ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Pertemuan Aira dan kedua orang tuanya


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Martin dan Tirta menghampiri Isti dan Prapto yang sedang duduk menunggu kedatangan Lita yang sedang pergi ke kamar mandi, tentu saja kehadiran Martin membuat kedua orang itu terkejut.


"Assalamualaikum Tante Isti dan Om Prapto?" sapa Martin sembari mencium tangan Prapto dan memberi salam pada Isti.


"Waalaikum salam, Nak Martin? Bagaimana bisa kamu ada di sini? Kamu datang sendiri atau bersama Aira?" tanya Isti sembari memperhatikan sekeliling, berharap Ia melihat putrinya.


"Iya Tante! Saya datang bersama istri, dan sekarang dia masih berada di kamar mandi, mungkin sebentar lagi dia akan keluar!" jawab Martin.


Sepertinya Isti dan Prapto sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Aira, bagaimana pun juga mereka sudah lama menunggu saat-saat pertemuan nya kembali dengan Aira yang ternyata adalah Putri kandung mereka yang lama terpisah.


"Pa! Mama sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Putri kita, Alesha. Mama ingin memeluknya, pasti dia sangat merindukan pelukan Ibunya, selama bertahun-tahun Alesha hidup jauh dari kita, Mama tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya Ia dulu, Alhamdulillah dia dipertemukan dengan orang-orang baik, sehingga kita bisa berkumpul kembali dengan nya."


"Mama benar! Allah sudah memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan putri kita, ternyata Allah mendengarkan doa-doa kita, Allah pasti mengabulkan doa orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Nya, mengadukan semuanya kepada Allah, karena hanya Allah lah tempat kita meminta pertolongan, dan sekarang Allah sudah memenuhi janjinya, memberikan hambanya kebahagiaan karena selalu bersabar dan tak putus asa dalam berdoa." Prapto merangkul sang Istri, mereka berdua sama-sama merindukan kehadiran putri pertama mereka, berharap akan berkumpul lagi seperti dulu.


Tak berselang lama, mereka dikejutkan dengan dia orang wanita yang sedang berjalan menghampiri mereka, kedua wanita itu terlihat berjalan bersama dan saling tersenyum satu sama lain. Martin dan Tirta saling menatap, keduanya juga ikut tersenyum melihat Aira dan Lita yang sudah kelihatan akur.


"Alhamdulillah! Ternyata mereka berdua sudah berdamai!" ucap Martin sembari tersenyum.


Lita dan Aira semakin mendekati kedua orang tua mereka yang masih belum sadar kehadiran mereka berdua, karena Prapto dan Isti tampak masih harap-harap cemas menunggu kedatangan Aira. Hingga tiba-tiba terdengar suara merdu nan santun yang membuat hati Prapto dan Isti tersentuh.

__ADS_1


"Mama ... Papa! Apa Mama dan Papa tidak merindukan Alesha?" dengan cepat baik Isti maupun Prapto membalikkan badannya dan melihat Aira berdiri di belakang mereka.


Air mata kedua pasangan paruh baya itu mulai membasahi wajah senja mereka, bibir mereka bergetar, tangan mereka mulai bergerak seolah ingin menyambut kedatangan putri mereka.


"Alesha! Putri ku!" Prapto sebagai seorang Ayah sangat bahagia sekaligus terharu melihat kedatangan sang putri, seorang Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama sang putri, nyatanya tak bisa Prapto lakukan, karena keadaan terpaksa Prapto tidak bisa mencurahkan kasih sayang nya kepada Aira. Tanpa pikir panjang Aira berlari menuju kepada kedua orang tuanya, Isti dan Prapto yang sudah sangat merindukan kehadirannya.


Greepp


Aira langsung memeluk kedua orang tuanya dengan penuh haru dan kerinduan, begitu juga dengan Isti dan Prapto yang tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menangis karena terlalu bahagia, akhirnya putri mereka bisa dipertemukan dengan sang putri.


"Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah! Engkau telah melengkapi kebahagiaan kami, Engkau telah pertemukan kami dengan putri kecil kami, semua ini adalah karena kehendak Mu ya Rabb!" Prapto tampak sujud syukur, atas kedatangan sang putri.


Martin dan juga Tirta juga ikut menitikkan air mata, bukan karena cengeng sebagai seorang laki-laki, tapi mereka terharu dengan pertemuan mereka, kasih sayang kedua orang tua itu memang dahsyat, doa mereka bisa tembus ke langit dan di Amini oleh para malaikat, hingga akhirnya doa Isti dan Prapto terkabul, akhirnya mereka bisa berkumpul kembali bersama.


Lita melihat kebahagiaan di mata kedua orang tuanya, sungguh pemandangan yang paling indah yang pernah Ia lihat, pertemuan itu membuat dirinya bersyukur, bagaimana pun juga Ia masih beruntung bisa dibesarkan dalam keluarga yang utuh, Mama dan Papanya selalu ada untuk dia, sedangkan sang Kakak harus berjuang tanpa kasih sayang dari orang tua nya, dan itulah yang membuat Lita semakin salut kepada Aira.


Lita mendekati mereka, Ia pun turut memeluk sang Kakak. Betapa bahagianya mereka dipersatukan kembali dalam keluarga yang bahagia.


"Lita bahagia, akhirnya Mama dan Papa bisa bertemu lagi dengan Kak Alesha, semoga keluarga kita semakin diberkahi Allah, dan tentu nya Lita sudah mengikhlaskan Mas Martin, Lita hanya berharap kepada Allah, bukan kepada makhluk. Lita yakin Lita akan mendapatkan kebahagiaan, Allah sudah mengatur semua, jodoh, maut dan rejeki hanya Allah yang tahu." ucapan Lita di timpali oleh sang Kakak.

__ADS_1


"Kakak yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk mu, Inshallah jodoh itu akan datang secepatnya, kamu gadis yang baik dan Shalihah, dan jodohmu juga pasti pria yang baik dan Soleh, karena jodoh adalah cerminan diri kita."


Lita melirik ke arah Tirta yang sedang tersenyum kepadanya, Ia tahu jika Tirta akan datang menghampirinya. Dan benar saja Tirta berjalan menghampiri kedua orang tua Lita sembari menggandeng tangan Lita.


"Eh Mas Tirta mau apa?" tanya Lita yang bingung apa yang akan dilakukan oleh Tirta.


"Sudah! Jangan banyak tanya!" Tirta membawa Lita menghadap Isti dan Prapto.


"Tante Isti dan Om Prapto! Saya hanya ingin mengatakan sesuatu kepada Om dan Tante tentang Saya dan Lita!" Tirta mencoba memberanikan diri untuk mengatakan nya langsung di hadapan Isti dan Prapto bahwa dirinya meminta izin untuk mempersunting Lita untuk menjadi istrinya.


"Ada apa Nak Tirta? Katakan?" tanya Prapto penasaran.


Sementara itu Lita terlihat malu-malu, ternyata Tirta langsung mem-ptaktek kan omongan nya tadi, bahwa Ia bersungguh-sungguh meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk melamar Lita.


"Saya minta izin kepada Tante dan Om, untuk Melamar Lita menjadi istri Saya! Apakah Om dan Tante mengizinkan Saya menjadi suami putri Om dan Tante?" ucap Tirta yang membuat Prapto dan Isti tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah, itu yang selama ini Tante dan Om ingin dengar, Om sangat berharap kamu bisa menjadi imam untuk Lita, karena kami sangat yakin sekali jika Nak Tirta adalah pemuda yang tepat untuk Lita, Nak Tirta pasti bisa membuat Lita semakin baik, Inshallah. Dan kami sangat mengizinkan Nak Tirta untuk menjadikan Lita sebagai istrimu, Om ikhlas karena Om yakin Nak Tirta bisa menggantikan tanggung jawab Om sebagai orang tua nya, Inshallah Nak Tirta pasti bisa."


"Alhamdulillah, akhirnya kedua putri ku mendapatkan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab!" ucap Isti sembari di iringi pelukan dari Aira dan Lita.

__ADS_1


__ADS_2