
Setelah mereka berdua beristirahat sejenak, Martin pun mulai melanjutkan perjalanan nya kembali menuju rumah, Aira pun sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya, Isti dan Prapto.
"Mas! Kok Aku ngerasa deg-degan, ya! Padahal kemarin-kemarin Aku sudah bertemu dengan mereka." ujar Aira.
"Kamu yang tenang, Mas tahu bagaimana perasaan mu, Alhamdulillah akhirnya kamu bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tua mu, Mas sangat bahagia sekali, Mas yakin Tante Isti dan Om Prapto pasti juga ikut senang saat mengetahui bahwa kamu adalah putri mereka." balas Martin sembari terus menggenggam tangan sang istri.
"Lita? Bagaimana dengan Lita, apakah dia akan menerima diriku sebagai kakaknya? Mas tahu sendiri, bagaimana Lita sangat membenci ku, Aku sudah merebut mu darinya, Aku Kakak yang jahat nggak sih, Mas?" seketika Martin menghela nafasnya, Ia juga berharap Lita bisa menerima kenyataan bahwa Aira adalah kakak kandungnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Kamu bukan kakak yang jahat, semua ini sudah digariskan oleh sang Kuasa. Kita memang dipertemukan bukan karena cinta, tapi jika Allah menghendaki apapun bisa saja terjadi, jodoh, maut, rejeki itu sudah Allah garis kan, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah pada Lita, kenyataan kami bukanlah jodoh, sudah ya! Mas tidak mau lagi mendengarkan mu menyalahkan diri, sekarang yang terpenting adalah kita harus tetap melangkah untuk masa depan, Aku, Kamu dan anak-anak kita, kamu mengerti, kan! Aku sangat menyayangimu, Sayang!" Martin berkata sembari mencium punggung istrinya penuh kasih, Layaknya orang yang sedang pacaran, Martin terus meletakkan tangan Aira di atas dadanya, sembari dirinya lurus menyetir mobil.
Aira tersenyum dan menatap sang suami dari arah samping, Aira terus memandangi wajah tampan sang suami, sehingga Martin merasa kikuk saat Aira memandangi nya seperti itu.
"Kenapa sih lihatin terus? Apa Aku terlihat ganteng dan keren, iya kan?" seloroh Martin yang membuat Aira tertawa kecil.
"Eh malah ketawa lagi," Martin melihat Aira yang sedang menertawakan dirinya.
__ADS_1
"Kamu tuh ya, masih ingat nggak sih dulu kamu tuh benar-benar nggak mau nengok Aku loh, Mas! Aku ini kayak sesuatu yang nggak berharga banget di matamu, udah gitu jutek banget lagi." celetuk Aira yang seketika membuat Martin malu.
"Udah dong Sayang, jangan ingetin itu lagi, waktu itu Aku masih bodoh sebodoh-bodohnya, mataku ini masih buta, Allah sudah baik ngasih istri bak bidadari, Aku nya yang masih tertutup mata ini, Astaghfirullah! Maafkan Aku, Sayang! Andai Aku bisa memutar momen itu kembali, Aku ingin mengembalikan waktu yang ku buang sia-sia, membiarkan mu menangis sangatlah membuatku tersiksa," ungkap Martin menyesal.
"Aku juga minta maaf sama Kamu, Mas!"
"Untuk apa?"
"Aku sudah membuat mu jatuh cinta padaku, padahal Aku hanya ingin membuat mu sadar jika perjodohan kita adalah sebuah wasiat bukan kesepakatan seperti yang kamu bilang padaku." tutur Aira.
"Aamiin, jangan pernah tinggalkan Aku, Mas! Sudah cukup Aku kehilangan Mas Panji, Aku tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya." Aira menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami, sekilas Martin mencium kening istrinya.
"Hanya laki-laki yang bodoh meninggalkan istri shalihah seperti mu, Sayang!"
Sebuah perjalanan yang romantis, Aira dan Martin terlihat semakin mesra, tangan Martin tak pernah lepas dari tangan sang istri, entahlah pria itu beberapa hari ini merasa ingin sekali berada di dekat Istrinya, atau sekedar menggandeng tangan Aira, itu sudah cukup membuat Martin tenang. Mungkin juga bawaan dari bayi mereka, bukan Aira yang terlihat manja, tapi Martin yang manja, Ia tak mau sedetik pun ditinggal oleh sang Istri, bahkan ke kamar mandi pun, Martin wajib ikut.
__ADS_1
Setelah beberapa jam lamanya, Martin dan Aira tiba di rumah, akhirnya mereka bisa lega kembali pulang dengan selamat.
"Alhamdulillah kita sudah sampai."
"Iya, Mas! Aku mau mandi dulu, badan udah lengket semua." pamit Aira saat dirinya turun dari mobil. Tiba-tiba saja sang suami meminta izin untuk ikut serta ke dalam kamar mandi.
"Aku ikut!" sahut Martin dengan cepat.
"Ikut? Ikut mandi juga?" tanya Aira sembari menatap wajah suaminya. Martin mengangguk kesenangan.
"Hmm ya sudah! Tapi awas jangan nakal loh, ya!" kata Aira mengingatkan kepada suaminya.
"Enggak lah, Aku anak yang nurut Kok, nggak bakalan aneh-aneh, paling cuma mandi biasa doang, bukan kah Sunnah kita mandi bersama dengan istri." jawab Martin sembari tersenyum smirk. Ada saja alasan tepat Martin untuk bisa selalu berdua dengan sang istri. Tentu saja Aira tidak bisa menolaknya.
"Beneran ya! Mandi doang, Awas kalau Mas Martin macem-macem, Aku kasih hukuman entar." mendengar penuturan dari sang istri, Martin pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Siap Bos!" jawabnya dengan tersenyum.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...