ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Kedatangan Tirta


__ADS_3

Hari itu juga, Martin menyuruh orang untuk memindahkan letak kamera CCTV, tapi Martin memerintahkan kepada orang tersebut untuk memasangnya saat semua karyawan sudah pulang. Seharian ini Aira menemani suaminya di restoran, memperhatikan bagaimana cara kerja para karyawannya.


Setidaknya ada perubahan saat Aira datang ke restoran itu, masakan yang disajikan benar-benar dalam keadaan fresh dan tentunya Aira juga yang mengawasi bagaimana juru masak mereka berkerja di dapur, dan itu menyulitkan Hilda untuk melakukan tugasnya yaitu membuat masakan menjadi buruk.


"Sialan! Rupanya kedatangan perempuan ini bisa membuat ku gagal untuk melakukan tugas, ini tidak boleh, Aku harap perempuan ini tidak mengganggu rencana ku, tinggal sedikit lagi, jika seperti ini terus. Maka, tidak menutup kemungkinan jika pelanggan mereka akan berdatangan lagi, ah payah!" umpat Hilda dengan kesal. Gadis itu terlihat memperhatikan Aira yang sedang mengecek semua bahan-bahan mentah yang berada di dalam freezer, karena hidung Aira peka sekali saat freezer dibuka, Ia pun mengenakan masker. Aira di dampingi oleh suami tercinta.


Sampai malam tiba, restoran yang buka dari jam sepuluh pagi hingga jam tujuh malam pun, akhirnya hari itu mengakhiri aktifitas di dalamnya, satu persatu karyawan mulai beranjak pulang, termasuk Hilda.


Ia bersiap-siap untuk segera pulang, karena dirinya tengah merawat sang Ibu yang sedang sakit. Hari itu Hilda sedikit terburu-buru sehingga Ia tak sengaja menjatuhkannya obat kimia yang persis sekali dengan dengan bungkusan yang ditemukan oleh Aira, tak sengaja Aira melihat obat itu tergeletak di atas lantai. Namun, Hilda sudah pergi pulang.


"Astaghfirullah! Apa ini ... hmm kenapa tiba-tiba perutku terasa mual sekali." Aira tiba-tiba merasa ingin muntah saat mencium aroma obat itu, Ia pun meletakkannya kembali di atas meja dapur sebelah kompor. Sementara itu Hilda yang sedang memeriksa tasnya, tiba-tiba dia mencari sesuatu yang hilang dari tasnya, yang tak lain adalah obat kimia itu.


"Aduh! Gawat, obat itu pasti ketinggalan di dalam, biar ku ambil lagi, bisa-bisa ketahuan nanti kalau Pak Martin menemukannya." ucap gadis itu sembari berlari kecil menuju ke arah dapur.


Sesampai di dapur, Hilda berkeliling mencari keberadaan sesuatu yang Ia cari, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah botol kecil yang terletak di atas meja dapur di dekat kompor.


"Itu dia!" Hilda pun segera beranjak mengambil obat itu dan setelahnya Ia pergi meninggalkan restoran dengan segera, sementara Aira masih menenangkan dirinya, entah kenapa tiba-tiba saja dirinya begitu mual ketika mencium aroma dari obat itu, sama halnya saat dirinya mencium aroma freezer yang tak jauh beda rasanya, seolah perutnya terasa di aduk-aduk.


Tak berselang lama Aira keluar dari kamar mandi, Ia pun memakai masker sebelum dirinya mengambil obat itu kembali. Namun, saat dirinya tiba di tempat itu, Aira sudah tidak mendapati obat tersebut, ada seseorang yang sengaja mengambilnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kemana obat itu? Perasaan tadi ada di sini? Ini tidak salah lagi, pasti ada yang sengaja melakukan sabotase, Aku harus mengetahui siapa sebenarnya yang sudah berkhianat kepada Mas Martin!" ucapnya penuh keyakinan.


Setelah Hilda sampai di jalan depan, sambil menunggu taksi datang Ia pun tampak sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya. Tentu saja nomor yang dituju adalah Lita.


"Halo! Mbak Lita!" Ini Saya Mbak, Hilda."


"Hilda! Bagaimana, kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik?"


"Sudah, Mbak! Tapi, hari ini ada gangguan sedikit."


"Apa maksudmu?"


"Apa?"


"Iya, Mbak! Nggak tahu kenapa tiba-tiba saja Bu Aira memeriksa kondisi dalam freezer dan dapur, untung saja Saya bisa antisipasi, Mbak! Sepertinya Bu Aira mulai curiga."


"Sialan! Rupanya perempuan itu sudah berani mencampurinya urusanku, dia sudah merebut Mas Martin dariku, sekarang tidak akan Aku biarkan dia menggagalkan rencana ku."


Lita menutup ponselnya dan Ia terlihat begitu emosi, sementara sang Ibu yang berada di sampingnya, terlihat menegur dan berkata kepada sang anak, "Lita! Sudahlah, Nak! Buat apa lagi kamu mengganggu hubungan mereka, jangan siksa dirimu sendiri, kamu juga berhak bahagia. Biarkan Martin dan Aira menjalani hidup mereka, jangan biarkan dirimu jatuh dalam dendam mu sendiri, itu akan membuat mu menyesal nantinya. Jangan kotori tangan mu dengan tindakan kriminal, Mama tidak menyukainya. Berhenti melakukan itu Lita. Mama tidak ridho putri Maka berbuat jahat kepada orang lain, nanti di akhirat Mama dan Papa pasti yang menanggung beban dosa yang dilakukan oleh anaknya, apalagi kamu belum menikah. Kamu tidak kasihan kepada Mama dan Papa?" ungkap Isti berharap sang anak bisa sadar tentang apa yang sudah dilakukannya.

__ADS_1


Lita terlihat diam saja, apa yang dikatakan oleh sang Ibu memang benar, dirinya memang tersiksa sekali dengan keadaan ini, tapi Ia juga masih sakit hati terhadap keputusan Martin yang sudah mengecewakan hatinya. Tapi, Lita masih tetap tidak rela melihat Martin dan Aira bahagia, itulah yang menyebabkan dirinya nekat berbuat itu dengan menyuruh Hilda untuk membuat restoran Martin dijauhi pelanggan setianya.


Hingga akhirnya sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah keluarga Prapto Suherman, seorang laki-laki tampan itu mulai turun dari mobil dan berjalan menuju rumah utama keluarga Suherman.


Tak berselang lama seorang pelayan datang menghampiri Lita dan Isti.


"Maaf, Nyonya! Di luar ada Mas Tirta."


"Tirta! Hmm baiklah, bilang padanya Lita akan segera menemuinya." Isti terlihat senang, Isti dan Prapto mencoba menjodohkan Lita dengan Tirta, pria lulusan universitas di Mesir, Kairo. Pria itu mendapatkan predikat sebagai mahasiswa yang cerdas di sana, Isti dan Prapto berharap Tirta bisa membuat hati Lita untuk segera sadar dari segala dendamnya kepada Martin, mengingat Tirta adalah sosok pemuda yang memiliki karakter lembut dan berharap bisa meluluhkan hati Lita yang membatu.


"Tuh Lita! Nak Tirta sudah datang, sudah cepat temui dia!" kata Isti kepada Lita yang masih acuh terhadap Tirta.


"Untuk apa sih, Ma! Aku tuh nggak suka sama dia." jawabnya


"Tirta itu pemuda yang baik, cerdas dan juga seorang pebisnis. Mama yakin dia pasti cocok sama kamu." ucap Isti.


"Cocok? Tidak ada yang bisa mengalahkan Aku, Ma! Aku ingin tahu seberapa besar kemampuannya dalam berbisnis, dia bukan lulusan LA, hanya lulusan Mesir. Pastinya dia hanya pintar dalam satu bidang saja, tapi untuk urusan bisnis, Aku yakin dia tidak kompeten." Lita tampak meremehkan Tirta yang pada dasarnya dirinya memang bukan lulusan LA.


"Jangan bicara seperti itu, standar kemampuan seseorang tidak dilihat dari segi kelulusan atau strata dari pendidikannya, tapi dari pengalamannya dan kecerdasannya, Mama berharap kamu tidak menyesal telah berkata seperti itu, Lita! Karena Mama yakin suatu hari nanti kamu akan menyesal telah mengatakan hal itu." ucap Isti sembari menatap wajah sang anak.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2