berkali-kali. Membuat Aira begitu malu-malu.
"Kamu apa-apaan sih, Mas! Itu sudah tugasku sebagai seorang istri, Aku pasti akan membantu suamiku saat berada dalam kesulitan, kamu jangan khawatir, Allah pasti akan melindungi kita, kita harus yakin, Mas! Inshallah semua ini akan cepat terkuak, dan restoran kita akan kembali seperti sedia kala."
Martin menghampiri Istrinya dan segera memeluknya dengan sayang, sesekali Martin mencium kening sang istri dan berkata, "Sungguh bahagianya Aku, kamu adalah malaikatku, bidadari ku, cintaku, Aku berharap akan segera hadir bayi dalam perut ini, semoga Allah segera menghadirkan seorang bayi kepada kita, dan Aku percaya. Jika suatu hari nanti, pasti Ia menjadi anak yang cerdas seperti Dirimu, Aku bersyukur anakku lahir dari rahim seorang wanita yang shalihah dan memiliki Budi pekerti yang luhur seperti Dirimu, Sayang!" Aira begitu tersipu malu mendengar rayuan maut suaminya.
"Hmm sekarang pandai sekali Pak Martin merayuku, udah lupa ya saat dulu bilang, jika kamu tidak akan pernah menyentuhku?" rupanya ucapan Aira membuat Martin sangat malu, Ia mengusap wajahnya kasar, terlihat begitu memerah seperti kepiting rebus.
"Udah dong, Sayang! Jangan ingatkan Aku tentang itu lagi, Aku berdosa banget ngomong gitu sama Kamu, nyatanya sekarang Aku jilat ludahku sendiri, ternyata Aku bodoh banget waktu itu, Syukur lah Aku bisa segera tersadar, jika kamu memang benar-benar istri yang dipilihkan Mas Panji untukku, benar-benar istri idaman!" ucapnya sembari memeluk Aira dengan mesra.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...